Senin, 27 Juli 2026

MAKALAH FIQIH MUAMALAH JUAL BELI DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM

 

MAKALAH FIQIH MUAMALAH

 

JUAL BELI DALAM PERSPEKTIF HUKUM ISLAM

 

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Fiqih Muamalah

 

 

DOSEN PENGAMPU :

 


 

 




 

 

DISUSUN OLEH :

GALIH PERMADI

Program Studi : Ekonomi Syariah

 

INSTITUT AGAMA ISLAM NUSANTARA

ASH-SHIDDIQIYAH

TAHUN AKADEMIK 2025

Jl. Lintas Timur Desa Lubuk Seberuk Kecamatan Lempuing Jaya

Kabupaten Ogan Komering Ilir

Sumatera Selatan

30657


 

KATA PENGANTAR

 

بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ

Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Swt. yang telah memberikan rahmat, taufik, hidayah, serta kesehatan kepada penulis sehingga makalah yang berjudul “Jual Beli dalam Perspektif Hukum Islam” ini dapat diselesaikan dengan baik.

Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Nabi Muhammad saw., kepada keluarga, para sahabat, serta seluruh umatnya yang senantiasa mengikuti ajaran beliau hingga akhir zaman.

Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Fiqih Muamalah pada Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI). Pembahasan mengenai jual beli sangat penting dipelajari karena jual beli merupakan salah satu aktivitas muamalah yang paling sering dilakukan manusia dalam kehidupan sehari-hari. Islam tidak hanya mengatur persoalan ibadah, tetapi juga memberikan pedoman mengenai bagaimana manusia melakukan transaksi ekonomi secara benar, adil, jujur, transparan, dan tidak merugikan pihak lain.

Dalam makalah ini dibahas pengertian jual beli, dasar hukum jual beli, rukun dan syarat jual beli, prinsip-prinsip jual beli dalam Islam, macam-macam jual beli, khiyar, jual beli yang diperbolehkan dan dilarang, etika jual beli, serta penerapan prinsip jual beli Islam dalam transaksi modern termasuk jual beli secara online.

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih memiliki kekurangan, baik dalam penyusunan maupun kedalaman pembahasan. Oleh sebab itu, kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan demi penyempurnaan makalah ini.

Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi penulis dan pembaca, khususnya mahasiswa PGMI dalam memahami Fiqih Muamalah dan menerapkan prinsip-prinsip jual beli Islam dalam kehidupan sehari-hari.

Lubuk Seberuk,     Juni 2025

Penulis


 

DAFTAR ISI

 

SAMPUL ............................................................................................................ i

KATA PENGANTAR....................................................................................... ii

DAFTAR ISI....................................................................................................... iii

BAB I PENDAHULUAN................................................................................... 1

A. Latar Belakang..................................................................................... 1

B. Rumusan Masalah................................................................................. 3

C. Tujuan................................................................................................... 3

 

BAB II PEMBAHASAN.................................................................................... 4

A. Pengertian Fiqih Muamalah.................................................................... 4

B. Pengertian Jual Beli................................................................................. 5

C. Dasar Hukum Jual Beli........................................................................... 6

D. Hukum Asal Jual Beli............................................................................. 7

E. Rukun Jual Beli....................................................................................... 7

F. Syarat-Syarat Jual Beli............................................................................ 7

G. Pihak-Pihak yang Melakukan Akad....................................................... 8

H. Objek Jual Beli........................................................................................ 8

I. Ijab dan Qabul.......................................................................................... 9

J. Prinsip-Prinsip Jual Beli dalam Islam....................................................... 9

K. Macam-Macam Jual Beli......................................................................... 10

L. Jual Beli yang Diperbolehkan.................................................................. 11

M. Jual Beli yang Dilarang dalam Islam...................................................... 11

N. Gharar dalam Jual Beli............................................................................ 12

O. Riba dalam Jual Beli............................................................................... 13

P. Tadlis dan Penipuan dalam Jual Beli....................................................... 13

Q. Khiyar dalam Jual Beli............................................................................ 14

R. Etika Jual Beli dalam Islam..................................................................... 15

S. Jual Beli Online dalam Perspektif Fiqih Muamalah................................ 16

T. Contoh Penerapan Jual Beli yang Sesuai Syariah.................................... 17

U. Hikmah dan Tujuan Disyariatkannya Jual Beli....................................... 18

 

