MAKALAH ULUMUL QUR’AN
WAHYU DAN PROSES TURUNNYA
AL-QUR’AN
Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Ulumul
Qur’an
DOSEN PENGAMPU :
DISUSUN OLEH :
HANDI PRANATA
Program Studi : Ekonomi Syariah
INSTITUT AGAMA ISLAM NUSANTARA
ASH-SHIDDIQIYAH
TAHUN
AKADEMIK 2026
Jl.
Lintas Timur Desa Lubuk Seberuk Kecamatan Lempuing Jaya
Kabupaten
Ogan Komering Ilir
Sumatera
Selatan
30657
KATA PENGANTAR
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ
الرَّحِيْمِ
Puji
syukur ke hadirat Allah Swt. atas segala rahmat, taufik, dan hidayah-Nya
sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Wahyu dan Proses
Turunnya Al-Qur’an”. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada
Nabi Muhammad saw., keluarga, para sahabat, dan seluruh umatnya yang istiqamah
mengikuti petunjuk beliau.
Makalah ini disusun untuk memberikan pemahaman mengenai
konsep wahyu dalam perspektif Ulumul Qur’an, cara-cara penyampaian wahyu kepada
Nabi Muhammad saw., serta proses turunnya Al-Qur’an secara bertahap selama
kurang lebih dua puluh tiga tahun. Pembahasan ini penting karena pemahaman
terhadap proses pewahyuan menjadi salah satu dasar untuk memahami sejarah,
karakteristik, dan fungsi Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi kehidupan manusia.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih memiliki kekurangan,
baik dari segi kedalaman pembahasan maupun penyajiannya. Oleh karena itu,
kritik dan saran yang konstruktif sangat diharapkan demi perbaikan karya ilmiah
pada masa yang akan datang. Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi
penulis dan pembaca dalam memperluas wawasan keislaman, khususnya dalam bidang
Ulumul Qur’an.
Lubuk Seberuk, Juni 2026
Penulis
DAFTAR ISI
DAFTAR ISI
WAHYU DAN PROSES
TURUNNYA AL-QUR’AN
E. Hikmah Diturunkannya
Al-Qur’an Secara Bertahap
F. Relevansi Memahami Proses
Pewahyuan bagi Studi Al-Qur’an
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Al-Qur’an merupakan sumber utama ajaran Islam dan menjadi
pedoman hidup bagi umat manusia. Dalam keyakinan Islam, Al-Qur’an adalah kalam
Allah Swt. yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. melalui perantaraan
Malaikat Jibril untuk disampaikan kepada umat manusia. Karena itu, pembahasan
mengenai wahyu dan proses turunnya Al-Qur’an merupakan bagian yang sangat
penting dalam studi Ulumul Qur’an.
Istilah wahyu memiliki kedudukan fundamental dalam bangunan
keilmuan Islam. Melalui wahyu, manusia memperoleh petunjuk ilahi yang tidak
dapat diperoleh hanya melalui kemampuan akal dan pengalaman empiris. Wahyu
menjadi sarana komunikasi antara Allah Swt. dengan nabi dan rasul-Nya dalam
rangka menyampaikan petunjuk, hukum, berita, peringatan, dan kabar gembira
kepada manusia. Dalam konteks Al-Qur’an, wahyu bukan sekadar informasi yang
disampaikan kepada Nabi Muhammad saw., melainkan juga merupakan proses ilahi
yang membentuk dasar risalah Islam.
Al-Qur’an tidak diturunkan sekaligus dalam satu waktu,
tetapi secara berangsur-angsur sesuai dengan kehendak Allah Swt. dan kebutuhan
dakwah Nabi Muhammad saw. Proses tersebut berlangsung selama kurang lebih dua
puluh tiga tahun, meliputi periode Makkah dan Madinah. Turunnya Al-Qur’an
secara bertahap memiliki berbagai hikmah, antara lain menguatkan hati
Rasulullah saw., memudahkan proses hafalan dan pemahaman, menjawab persoalan
yang muncul di tengah masyarakat, serta membentuk umat secara bertahap.
