Senin, 27 Juli 2026

MAKALAH ULUMUL QUR’AN “PENGUMPULAN DAN PEMBUKUAN AL-QUR’AN”

 

MAKALAH ULUMUL QUR’AN

“PENGUMPULAN DAN PEMBUKUAN AL-QUR’AN”  

 

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Ulumul Qur’an

 

DOSEN PENGAMPU :




DISUSUN OLEH :

HANDI PRANATA

Program Studi : Ekonomi Syariah

 

INSTITUT AGAMA ISLAM NUSANTARA

ASH-SHIDDIQIYAH

TAHUN AKADEMIK 2026

Jl. Lintas Timur Desa Lubuk Seberuk Kecamatan Lempuing Jaya

Kabupaten Ogan Komering Ilir

Sumatera Selatan

30657


 

KATA PENGANTAR

بسم الله الرحمن الرحيم.

Puji syukur ke hadirat Allah Swt. atas rahmat dan karunia-Nya sehingga makalah yang berjudul “Pengumpulan dan Pembukuan Al-Qur’an” ini dapat disusun. Kajian ini merupakan bagian penting dalam Ulumul Qur’an karena membahas proses pemeliharaan wahyu sejak masa Nabi Muhammad saw. hingga masa Khulafaur Rasyidin.

Pembahasan mengenai pengumpulan dan pembukuan Al-Qur’an tidak hanya berkaitan dengan sejarah, tetapi juga dengan cara umat Islam menjaga keaslian, keteraturan, dan keseragaman mushaf. Proses tersebut berlangsung secara bertahap, mulai dari hafalan dan pencatatan pada masa Nabi, penghimpunan dalam satu suhuf pada masa Abu Bakar ash-Shiddiq, hingga standardisasi mushaf pada masa Utsman bin Affan.

Makalah ini disusun dengan mengacu pada kitab-kitab Ulumul Qur’an, hadis, dan kajian akademik yang membahas sejarah jam‘ul Qur’an. Penulis menyadari bahwa makalah ini masih memiliki kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan demi penyempurnaan kajian ini.

Lubuk Seberuk,  Juli 2026

Penulis

 


 

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.. ii

DAFTAR ISI. iii

BAB I. 1

PENDAHULUAN.. 1

A. Latar Belakang. 1

B. Rumusan Masalah. 2

C. Tujuan. 2

BAB II. 3

PEMBAHASAN.. 3

PENGUMPULAN DAN PEMBUKUAN AL-QUR’AN.. 3

A. Masa Nabi Muhammad saw. 3

B. Masa Abu Bakar Ash-Shiddiq. 4

C. Masa Utsman bin Affan. 4

D. Perbedaan Pengumpulan Masa Abu Bakar dan Standardisasi Masa Utsman. 5

E. Hikmah dan Urgensi Pengumpulan serta Pembukuan Al-Qur’an. 6

BAB III. 7

PENUTUP. 7

A. Kesimpulan. 7

B. Saran. 7

DAFTAR PUSTAKA.. 8

 


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Al-Qur’an merupakan wahyu Allah Swt. yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. secara bertahap melalui Malaikat Jibril. Sejak awal pewahyuan, pemeliharaan Al-Qur’an dilakukan melalui dua jalur utama, yaitu hafalan dan penulisan. Para sahabat menerima ayat dengan cara menghafalkannya serta mencatatnya pada media yang tersedia pada masa itu.[1]

Pada masa Nabi Muhammad saw., Al-Qur’an belum dihimpun dalam satu mushaf sebagaimana bentuk mushaf yang dikenal sekarang. Ayat-ayat yang turun langsung diajarkan kepada para sahabat, dihafalkan, dan ditulis oleh para penulis wahyu. Keadaan ini sesuai dengan proses turunnya wahyu yang berlangsung secara bertahap.[2]

Setelah wafatnya Nabi Muhammad saw., kebutuhan untuk menghimpun Al-Qur’an dalam satu kumpulan tertulis semakin kuat. Perang Yamamah menyebabkan banyak penghafal Al-Qur’an gugur sehingga Umar bin al-Khattab mengusulkan kepada Abu Bakar ash-Shiddiq agar ayat-ayat Al-Qur’an dikumpulkan dalam satu suhuf.

