MAKALAH PENGANTAR EKONOMI ISLAM TENTANG TUJUAN (MAQASHID SYARIAH) DALAM EKONOMI ISLAM
MAKALAH PENGANTAR EKONOMI ISLAM
TUJUAN
(MAQASHID SYARIAH) DALAM EKONOMI ISLAM
Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Pengantar
Ekonomi Syariah
DOSEN
PENGAMPU :
DISUSUN
OLEH :
HANDI PRANATA
Program
Studi : Ekonomi Syariah
INSTITUT AGAMA ISLAM
NUSANTARA
ASH-SHIDDIQIYAH
TAHUN AKADEMIK 2025
Jl. Lintas Timur Desa
Lubuk Seberuk Kecamatan Lempuing Jaya
Kabupaten Ogan Komering
Ilir
Sumatera Selatan
30657
KATA PENGANTAR
Assalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh
Puji syukur ke hadirat Allah Swt. yang telah melimpahkan
rahmat, taufik, dan hidayah-Nya sehingga makalah yang berjudul "Tujuan
(Maqashid Syariah) dalam Ekonomi Islam" ini dapat diselesaikan dengan
baik.
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Pengantar
Ekonomi Syariah. Pembahasan dalam makalah ini menguraikan konsep Maqashid
Syariah sebagai tujuan utama ditetapkannya syariat Islam, khususnya dalam
bidang ekonomi. Maqashid Syariah menjadi landasan bagi seluruh aktivitas
ekonomi agar mampu menciptakan kemaslahatan, keadilan, kesejahteraan, serta
keberlanjutan kehidupan manusia.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih memiliki
kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan
demi penyempurnaan makalah ini.
Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca
serta menambah wawasan mengenai Ekonomi Syariah.
Wassalamu'alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Lubuk Seberuk,
Juni 2025
Penulis
DAFTAR ISI
SAMPUL ............................................................................................................ i
KATA
PENGANTAR....................................................................................... ii
DAFTAR
ISI....................................................................................................... iii
BAB I
PENDAHULUAN................................................................................... 1
A.
Latar Belakang..................................................................................... 1
B.
Rumusan Masalah................................................................................. 1
C.
Tujuan................................................................................................... 1
BAB II
PEMBAHASAN.................................................................................... 2
A.
Pengertian Maqashid Syariah............................................................... 2
B.
Sejarah Perkembangan Maqashid Syariah............................................ 2
C.
Landasan Hukum Maqashid Syariah.................................................... 3
D.
Tujuan Maqashid Syariah..................................................................... 3
E.
Lima Tujuan Pokok (Al-Kulliyat Al-Khams)....................................... 4
F.
Tingkatan Maqashid Syariah................................................................. 5
G.
Maqashid Syariah dalam Ekonomi Islam............................................. 6
H.
Implementasi Maqashid Syariah pada Lembaga Keuangan Syariah.... 6
I.
Manfaat Penerapan Maqashid Syariah.................................................. 7
J.
Tantangan Implementasi Maqashid Syariah.......................................... 7
BAB III
PENUTUP............................................................................................ 8
A.
Kesimpulan........................................................................................... 8
B.
Saran..................................................................................................... 8
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................... 9
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Islam merupakan agama yang mengatur seluruh aspek kehidupan
manusia, termasuk bidang ekonomi. Setiap aturan yang ditetapkan Allah Swt.
memiliki tujuan tertentu untuk mewujudkan kemaslahatan bagi manusia. Tujuan
tersebut dikenal dengan istilah Maqashid Syariah.
Dalam ekonomi Islam, seluruh aktivitas ekonomi tidak hanya
bertujuan memperoleh keuntungan materi, tetapi juga mewujudkan kesejahteraan
masyarakat, keadilan sosial, pemerataan ekonomi, serta keberkahan hidup. Oleh
karena itu, setiap transaksi ekonomi harus sesuai dengan tujuan syariat.
Konsep Maqashid Syariah menjadi dasar dalam pengembangan
ekonomi Islam modern, termasuk perbankan syariah, asuransi syariah, koperasi
syariah, zakat, wakaf, dan berbagai bentuk aktivitas ekonomi lainnya.
B.
Rumusan
Masalah
1.