Pemahaman yang benar tentang wahyu dan proses turunnya
Al-Qur’an juga penting untuk menghindari kesalahpahaman mengenai sejarah
pewahyuan. Al-Qur’an sendiri menjelaskan bahwa ia diturunkan secara bertahap agar
dibacakan kepada manusia secara perlahan dan penuh ketelitian. Dengan demikian,
kajian tentang wahyu tidak hanya bersifat historis, tetapi juga berkaitan
dengan aspek teologis, pedagogis, sosial, dan metodologis dalam memahami
Al-Qur’an.
Berdasarkan uraian tersebut, pembahasan mengenai pengertian
wahyu, cara turunnya wahyu, proses pewahyuan Al-Qur’an, serta hikmah
diturunkannya Al-Qur’an secara bertahap menjadi tema yang penting untuk dikaji
secara sistematis.
B.
Rumusan Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan
wahyu?
2. Bagaimana cara-cara turunnya
wahyu kepada Nabi Muhammad saw.?
3. Bagaimana proses turunnya
Al-Qur’an?
4. Apa saja hikmah diturunkannya
Al-Qur’an secara bertahap?
C.
Tujuan
1. Menjelaskan pengertian wahyu
dalam perspektif Ulumul Qur’an.
2. Menjelaskan cara-cara
penyampaian wahyu kepada Nabi Muhammad saw.
3. Menguraikan proses turunnya
Al-Qur’an secara bertahap.
4. Menjelaskan hikmah
diturunkannya Al-Qur’an secara berangsur-angsur.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Wahyu
Secara bahasa, wahyu berasal dari kata Arab الوحي (al-waḥy)
yang secara umum mengandung makna pemberitahuan secara cepat dan tersembunyi.
Dalam penggunaan bahasa Arab, kata wahyu dapat menunjuk kepada isyarat, ilham,
bisikan, pemberitahuan, atau penyampaian suatu pesan secara rahasia. Dalam
terminologi keagamaan, wahyu memiliki makna khusus, yaitu pemberitahuan Allah
Swt. kepada nabi atau rasul mengenai sesuatu yang dikehendaki-Nya dengan cara
tertentu.
Dalam konteks kenabian, wahyu merupakan komunikasi ilahi
yang diberikan Allah Swt. kepada nabi dan rasul sebagai petunjuk bagi dirinya
dan umat yang menjadi sasaran risalahnya. Wahyu berbeda dari pengetahuan
manusia yang diperoleh melalui pancaindra, akal, pengalaman, atau proses
belajar. Wahyu bersumber dari Allah Swt. dan memiliki otoritas tertinggi dalam
ajaran agama.
Al-Qur’an menegaskan bahwa Allah Swt. menyampaikan wahyu
kepada manusia melalui beberapa bentuk komunikasi yang dikehendaki-Nya. Prinsip
tersebut dijelaskan dalam QS. al-Syūrā [42]: 51, yang menerangkan bahwa tidaklah
patut bagi seorang manusia bahwa Allah berbicara kepadanya kecuali melalui
wahyu, dari balik tabir, atau dengan mengutus seorang utusan lalu diwahyukan
kepadanya dengan izin Allah apa yang Dia kehendaki.
Berdasarkan penjelasan tersebut, wahyu dapat dipahami
sebagai proses penyampaian pesan ilahi yang memiliki karakteristik khusus.
Wahyu bersifat transenden karena berasal dari Allah Swt., bersifat otoritatif
karena menjadi sumber petunjuk, dan disampaikan melalui mekanisme yang tidak
dapat disamakan dengan komunikasi manusia biasa.
Dalam studi Ulumul Qur’an, istilah wahyu juga berkaitan erat
dengan proses nuzūl al-Qur’ān atau turunnya Al-Qur’an. Oleh karena itu,
pembahasan wahyu tidak dapat dipisahkan dari pembahasan mengenai Malaikat
Jibril sebagai pembawa wahyu, Nabi Muhammad saw. sebagai penerima wahyu, serta
proses penyampaian dan penerimaan Al-Qur’an.
B.