Pada masa Utsman bin Affan, wilayah Islam telah meluas dan umat Islam berasal dari berbagai daerah dengan ragam bacaan. Perbedaan yang semakin terlihat mendorong dilakukannya standardisasi mushaf berdasarkan suhuf yang sebelumnya disimpan oleh Hafsah binti Umar.[3]

Sejarah pengumpulan dan pembukuan Al-Qur’an menunjukkan adanya proses yang bertahap, teratur, dan penuh kehati-hatian. Kajian ini penting dipelajari agar umat Islam memahami bagaimana Al-Qur’an dipelihara dari masa Nabi Muhammad saw. hingga menjadi mushaf yang tersebar luas.[4]

B. Rumusan Masalah

1.      Bagaimana proses pemeliharaan dan penulisan Al-Qur’an pada masa Nabi Muhammad saw.?

2.      Bagaimana proses pengumpulan Al-Qur’an pada masa Abu Bakar ash-Shiddiq?

3.      Apa latar belakang dan proses standardisasi mushaf pada masa Utsman bin Affan?

4.      Apa perbedaan antara pengumpulan Al-Qur’an pada masa Abu Bakar dan standardisasi pada masa Utsman?

5.      Apa hikmah dan urgensi mempelajari sejarah pengumpulan dan pembukuan Al-Qur’an?

C. Tujuan

1.      Menjelaskan proses pemeliharaan Al-Qur’an pada masa Nabi Muhammad saw.

2.      Menjelaskan proses pengumpulan Al-Qur’an pada masa Abu Bakar ash-Shiddiq.

3.      Menjelaskan latar belakang dan proses standardisasi mushaf pada masa Utsman bin Affan.

4.      Menjelaskan perbedaan antara pengumpulan pada masa Abu Bakar dan standardisasi pada masa Utsman.

5.      Menjelaskan hikmah dan urgensi mempelajari sejarah pengumpulan serta pembukuan Al-Qur’an.


 

BAB II

PEMBAHASAN

PENGUMPULAN DAN PEMBUKUAN AL-QUR’AN

A. Masa Nabi Muhammad saw.

Pada masa Nabi Muhammad saw., Al-Qur’an dipelihara melalui hafalan dan tulisan. Setiap kali wahyu turun, Nabi menerima, mengajarkan, dan menyampaikannya kepada para sahabat. Para sahabat kemudian menghafalkan ayat-ayat tersebut serta sebagian menuliskannya pada berbagai media yang tersedia.[5]

1.      Dihafalkan oleh Para Sahabat. Tradisi menghafal memiliki posisi sangat penting dalam pemeliharaan Al-Qur’an. Para sahabat mempelajari dan menghafal ayat yang turun, kemudian mengajarkannya kepada sahabat lainnya.[6]

2.      Ditulis di Berbagai Media. Selain dihafalkan, ayat-ayat Al-Qur’an juga ditulis oleh para sahabat pada berbagai media yang tersedia. Penulisan tersebut membantu pemeliharaan wahyu yang telah disampaikan.[7]

3.      Diajarkan Secara Langsung. Nabi Muhammad saw. menjadi sumber pengajaran Al-Qur’an bagi para sahabat. Beliau membacakan ayat, menjelaskan cara membacanya, dan membimbing umat dalam memahami wahyu.[8]

Dengan demikian, pada masa Nabi Muhammad saw. telah berlangsung proses pemeliharaan Al-Qur’an yang kuat melalui kombinasi hafalan, penulisan, dan pengajaran langsung. Belum dihimpunnya Al-Qur’an dalam satu mushaf tidak berarti Al-Qur’an tidak terpelihara, melainkan karena wahyu masih terus turun.[9]

B. Masa Abu Bakar Ash-Shiddiq

Setelah Nabi Muhammad saw. wafat, umat Islam menghadapi berbagai peristiwa besar, salah satunya Perang Yamamah. Dalam peperangan tersebut banyak penghafal Al-Qur’an gugur. Keadaan ini menimbulkan kekhawatiran Umar bin al-Khattab terhadap kemungkinan berkurangnya para penghafal Al-Qur’an sehingga ia mengusulkan kepada Abu Bakar agar Al-Qur’an dikumpulkan.