Apa
pengertian Maqashid Syariah?
2.
Apa
dasar hukum Maqashid Syariah?
3.
Apa
tujuan utama Maqashid Syariah?
4.
Apa
saja lima tujuan pokok Maqashid Syariah?
5.
Bagaimana
penerapan Maqashid Syariah dalam ekonomi Islam?Apa saja prinsip dasar ekonomi
Islam?
C.
Tujuan
1.
Menjelaskan
pengertian Maqashid Syariah.
2.
Menjelaskan
dasar hukum Maqashid Syariah.
3.
Mengetahui
tujuan utama syariat Islam.
4.
Menjelaskan
lima tujuan pokok Maqashid Syariah.
5.
Memahami
penerapan Maqashid Syariah dalam ekonomi IslamMendeskripsikan prinsip-prinsip
dasar ekonomi Islam.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian Maqashid Syariah
Secara bahasa, maqashid berarti tujuan atau maksud,
sedangkan syariah berarti aturan atau hukum Allah yang diturunkan kepada
manusia.
Menurut Imam Al-Ghazali, Maqashid Syariah adalah tujuan
ditetapkannya hukum Islam untuk menjaga kemaslahatan manusia melalui
perlindungan terhadap agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta.[1]
Ibnu Asyur menjelaskan bahwa Maqashid Syariah merupakan
hikmah dan tujuan yang menjadi dasar seluruh hukum Islam demi mewujudkan
kemaslahatan umat.[2]
Dengan demikian, Maqashid Syariah dapat diartikan sebagai
tujuan utama syariat Islam dalam menciptakan kehidupan yang adil, aman,
sejahtera, dan penuh keberkahan.
B.
Sejarah Perkembangan Maqashid Syariah
Konsep Maqashid telah berkembang sejak masa Rasulullah Saw.
Kemudian dikembangkan oleh para ulama ushul fiqh, antara lain:
·
Imam
Al-Juwaini
·
Imam
Al-Ghazali
·
Imam
Asy-Syathibi
·
Ibnu
Taimiyah
·
Ibnu
Qayyim
·
Muhammad
Thahir Ibnu Asyur
Tokoh yang paling dikenal adalah Imam Asy-Syathibi
melalui kitab Al-Muwafaqat, yang menjelaskan Maqashid Syariah secara
sistematis.[3]
C.
Landasan Hukum Maqashid Syariah
1.
Al-Qur'an
Allah
berfirman:
ã3 ßÌã ª!$# ãNà6Î/ tó¡ãø9$# wur ßÌã ãNà6Î/ uô£ãèø9$# ÇÊÑÎÈ
"Allah
menghendaki kemudahan bagimu dan tidak menghendaki kesukaran bagimu." (QS.
Al-Baqarah: 185).[4]
Allah juga
berfirman:
!$tBur »oYù=yör& wÎ) ZptHôqy úüÏJn=»yèù=Ïj9 ÇÊÉÐÈ
"Dan
Kami tidak mengutus engkau (Muhammad), melainkan sebagai rahmat bagi seluruh
alam." (QS. Al-Anbiya: 107).[5]
Ayat-ayat
tersebut menunjukkan bahwa syariat Islam bertujuan membawa rahmat, kemudahan,
dan kemaslahatan.
2.
Hadis
Rasulullah
Saw. bersabda:
"Tidak
boleh melakukan perbuatan yang membahayakan diri sendiri maupun orang
lain." (HR. Ibnu Majah No. 2340).[6]
Hadis ini
menjadi salah satu kaidah utama dalam Maqashid Syariah.
D.
Tujuan Maqashid Syariah
Tujuan utama syariat Islam adalah:
·
Mewujudkan
kemaslahatan.
·
Menghindarkan
kerusakan.
·
Menegakkan
keadilan.
·
Menjamin
kesejahteraan.
·
Melindungi
hak-hak manusia.
·
Menciptakan
keseimbangan dunia dan akhirat.
Dalam ekonomi Islam, tujuan tersebut diwujudkan melalui
sistem ekonomi yang bebas dari riba, gharar, maysir, penipuan, monopoli, dan
eksploitasi.
E.
Lima Tujuan Pokok (Al-Kulliyat Al-Khams)
1.