Cara Turunnya Wahyu
Wahyu kepada Nabi Muhammad saw. disampaikan melalui beberapa
cara. Para ulama Ulumul Qur’an dan hadis menjelaskan bahwa bentuk-bentuk
penyampaian wahyu kepada Rasulullah saw. memiliki karakteristik yang beragam.
Keragaman tersebut menunjukkan kebesaran dan kekuasaan Allah Swt. dalam
menyampaikan pesan-Nya kepada nabi pilihan-Nya.
1. Mimpi yang
benar. Sebelum
menerima wahyu dalam bentuk yang lebih langsung, Nabi Muhammad saw. mengalami
mimpi-mimpi yang benar. Apa yang dilihat dalam mimpi tersebut kemudian terjadi
sebagaimana adanya. Mimpi yang benar bagi nabi bukan sekadar pengalaman
psikologis biasa, melainkan bagian dari bentuk komunikasi ilahi.
2. Suara seperti
bunyi lonceng. Salah
satu bentuk wahyu yang paling berat bagi Nabi Muhammad saw. adalah wahyu yang
datang seperti suara lonceng. Setelah suara tersebut berakhir, Nabi saw.
memahami dan menghafal pesan wahyu yang disampaikan kepadanya. Bentuk ini
menunjukkan beratnya pengalaman menerima wahyu.
3. Malaikat Jibril
hadir dalam bentuk manusia. Malaikat
Jibril a.s. kadang-kadang datang kepada Nabi Muhammad saw. dalam bentuk seorang
laki-laki. Dengan cara ini, komunikasi berlangsung dalam bentuk yang lebih
mudah dipahami oleh manusia, meskipun hakikatnya tetap merupakan penyampaian
wahyu dari Allah Swt.
4. Malaikat Jibril
datang dalam bentuk aslinya. Pada
kesempatan tertentu, Nabi Muhammad saw. melihat Malaikat Jibril dalam bentuk aslinya.
Peristiwa ini menunjukkan adanya pengalaman spiritual yang sangat agung dan
menjadi bagian dari tanda-tanda kebesaran Allah Swt.
5. Allah
menyampaikan wahyu dengan cara yang dikehendaki-Nya. Al-Qur’an juga menjelaskan
kemungkinan komunikasi Allah Swt. kepada manusia melalui wahyu secara langsung
atau dari balik tabir, sesuai dengan kehendak dan kebijaksanaan-Nya. Dalam
konteks Nabi Muhammad saw., bentuk komunikasi ilahi berlangsung dengan cara
yang sesuai dengan kedudukan beliau sebagai penerima risalah.
C.
Proses Turunnya Al-Qur’an
Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. secara
bertahap selama kurang lebih dua puluh tiga tahun, sejak awal kenabian hingga
menjelang wafatnya Rasulullah saw. Periode tersebut secara umum dibagi menjadi
dua fase besar, yaitu fase Makkah dan fase Madinah. Sekitar tiga belas tahun
berlangsung di Makkah dan sekitar sepuluh tahun berlangsung di Madinah.
Pembagian tersebut tidak semata-mata menunjukkan lokasi
turunnya ayat, tetapi juga menggambarkan perkembangan dakwah Islam dan karakter
persoalan yang dihadapi umat. Ayat-ayat Makkiyah pada umumnya menekankan
tauhid, keimanan kepada hari akhir, kisah umat terdahulu, pembentukan akhlak,
dan penguatan mental spiritual. Sementara itu, ayat-ayat Madaniyah banyak
membahas pembentukan masyarakat, hukum, hubungan sosial, ekonomi, keluarga, dan
tata kehidupan umat.
Dalam perspektif Ulumul Qur’an, proses turunnya Al-Qur’an
sering dijelaskan melalui dua tahap besar sebelum sampai kepada Nabi Muhammad
saw. Pertama, Al-Qur’an berada dalam ilmu dan ketetapan Allah Swt. Kedua,
Al-Qur’an diturunkan ke langit dunia pada malam Lailatul Qadar, sebagaimana
dipahami dari QS. al-Qadr [97]: 1 dan QS. al-Dukhān [44]: 3. Setelah itu,
Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur kepada Nabi Muhammad saw. melalui
Malaikat Jibril sesuai dengan kehendak Allah Swt.