Abu Bakar pada awalnya merasa berat karena Nabi Muhammad saw. tidak pernah menghimpun Al-Qur’an dalam satu mushaf secara fisik. Namun setelah mempertimbangkan maslahat dan pentingnya menjaga wahyu, Abu Bakar menerima usulan tersebut. Zaid bin Tsabit kemudian ditunjuk untuk memimpin proses pengumpulan.[10]

Zaid bin Tsabit melakukan pengumpulan dengan sangat hati-hati. Ayat-ayat yang telah ditulis pada berbagai media dikumpulkan dan dibandingkan dengan hafalan para sahabat. Proses ini menunjukkan adanya verifikasi melalui sumber tertulis dan hafalan.[11]

Hasil pengumpulan tersebut dikenal sebagai suhuf. Suhuf itu berada di tangan Abu Bakar, kemudian Umar bin al-Khattab, dan setelah wafatnya Umar disimpan oleh Hafsah binti Umar. Suhuf ini kemudian menjadi rujukan penting pada masa standardisasi mushaf Utsmani.

C. Masa Utsman bin Affan

Pada masa Khalifah Utsman bin Affan, wilayah Islam berkembang luas dan umat Islam tersebar di berbagai daerah. Para sahabat dan generasi setelahnya mempelajari Al-Qur’an dari guru-guru yang berbeda. Perbedaan cara membaca yang masih berada dalam ruang qira’at yang diterima kemudian berpotensi menimbulkan perselisihan.[12]

Hudzaifah bin al-Yaman melihat adanya perselisihan bacaan di kalangan pasukan Muslim yang berasal dari berbagai wilayah. Ia kemudian menyampaikan kekhawatiran tersebut kepada Utsman bin Affan. Utsman lalu membentuk tim untuk menyalin mushaf berdasarkan suhuf yang disimpan oleh Hafsah.[13]

Tim penyalinan dipimpin oleh Zaid bin Tsabit dan melibatkan beberapa sahabat Quraisy. Mushaf yang disalin kemudian dikirim ke sejumlah pusat wilayah Islam untuk menjaga kesatuan umat dalam penggunaan mushaf standar.[14]

Mushaf yang disandarkan kepada proses standardisasi pada masa Utsman kemudian dikenal sebagai Mushaf Utsmani. Standardisasi ini bukan berarti Utsman menciptakan Al-Qur’an baru, melainkan menyatukan umat pada mushaf standar yang disusun berdasarkan tradisi pewahyuan dan suhuf yang telah dihimpun sebelumnya.[15]

D. Perbedaan Pengumpulan Masa Abu Bakar dan Standardisasi Masa Utsman

Pengumpulan pada masa Abu Bakar terutama didorong oleh kekhawatiran hilangnya sebagian materi Al-Qur’an karena wafatnya para penghafal. Tujuan utamanya adalah menghimpun ayat-ayat yang sebelumnya tersebar dalam hafalan dan berbagai catatan ke dalam satu kumpulan tertulis.[16]

Adapun standardisasi pada masa Utsman didorong oleh meluasnya wilayah Islam dan munculnya perselisihan bacaan di antara umat. Tujuan utamanya adalah menyatukan umat pada mushaf standar agar perbedaan yang dapat menimbulkan konflik dapat diminimalkan.[17]

Dengan demikian, Abu Bakar berperan dalam menghimpun Al-Qur’an dalam satu suhuf, sedangkan Utsman berperan dalam menstandarkan salinan mushaf dan menyebarkannya ke berbagai wilayah. Kedua proses tersebut saling berkaitan.[18]


 

E. Hikmah dan Urgensi Pengumpulan serta Pembukuan Al-Qur’an

Sejarah pengumpulan dan pembukuan Al-Qur’an menunjukkan pentingnya kehati-hatian dalam menjaga sumber ajaran agama. Proses yang dilakukan para sahabat memperlihatkan bahwa pemeliharaan Al-Qur’an melibatkan hafalan, tulisan, verifikasi, dan kesepakatan umat.[19]

Kajian ini juga memberikan pelajaran bahwa sejarah mushaf tidak dapat dipahami secara sederhana sebagai satu peristiwa tunggal. Pengumpulan dan pembukuan berlangsung dalam beberapa tahap sesuai dengan kebutuhan umat pada setiap masa, mulai dari masa Nabi, Abu Bakar, hingga Utsman.[20]