BAB III PENUTUP............................................................................................ 20

A. Kesimpulan........................................................................................... 20

B. Saran..................................................................................................... 21

 

DAFTAR PUSTAKA......................................................................................... 22


BAB I

PENDAHULUAN

A.           Latar Belakang

Manusia merupakan makhluk sosial yang tidak dapat memenuhi seluruh kebutuhan hidupnya seorang diri. Dalam kehidupan sehari-hari manusia membutuhkan hubungan dengan orang lain, baik dalam bidang sosial, pendidikan, maupun ekonomi. Salah satu bentuk hubungan ekonomi yang paling sering dilakukan adalah jual beli.

Jual beli merupakan kegiatan pertukaran barang atau manfaat dengan sesuatu yang memiliki nilai. Aktivitas tersebut menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat karena melalui jual beli seseorang dapat memperoleh barang yang dibutuhkannya, sementara pihak lain memperoleh imbalan dari barang yang diserahkan. Dengan demikian, jual beli mempunyai fungsi sosial dan ekonomi yang sangat penting.

Islam sebagai agama yang mengatur kehidupan manusia secara menyeluruh memberikan perhatian terhadap aktivitas jual beli. Al-Qur'an secara tegas membedakan antara jual beli yang halal dengan riba. Allah Swt. berfirman:

 

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

Artinya: “Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.”
(QS. Al-Baqarah [2]: 275).

Ayat tersebut menunjukkan bahwa aktivitas jual beli pada dasarnya diperbolehkan dalam Islam, sedangkan riba merupakan praktik yang dilarang. Kajian mengenai tafsir QS. Al-Baqarah ayat 275 menunjukkan bahwa jual beli dalam Islam tidak cukup hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi harus bebas dari riba, monopoli yang merugikan, dan pembebanan risiko secara sepihak. Prinsip yang hendak dibangun adalah keadilan, kemanusiaan, ketauhidan, dan kedamaian.[1]

Selain itu, Allah Swt. juga melarang manusia mengambil harta orang lain melalui cara yang batil. Dalam QS. An-Nisa' ayat 29 Allah memerintahkan agar transaksi perdagangan dilakukan atas dasar kerelaan kedua belah pihak.

Jual beli dalam Islam tidak hanya berbicara tentang adanya barang dan harga. Di dalamnya terdapat aturan mengenai pihak yang melakukan akad, objek transaksi, ijab dan qabul, kejelasan harga, kepemilikan barang, kemampuan menyerahkan barang, serta larangan terhadap unsur-unsur yang dapat merugikan salah satu pihak.

Kajian fiqih muamalah menjadi semakin penting pada masa sekarang karena bentuk transaksi mengalami perkembangan. Dahulu transaksi banyak dilakukan secara langsung di pasar atau toko, sedangkan sekarang transaksi dapat dilakukan melalui marketplace, media sosial, aplikasi, dan berbagai platform digital. Penjual dan pembeli bahkan dapat melakukan transaksi tanpa bertemu secara langsung.[2]

Perubahan tersebut menimbulkan berbagai pertanyaan fiqih. Apakah jual beli melalui internet sah? Bagaimana kedudukan akad melalui pesan elektronik? Bagaimana hukum pembayaran terlebih dahulu kemudian barang dikirim? Bagaimana jika barang yang diterima tidak sesuai dengan deskripsi? Pertanyaan tersebut menunjukkan bahwa pemahaman terhadap prinsip dasar jual beli dalam fiqih muamalah sangat diperlukan.