Tahap pewahyuan kepada Nabi Muhammad saw. dimulai ketika
beliau berusia sekitar empat puluh tahun. Wahyu pertama yang diterima adalah
QS. al-‘Alaq [96]: 1–5 ketika Rasulullah saw. berada di Gua Hira. Peristiwa
tersebut menjadi awal kerasulan dan menandai dimulainya proses pewahyuan
Al-Qur’an.
Setelah wahyu pertama, proses turunnya Al-Qur’an berlangsung
secara berangsur-angsur. Ayat-ayat turun sesuai dengan kondisi, kebutuhan
dakwah, pertanyaan umat, peristiwa yang terjadi, dan perkembangan masyarakat
Muslim. Dengan demikian, Al-Qur’an hadir dalam proses pembentukan manusia dan
masyarakat secara nyata, bukan sebagai teks yang terpisah dari kehidupan.
Al-Qur’an sendiri menjelaskan bahwa diturunkannya secara
bertahap bertujuan agar Nabi Muhammad saw. dapat membacakannya kepada manusia
dengan perlahan dan teratur. QS. al-Isrā’ [17]: 106 menyatakan bahwa Al-Qur’an
diturunkan secara berangsur-angsur agar dibacakan kepada manusia secara
perlahan-lahan. Ayat ini menjadi salah satu dasar penting dalam memahami hikmah
pewahyuan Al-Qur’an secara bertahap.
D.
Periode Makkah dan Madinah
Periode Makkah merupakan fase awal dakwah Nabi Muhammad saw.
yang berlangsung sekitar tiga belas tahun. Pada masa ini, umat Islam masih
berada dalam kondisi minoritas dan menghadapi tekanan dari kaum Quraisy. Oleh
karena itu, tema-tema Al-Qur’an yang turun pada fase ini banyak menekankan
penguatan akidah, tauhid, keimanan, hari kebangkitan, kenabian, serta
pembentukan akhlak.
Periode Madinah berlangsung sekitar sepuluh tahun setelah
hijrah Nabi Muhammad saw. ke Madinah. Pada fase ini, umat Islam mulai membentuk
komunitas dan masyarakat yang lebih terorganisasi. Karena itu, ayat-ayat
Madaniyah banyak membahas hukum ibadah, muamalah, keluarga, kehidupan sosial,
hubungan antarumat, jihad, dan tata kehidupan masyarakat.
Perbedaan karakter antara ayat-ayat Makkiyah dan Madaniyah
menunjukkan bahwa proses pewahyuan Al-Qur’an memiliki dimensi pendidikan dan
pembinaan. Al-Qur’an membangun keimanan terlebih dahulu, kemudian membentuk
tata kehidupan berdasarkan keimanan tersebut. Pola ini menunjukkan bahwa
perubahan masyarakat membutuhkan proses yang bertahap dan berkesinambungan.
E.
Hikmah Diturunkannya Al-Qur’an Secara Bertahap
1. Memudahkan Nabi
Muhammad saw. menghafal dan memahami wahyu. Turunnya Al-Qur’an secara bertahap memberikan kesempatan
kepada Rasulullah saw. untuk menerima, memahami, menghafal, dan mengamalkan
ayat-ayat yang turun. Hal ini sangat penting karena Al-Qur’an disampaikan
secara lisan dan menjadi bacaan yang harus dipelihara.
2. Memudahkan para
sahabat mempelajari dan mengamalkannya. Para sahabat dapat menerima ayat secara bertahap,
mempelajari maknanya, menghafalkannya, dan mengamalkannya. Proses tersebut
menjadikan pembelajaran Al-Qur’an berlangsung secara langsung dan terintegrasi
dengan kehidupan.
3. Menguatkan hati
Nabi Muhammad saw.. Perjalanan
dakwah Rasulullah saw. penuh dengan tantangan, penolakan, tekanan, dan berbagai
ujian. Turunnya wahyu secara berkelanjutan menjadi sumber ketenangan dan
penguatan bagi Rasulullah saw. dalam menjalankan tugas kerasulan.