Urgensi mempelajari sejarah tersebut adalah agar umat Islam memahami bahwa mushaf yang digunakan sekarang memiliki sejarah transmisi dan pemeliharaan yang panjang. Pemahaman ini membantu mahasiswa Ulumul Qur’an mengkaji hubungan antara wahyu, hafalan, penulisan, mushaf, dan tradisi qira’at.[21]


 

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Pengumpulan dan pembukuan Al-Qur’an berlangsung secara bertahap. Pada masa Nabi Muhammad saw., Al-Qur’an dipelihara melalui hafalan, penulisan pada berbagai media, dan pengajaran langsung kepada para sahabat. Pada masa Abu Bakar ash-Shiddiq, Al-Qur’an dihimpun dalam satu suhuf karena adanya kekhawatiran setelah banyak penghafal Al-Qur’an gugur dalam Perang Yamamah.

Pada masa Utsman bin Affan, dilakukan standardisasi mushaf karena meluasnya wilayah Islam dan munculnya perbedaan bacaan yang berpotensi menimbulkan perselisihan. Mushaf standar yang dihasilkan kemudian dikenal sebagai Mushaf Utsmani dan menjadi rujukan bagi penyebaran mushaf ke berbagai wilayah.

Dengan demikian, sejarah pengumpulan dan pembukuan Al-Qur’an menunjukkan kesungguhan para sahabat dalam menjaga wahyu. Proses tersebut merupakan rangkaian sejarah yang saling berkesinambungan dan menjadi bagian penting dalam kajian Ulumul Qur’an.

B. Saran

Mahasiswa dan pembaca disarankan untuk mempelajari sejarah pengumpulan dan pembukuan Al-Qur’an melalui kitab-kitab Ulumul Qur’an, sumber hadis, dan penelitian akademik yang terpercaya. Kajian hendaknya dilakukan secara kritis, ilmiah, dan tetap menghormati tradisi keilmuan Islam.


 

DAFTAR PUSTAKA

Agustina, Devi, dan Anisa Maulidya. 2024. “Pengumpulan Alquran Pada Masa Nabi Muhammad dan Khulafa’ Arrasyidin.” AL-KARIM: Journal of Islamic and Educational Research.

Aqsho, Muhammad. 2016. “Pembukuan Alquran, Mushaf Usmani Dan Rasm Alquran.” Almufida: Jurnal Ilmu-Ilmu Keislaman 1(1). DOI: 10.46576/almufida.v1i1.106.

Al-Bukhari, Muhammad ibn Isma‘il. 2002. Sahih al-Bukhari. Beirut: Dar Ibn Kathir.

Al-Qattan, Manna‘ Khalil. 2002. Mabahith fi ‘Ulum al-Qur’an. Kairo: Maktabah Wahbah.

Al-Suyuti, Jalal al-Din. 1974. Al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an. Tahqiq Muhammad Abu al-Fadl Ibrahim. Kairo: al-Hay’ah al-Misriyyah al-‘Ammah li al-Kitab.

Al-Zurqani, Muhammad ‘Abd al-‘Azim. 1995. Manahil al-‘Irfan fi ‘Ulum al-Qur’an. Beirut: Dar al-Kitab al-‘Arabi.

Khairani, Shinta Amelia, dan Anisa Maulidya. 2024. “Sejarah Pengumpulan Al-Qur’an.” Jurnal Studi Ilmu Alquran dan Tafsir 1(2). DOI: 10.47134/jsiat.v1i2.122.

Lathifa, Liyyu, dan Anisa Maulidya. 2025. “Jam’ul Qur’an: Dinamika Pengumpulan dan Pelestarian Teks Suci dalam Ulumul Qur’an.” MERDEKA: Jurnal Ilmiah Multidisiplin 2(2). DOI: 10.62017/merdeka.v2i2.2845.

Nasution, Abdurrahman dkk. 2024. Kajian sejarah pengumpulan Al-Qur’an dalam literatur Ulumul Qur’an dan penelitian kepustakaan.



[1]Manna‘ Khalil al-Qattan, Mabahith fi ‘Ulum al-Qur’an (Kairo: Maktabah Wahbah, 2002), hlm. 119–139.