Jual beli online pada dasarnya dapat diperbolehkan selama memenuhi rukun dan syarat jual beli serta tidak mengandung unsur yang dilarang, seperti gharar, penipuan, riba, dan ketidakjelasan objek transaksi. Dengan demikian, media yang digunakan bukanlah satu-satunya ukuran halal atau tidaknya transaksi. Yang lebih penting adalah substansi akad dan terpenuhinya ketentuan syariah.[3]

 

B.            Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang tersebut, rumusan masalah dalam makalah ini adalah:

1.             Apa yang dimaksud dengan fiqih muamalah dan jual beli?

2.             Apa dasar hukum jual beli dalam Islam?

3.             Apa saja rukun dan syarat jual beli?

4.             Apa saja prinsip-prinsip jual beli dalam Islam?

5.             Apa saja macam-macam jual beli?

6.             Apa saja jual beli yang diperbolehkan dan dilarang?

7.             Apa yang dimaksud dengan gharar, riba, tadlis, dan penipuan dalam jual beli?

8.             Apa yang dimaksud dengan khiyar dan apa saja macam-macamnya?

9.             Bagaimana hukum jual beli online dalam perspektif fiqih muamalah?

10.         Apa hikmah dan tujuan disyariatkannya jual beli?

11.         Bagaimana relevansi pembelajaran jual beli bagi mahasiswa PGMI?

 

C.           Tujuan

Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah:

1.             Menjelaskan pengertian fiqih muamalah dan jual beli.

2.             Menjelaskan dasar hukum jual beli berdasarkan Al-Qur'an dan hadis.

3.             Menjelaskan rukun dan syarat jual beli.

4.             Menjelaskan prinsip-prinsip jual beli dalam Islam.

5.             Menjelaskan berbagai macam jual beli.

6.             Menjelaskan jual beli yang diperbolehkan dan dilarang.

7.             Menjelaskan gharar, riba, tadlis, dan penipuan.

8.             Menjelaskan konsep khiyar dalam jual beli.

9.             Menjelaskan jual beli online berdasarkan perspektif fiqih muamalah.

10.         Menjelaskan hikmah dan tujuan jual beli.

11.         Menjelaskan relevansi materi jual beli bagi pendidikan di Madrasah Ibtidaiyah.

BAB II

PEMBAHASAN

A.           Pengertian Fiqih Muamalah

Fiqih muamalah merupakan bagian dari ilmu fiqih yang membahas ketentuan syariat Islam mengenai hubungan manusia dengan manusia lainnya dalam berbagai aktivitas kehidupan, khususnya yang berkaitan dengan harta, transaksi, akad, dan kegiatan ekonomi.

Muamalah mencakup berbagai bentuk hubungan manusia, seperti jual beli, sewa-menyewa, utang piutang, kerja sama, gadai, wakalah, dan bentuk transaksi lainnya.

Dalam fiqih muamalah terdapat prinsip penting bahwa aktivitas muamalah pada dasarnya diperbolehkan selama tidak terdapat dalil yang secara jelas melarangnya. Prinsip ini memberikan ruang bagi perkembangan transaksi ekonomi sesuai dengan perubahan zaman, dengan tetap memperhatikan batas-batas syariat.[4]

Dengan demikian, fiqih muamalah bukan hanya membahas transaksi yang telah dikenal pada masa dahulu, tetapi juga dapat digunakan sebagai dasar untuk menilai transaksi modern selama prinsip dan ketentuan dasarnya dapat diterapkan.

 

B.            Pengertian Jual Beli

Secara bahasa, jual beli disebut al-ba'i (البيع). Istilah tersebut dapat digunakan untuk menunjukkan kegiatan menjual sekaligus membeli. Dalam terminologi fiqih, jual beli merupakan pertukaran suatu harta dengan harta lainnya melalui cara tertentu yang dibenarkan syariat.[5]

Jual beli pada dasarnya merupakan pertukaran kepemilikan suatu barang dengan kompensasi atau harga tertentu. Dengan adanya jual beli, seseorang yang memiliki barang dapat memperoleh imbalan, sementara pembeli memperoleh hak atas barang tersebut.