4. Menjawab
persoalan yang muncul. Ayat-ayat
Al-Qur’an turun dalam berbagai konteks kehidupan. Sebagian ayat memberikan
jawaban terhadap pertanyaan, memberikan petunjuk terhadap persoalan, atau
memberikan penjelasan mengenai peristiwa yang terjadi.
5. Membentuk
masyarakat secara bertahap. Perubahan
sosial tidak dapat dilakukan secara instan. Al-Qur’an membentuk masyarakat
melalui proses pendidikan, pembinaan akidah, perbaikan akhlak, dan penetapan
aturan secara bertahap.
6. Menunjukkan
kemukjizatan Al-Qur’an. Meskipun
diturunkan dalam rentang waktu yang panjang dan dalam berbagai situasi,
Al-Qur’an memiliki kesatuan pesan, keteraturan, dan konsistensi yang menjadi
bagian dari kemukjizatannya.
7. Membedakan
antara wahyu dan karya manusia. Turunnya Al-Qur’an selama lebih dari dua puluh tahun dalam
berbagai situasi, namun tetap memiliki kesatuan ajaran, menunjukkan bahwa
Al-Qur’an bukan hasil pemikiran manusia. Al-Qur’an tetap menjadi wahyu Allah
Swt. yang diturunkan melalui Rasul-Nya.
F.
Relevansi Memahami Proses Pewahyuan bagi Studi Al-Qur’an
Pemahaman mengenai proses pewahyuan memiliki peranan penting
dalam studi Al-Qur’an. Pertama, pemahaman ini membantu umat Islam memahami
kedudukan Al-Qur’an sebagai wahyu Allah Swt. Kedua, pengetahuan tentang konteks
turunnya ayat dapat membantu memahami pesan ayat secara lebih tepat. Ketiga,
proses turunnya Al-Qur’an secara bertahap memberikan pelajaran bahwa pendidikan
dan perubahan sosial membutuhkan tahapan, kesabaran, serta pembinaan yang
berkelanjutan.
Dalam kajian Ulumul Qur’an, pembahasan tentang wahyu juga
berhubungan dengan berbagai disiplin lain, seperti Makkiyah-Madaniyah, asbāb
al-nuzūl, nasikh-mansukh, jam‘ al-Qur’an, dan qira’at. Dengan demikian,
memahami wahyu dan proses turunnya Al-Qur’an merupakan dasar penting untuk
mempelajari cabang-cabang Ulumul Qur’an lainnya.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Wahyu adalah pemberitahuan Allah Swt. kepada nabi atau rasul
mengenai sesuatu yang dikehendaki-Nya dengan cara tertentu. Wahyu memiliki
kedudukan yang sangat penting dalam Islam karena menjadi sumber petunjuk ilahi
yang disampaikan kepada para nabi dan rasul. Dalam konteks Nabi Muhammad saw.,
wahyu disampaikan melalui beberapa cara, antara lain melalui mimpi yang benar,
suara seperti bunyi lonceng, kehadiran Malaikat Jibril dalam bentuk manusia,
kehadiran Malaikat Jibril dalam bentuk aslinya, serta bentuk komunikasi ilahi
lain sesuai dengan kehendak Allah Swt.
Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. secara
bertahap selama kurang lebih dua puluh tiga tahun, sekitar tiga belas tahun di
Makkah dan sekitar sepuluh tahun di Madinah. Wahyu pertama yang diterima Nabi
Muhammad saw. adalah QS. al-‘Alaq [96]: 1–5 di Gua Hira. Selanjutnya, ayat-ayat
Al-Qur’an turun secara berangsur-angsur sesuai dengan kondisi dan kebutuhan
dakwah.
Turunnya Al-Qur’an secara bertahap memiliki banyak hikmah,
antara lain memudahkan Nabi Muhammad saw. menghafal dan memahami wahyu,
memudahkan para sahabat mempelajarinya, menguatkan hati Rasulullah saw.,
menjawab persoalan yang muncul, dan membentuk masyarakat secara bertahap. Oleh
sebab itu, proses pewahyuan merupakan bagian penting dalam memahami Al-Qur’an
sebagai kitab suci dan pedoman hidup.