[2]Muhammad ‘Abd al-‘Azim al-Zurqani, Manahil al-‘Irfan fi ‘Ulum al-Qur’an (Beirut: Dar al-Kitab al-‘Arabi, 1995), jil. 1, hlm. 239–257.

[3]Muhammad ibn Isma‘il al-Bukhari, Sahih al-Bukhari, Kitab Fada’il al-Qur’an.

[4]Shinta Amelia Khairani dan Anisa Maulidya, “Sejarah Pengumpulan Al-Qur’an,” Jurnal Studi Ilmu Alquran dan Tafsir, Vol. 1 No. 2 (2024).

[5]Manna‘ Khalil al-Qattan, Mabahith fi ‘Ulum al-Qur’an (Kairo: Maktabah Wahbah, 2002), hlm. 119–139.

[6]Muhammad ‘Abd al-‘Azim al-Zurqani, Manahil al-‘Irfan fi ‘Ulum al-Qur’an (Beirut: Dar al-Kitab al-‘Arabi, 1995), jil. 1, hlm. 239–257.

[7]Manna‘ Khalil al-Qattan, Mabahith fi ‘Ulum al-Qur’an (Kairo: Maktabah Wahbah, 2002), hlm. 119–139.

[8]Muhammad ‘Abd al-‘Azim al-Zurqani, Manahil al-‘Irfan fi ‘Ulum al-Qur’an (Beirut: Dar al-Kitab al-‘Arabi, 1995), jil. 1, hlm. 239–257.

[9]Manna‘ Khalil al-Qattan, Mabahith fi ‘Ulum al-Qur’an (Kairo: Maktabah Wahbah, 2002), hlm. 119–139.

[10]Muhammad ibn Isma‘il al-Bukhari, Sahih al-Bukhari, Kitab Fada’il al-Qur’an.

[11]Manna‘ Khalil al-Qattan, Mabahith fi ‘Ulum al-Qur’an (Kairo: Maktabah Wahbah, 2002), hlm. 119–139.

[12]Muhammad ibn Isma‘il al-Bukhari, Sahih al-Bukhari, Kitab Fada’il al-Qur’an.

[13]Muhammad ibn Isma‘il al-Bukhari, Sahih al-Bukhari, Kitab Fada’il al-Qur’an.

[14]Muhammad ‘Abd al-‘Azim al-Zurqani, Manahil al-‘Irfan fi ‘Ulum al-Qur’an (Beirut: Dar al-Kitab al-‘Arabi, 1995), jil. 1, hlm. 239–257.

[15]Shinta Amelia Khairani dan Anisa Maulidya, “Sejarah Pengumpulan Al-Qur’an,” Jurnal Studi Ilmu Alquran dan Tafsir, Vol. 1 No. 2 (2024).

[16]Manna‘ Khalil al-Qattan, Mabahith fi ‘Ulum al-Qur’an (Kairo: Maktabah Wahbah, 2002), hlm. 119–139.

[17]Muhammad ‘Abd al-‘Azim al-Zurqani, Manahil al-‘Irfan fi ‘Ulum al-Qur’an (Beirut: Dar al-Kitab al-‘Arabi, 1995), jil. 1, hlm. 239–257.

[18]Shinta Amelia Khairani dan Anisa Maulidya, “Sejarah Pengumpulan Al-Qur’an,” Jurnal Studi Ilmu Alquran dan Tafsir, Vol. 1 No. 2 (2024).

[19]Devi Agustina dan Anisa Maulidya, “Pengumpulan Alquran Pada Masa Nabi Muhammad dan Khulafa’ Arrasyidin,” AL-KARIM: Journal of Islamic and Educational Research (2024).

[20]Liyyu Lathifa dan Anisa Maulidya, “Jam’ul Qur’an: Dinamika Pengumpulan dan Pelestarian Teks Suci dalam Ulumul Qur’an,” MERDEKA: Jurnal Ilmiah Multidisiplin, Vol. 2 No. 2 (2025).

[21]Manna‘ Khalil al-Qattan, Mabahith fi ‘Ulum al-Qur’an (Kairo: Maktabah Wahbah, 2002), hlm. 119–139.

0 komentar:

Posting Komentar