Jual beli juga harus dibedakan dari transaksi yang mengandung unsur riba, gharar, penipuan, perjudian, atau pengambilan harta secara batil.

 

C.           Dasar Hukum Jual Beli

1.             Al-Qur'an

Dasar hukum jual beli terdapat dalam Al-Qur'an. Salah satu dalil yang paling terkenal adalah QS. Al-Baqarah ayat 275:

وَأَحَلَّ اللَّهُ الْبَيْعَ وَحَرَّمَ الرِّبَا

Artinya:

“Allah telah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.”

Ayat tersebut memberikan dasar bahwa jual beli adalah aktivitas yang dihalalkan, sedangkan riba merupakan aktivitas yang diharamkan.[6]

Allah Swt. juga berfirman dalam QS. An-Nisa' ayat 29:

$ygƒr'¯»tƒ šúïÏ%©!$# (#qãYtB#uä Ÿw (#þqè=à2ù's? Nä3s9ºuqøBr& Mà6oY÷t/ È@ÏÜ»t6ø9$$Î/ HwÎ) br& šcqä3s? ¸ot»pgÏB `tã <Ú#ts? öNä3ZÏiB 4 ÇËÒÈ  

Artinya:

“Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil, kecuali dalam perdagangan yang berlaku atas dasar suka sama suka di antara kamu.”

Ayat tersebut menekankan pentingnya kerelaan dalam transaksi. Harta tidak boleh diperoleh melalui cara yang batil, manipulasi, penipuan, maupun pemaksaan.[7]

2.             Hadis

Nabi Muhammad saw. juga memberikan pedoman mengenai transaksi jual beli. Salah satu hadis menjelaskan adanya hak memilih bagi penjual dan pembeli selama mereka belum berpisah dari majelis akad.

Hadis tersebut menjadi salah satu dasar pembahasan mengenai khiyar majlis dalam fiqih jual beli.[8]

3.             Ijma'

Jual beli pada prinsipnya telah diterima oleh para ulama sebagai transaksi yang dibolehkan. Kehidupan manusia membutuhkan pertukaran barang dan jasa, sehingga jual beli merupakan salah satu bentuk muamalah yang memiliki manfaat besar bagi kehidupan masyarakat.[9]

 

D.           Hukum Asal Jual Beli

Hukum asal jual beli adalah mubah atau boleh, selama transaksi tersebut memenuhi ketentuan syariat. Kaidah tersebut sejalan dengan prinsip bahwa muamalah pada dasarnya diperbolehkan selama tidak terdapat dalil yang melarang.

Namun, hukum jual beli dapat berubah sesuai dengan kondisi dan praktiknya.

Jual beli dapat menjadi:

1.             Wajib, apabila jual beli diperlukan untuk memenuhi kebutuhan tertentu yang bersifat wajib dan tidak dapat diperoleh dengan cara lain.

2.             Sunnah, apabila jual beli tersebut memberikan manfaat dan dilakukan dalam kondisi yang dianjurkan.

3.             Mubah, apabila dilakukan secara normal dan memenuhi ketentuan syariat.

4.             Makruh, apabila terdapat unsur yang tidak baik tetapi belum sampai pada tingkat larangan.

5.             Haram, apabila mengandung unsur yang dilarang, seperti riba, penipuan, gharar berat, perjudian, atau objek yang haram.

 

E.            Rukun Jual Beli

Rukun merupakan unsur pokok yang harus ada agar akad jual beli dapat terbentuk.

Secara umum rukun jual beli meliputi:

1.             PenjuaL

Penjual adalah pihak yang menawarkan dan menyerahkan barang atau objek transaksi.

2.             Pembeli

Pembeli adalah pihak yang menerima barang dan memberikan harga atau kompensasi sesuai kesepakatan.

3.             Objek jual beli

Objek jual beli dapat berupa barang atau manfaat yang dibenarkan syariat dan dapat menjadi objek akad.

4.             Shighat atau akad

5.             Shighat adalah bentuk pernyataan kesepakatan antara penjual dan pembeli, yang lazim disebut ijab dan qabul.