B. Saran
Kajian mengenai wahyu dan proses turunnya Al-Qur’an perlu
terus dikembangkan melalui pembelajaran Ulumul Qur’an yang menggabungkan
sumber-sumber klasik, kajian tafsir, hadis, serta penelitian akademik
kontemporer. Mahasiswa diharapkan tidak hanya menghafal informasi mengenai
proses turunnya Al-Qur’an, tetapi juga memahami hikmah, konteks, dan
relevansinya bagi kehidupan.
Selain itu, pembaca hendaknya menjadikan pemahaman tentang
proses pewahyuan sebagai dorongan untuk berinteraksi dengan Al-Qur’an secara
lebih baik, yaitu dengan membaca, memahami, menghayati, dan mengamalkan
petunjuknya dalam kehidupan sehari-hari.
CATATAN KAKI / FOOTNOTE
1. Al-Qur’an, QS. al-Syūrā [42]:
51.
2. Manna‘ Khalīl al-Qaṭṭān,
Mabāḥith fī ‘Ulūm al-Qur’ān (Riyadh: Maktabah al-Ma‘ārif, 2000), hlm. 35–38.
3. Jalāl al-Dīn al-Suyūṭī,
al-Itqān fī ‘Ulūm al-Qur’ān, jilid I (Beirut: Dār Ibn Kathīr, 1996), hlm.
44–50.
4. Muḥammad ‘Abd al-‘Aẓīm
al-Zurqānī, Manāhil al-‘Irfān fī ‘Ulūm al-Qur’ān, jilid I (Beirut: Dār al-Kitāb
al-‘Arabī, 1995), hlm. 39–47.
5. Al-Qur’an, QS. al-Qadr [97]:
1 dan QS. al-Dukhān [44]: 3.
6. Al-Qur’an, QS. al-‘Alaq [96]:
1–5.
7. Al-Qur’an, QS. al-Isrā’ [17]:
106.
8. M. Quraish Shihab, Membumikan
Al-Qur’an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat (Bandung: Mizan,
1992), hlm. 15–24.
9. Subḥī al-Ṣāliḥ, Mabāḥith fī
‘Ulūm al-Qur’ān (Beirut: Dār al-‘Ilm li al-Malāyīn, 2000), hlm. 45–54.
10. Muḥammad ‘Abdullāh Darrāz,
al-Naba’ al-‘Aẓīm: Naẓarāt Jadīdah fī al-Qur’ān (Kuwait: Dār al-Qalam, 1970),
hlm. 105–115.
11. Al-Qur’an, QS. al-Furqān
[25]: 32.
12. Al-Qur’an, QS. al-Nisā’ [4]:
82.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Qur’an al-Karim.
Al-Qaṭṭān, Manna‘ Khalīl.
Mabāḥith fī ‘Ulūm al-Qur’ān. Riyadh: Maktabah al-Ma‘ārif, 2000.
Al-Suyūṭī, Jalāl al-Dīn.
Al-Itqān fī ‘Ulūm al-Qur’ān. Jilid I. Beirut: Dār Ibn Kathīr, 1996.
Al-Zurqānī, Muḥammad ‘Abd
al-‘Aẓīm. Manāhil al-‘Irfān fī ‘Ulūm al-Qur’ān. Jilid I. Beirut: Dār al-Kitāb
al-‘Arabī, 1995.
Darrāz, Muḥammad ‘Abdullāh.
Al-Naba’ al-‘Aẓīm: Naẓarāt Jadīdah fī al-Qur’ān. Kuwait: Dār al-Qalam, 1970.
Shihab, M. Quraish. Membumikan
Al-Qur’an: Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat. Bandung: Mizan,
1992.
Ṣāliḥ, Subḥī al-. Mabāḥith fī
‘Ulūm al-Qur’ān. Beirut: Dār al-‘Ilm li al-Malāyīn, 2000.
UIN Sunan Gunung Djati Bandung.
“Proses Turunnya Al-Qur’an Secara Berangsur-angsur.” 8 Juli 2026.








0 komentar:
Posting Komentar