Hifzh
ad-Din (Menjaga Agama)
Islam
melindungi kebebasan beribadah dan menjaga keberlangsungan agama.
Dalam ekonomi:
·
Menghindari
riba.
·
Menghindari
transaksi haram.
·
Menjalankan
bisnis halal.
2.
Hifzh
an-Nafs (Menjaga Jiwa)
Syariat
melindungi keselamatan manusia.
Dalam
ekonomi:
·
Larangan
penimbunan.
·
Larangan
eksploitasi.
·
Kewajiban
memenuhi kebutuhan dasar masyarakat.
3.
Hifzh
al-'Aql (Menjaga Akal)
Islam
melarang segala sesuatu yang merusak akal.
Contohnya:
·
Larangan
khamar.
·
Pendidikan
ekonomi.
·
Literasi
keuangan syariah.
4.
Hifzh
an-Nasl (Menjaga Keturunan)
Syariat menjaga keberlangsungan keluarga.
Dalam ekonomi:
·
Nafkah
keluarga.
·
Warisan.
·
Perlindungan
anak.
·
Pendidikan.
5.
Hifzh
al-Mal (Menjaga Harta)
Harta
merupakan amanah dari Allah.
Cara
menjaganya:
·
Kepemilikan
yang sah.
·
Larangan
pencurian.
·
Larangan
korupsi.
·
Larangan
riba.
·
Zakat.
·
Wakaf.
·
Sedekah.
·
Investasi
halal.
Kelima
tujuan tersebut menjadi fondasi seluruh aktivitas ekonomi syariah.
F.
Tingkatan Maqashid Syariah
1.
Dharuriyyat
(Primer)
Kebutuhan
yang wajib dipenuhi.
Contoh:
·
Makanan
·
Minuman
·
Tempat
tinggal
·
Keamanan
2.
Hajiyyat
(Sekunder)
Kebutuhan
yang memberikan kemudahan.
Contoh:
·
Kendaraan
·
Pendidikan
·
Pembiayaan
usaha
3.
Tahsiniyyat
(Tersier)
Kebutuhan
pelengkap yang memperindah kehidupan.
Contoh:
·
Etika
bisnis
·
Kebersihan
·
Keindahan
lingkungan usaha
G.
Maqashid Syariah dalam Ekonomi Islam
Penerapan Maqashid Syariah dalam ekonomi meliputi:
1.
Keadilan
Tidak
boleh ada penindasan.
2.
Pemerataan
Kekayaan
Melalui
zakat, infak, sedekah, dan wakaf.
3.
Kebebasan
Berusaha
Selama
sesuai syariat.
4.
Larangan
Riba
Karena
merugikan masyarakat.
5.
Larangan
Gharar
Menghindari
ketidakjelasan transaksi.
6.
Larangan
Maysir
Menghindari
perjudian dan spekulasi berlebihan.
7.
Tanggung
Jawab Sosial
Perusahaan
wajib memperhatikan kesejahteraan masyarakat.
H.
Implementasi Maqashid Syariah pada Lembaga Keuangan
Syariah
Penerapan Maqashid Syariah terlihat pada:
·
Bank
Syariah
·
BMT
·
Pegadaian
Syariah
·
Asuransi
Syariah
·
BUMDes
Syariah
·
Koperasi
Syariah
Prinsip yang digunakan antara lain:
·
Mudharabah
·
Musyarakah
·
Murabahah
·
Salam
·
Istishna'
·
Ijarah
·
Wakalah
·
Kafalah
·
Rahn
·
Qardh
Semua akad tersebut bertujuan menciptakan transaksi yang
adil, transparan, dan saling menguntungkan.
I.
Manfaat Penerapan Maqashid Syariah
1.
Menjaga
stabilitas ekonomi.
2.
Mengurangi
kesenjangan sosial.
3.
Menghindari
praktik ekonomi yang merugikan.
4.
Menumbuhkan
kepercayaan masyarakat.
5.
Mewujudkan
kesejahteraan bersama.
6.
Menciptakan
keberkahan dalam usaha.
7.
Mendukung
pembangunan berkelanjutan yang berorientasi pada kemaslahatan.
J.
Tantangan Implementasi Maqashid Syariah
Beberapa tantangan dalam penerapan Maqashid Syariah di era
modern antara lain:
·
Rendahnya
literasi ekonomi syariah.
·
Dominasi
sistem ekonomi konvensional.
·
Kurangnya
pemahaman masyarakat terhadap akad syariah.
·
Perkembangan
teknologi finansial (fintech) yang memerlukan penyesuaian fatwa.
·
Perlunya
inovasi produk keuangan syariah yang tetap sesuai dengan prinsip syariat.
Oleh karena itu, diperlukan peran pemerintah, lembaga
pendidikan, ulama, akademisi, dan pelaku usaha dalam mengembangkan ekonomi
syariah yang berlandaskan Maqashid Syariah.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Maqashid Syariah merupakan tujuan utama ditetapkannya
syariat Islam untuk mewujudkan kemaslahatan manusia di dunia dan akhirat. Dalam
ekonomi Islam, Maqashid Syariah menjadi pedoman dalam seluruh aktivitas ekonomi
agar berjalan secara adil, transparan, bebas dari riba, gharar, dan maysir.
Lima tujuan pokok Maqashid Syariah, yaitu menjaga agama,
jiwa, akal, keturunan, dan harta, menjadi dasar dalam pembangunan sistem
ekonomi Islam yang berkeadilan. Dengan menerapkan Maqashid Syariah secara
konsisten, diharapkan tercipta kesejahteraan masyarakat, pemerataan ekonomi,
serta keberkahan dalam kehidupan
B.
Saran
Mahasiswa diharapkan terus mempelajari konsep Maqashid
Syariah secara mendalam karena merupakan landasan penting dalam memahami
ekonomi Islam. Selain itu, lembaga keuangan syariah dan pelaku usaha hendaknya
menjadikan Maqashid Syariah sebagai pedoman dalam setiap kegiatan ekonomi agar
tercipta sistem ekonomi yang adil, berkelanjutan, dan membawa manfaat bagi
seluruh masyarakat.
DAFTAR
PUSTAKA
Al-Qur'an
al-Karim.
Al-Ghazali,
Abu Hamid. Al-Mustashfa min 'Ilm al-Ushul. Beirut: Dar al-Kutub
al-'Ilmiyyah, 1993.
Asy-Syathibi,
Abu Ishaq. Al-Muwafaqat fi Ushul al-Syari'ah. Beirut: Dar al-Kutub
al-'Ilmiyyah, 2004.
Ibnu
Asyur, Muhammad Thahir. Maqasid al-Shari'ah al-Islamiyyah. Amman: Dar
al-Nafais, 2001.
Karim,
Adiwarman A. Ekonomi Mikro Islam. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada,
2015.
Antonio,
Muhammad Syafi'i. Bank Syariah dari Teori ke Praktik. Jakarta: Gema
Insani, 2001.
Ascarya. Akad
dan Produk Bank Syariah. Jakarta: Rajawali Pers, 2017.
Chapra,
M. Umer. Islam and the Economic Challenge. Leicester: The Islamic
Foundation, 1992
[1] Abu Hamid Al-Ghazali, Al-Mustashfa min 'Ilm al-Ushul
(Beirut: Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah, 1993), hlm. 174.
Abu Ishaq Asy-Syathibi, Al-Muwafaqat
fi Ushul al-Syari'ah (Beirut: Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah, 2004), jilid II,
hlm. 7.
[2] Muhammad Thahir Ibnu Asyur, Maqasid al-Shari'ah
al-Islamiyyah (Amman: Dar al-Nafais, 2001), hlm. 51.
[3] Abu Ishaq Asy-Syathibi, Al-Muwafaqat fi Ushul al-Syari'ah (Beirut: Dar al-Kutub al-'Ilmiyyah, 2004), jilid II, hlm. 7.
[4] Kementerian
Agama RI, Al-Qur'an dan Terjemahannya, QS. Al-Baqarah [2]:185.
[5] Kementerian Agama RI, Al-Qur'an dan Terjemahannya,
QS. Al-Anbiya [21]:107.
[6] Sunan Ibnu Majah, Hadis No. 2340, Kitab al-Ahkam.


Komentar
Posting Komentar