 

Sebagian literatur menjelaskan rukun jual beli melalui tiga komponen utama, yaitu pihak yang berakad ('aqid), objek akad (ma'qud 'alaih), dan shighat yang meliputi ijab dan qabul.[10]

 

F.            Syarat-Syarat Jual Beli

Agar jual beli sah, terdapat sejumlah persyaratan yang harus diperhatikan.

1.             Syarat bagi penjual dan pembeli

Penjual dan pembeli harus memiliki kecakapan untuk melakukan transaksi. Kecakapan tersebut berkaitan dengan kemampuan memahami akad dan bertindak secara sadar.

2.             Syarat objek jual beli

Objek transaksi harus:

·                Halal menurut syariat.

·                Memiliki nilai/manfaat.

·                Dapat diketahui sifat dan karakteristiknya.

·                Dapat diserahterimakan.

·                Berada dalam kepemilikan atau kewenangan pihak yang menjual.

·                Tidak mengandung ketidakjelasan yang merusak akad.

3.             Syarat harga

Harga harus diketahui dan disepakati oleh kedua belah pihak. Harga tidak boleh mengandung ketidakjelasan yang dapat menimbulkan perselisihan.

4.             Syarat akad

Akad harus menunjukkan adanya kesepakatan antara penjual dan pembeli. Kesepakatan tersebut tidak boleh diperoleh melalui paksaan atau penipuan.

 

G.           Pihak-Pihak yang Melakukan Akad

Dalam jual beli terdapat dua pihak utama, yaitu penjual dan pembeli.

Keduanya memiliki hak dan kewajiban. Penjual berkewajiban menyerahkan barang sesuai dengan kesepakatan, sedangkan pembeli berkewajiban memberikan pembayaran sesuai harga yang telah disepakati.

Hubungan tersebut harus didasarkan pada prinsip:

·                Kejujuran.

·                Kerelaan.

·                Amanah.

·                Keadilan.

·                Transparansi.

·                Tidak merugikan.

 

H.           Objek Jual Beli

Objek jual beli merupakan sesuatu yang dipertukarkan dalam akad.

Dalam Islam objek transaksi tidak boleh sembarangan. Barang yang diperjualbelikan harus memenuhi ketentuan syariat.

Contohnya, seorang pedagang menjual makanan yang halal, jumlahnya jelas, kualitasnya diketahui, harga diketahui, serta barang dapat diserahkan kepada pembeli.

Sebaliknya, transaksi menjadi bermasalah apabila barang tidak jelas, tidak dapat diserahkan, bukan milik penjual, atau mengandung unsur yang diharamkan.

 

I.              Ijab dan Qabul

Ijab dan qabul merupakan bentuk kesepakatan antara penjual dan pembeli. Dalam jual beli tradisional, ijab dan qabul dapat dilakukan secara lisan.

Contohnya:

Penjual: “Saya jual buku ini dengan harga Rp50.000.”

Pembeli: “Saya beli.”

Dalam transaksi modern, bentuk kesepakatan dapat berubah. Misalnya pembeli memilih produk, menyetujui harga, melakukan pembayaran, kemudian penjual memproses pesanan.

Perkembangan teknologi menyebabkan akad dapat dilakukan melalui media elektronik. Jual beli online kemudian menjadi salah satu bentuk muamalah kontemporer yang perlu dinilai berdasarkan prinsip dan rukun jual beli.[11]

 

J.             Prinsip-Prinsip Jual Beli dalam Islam

Jual beli Islam mempunyai beberapa prinsip penting.

1.             Prinsip kerelaan

Transaksi harus dilakukan atas dasar suka sama suka.

2.             Prinsip kejujuran

Penjual harus memberikan informasi yang benar mengenai barang.

3.             Prinsip keadilan

Penjual tidak boleh mengambil keuntungan melalui cara yang merugikan pembeli.

4.             Prinsip amanah

Penjual harus menyerahkan barang sesuai dengan kesepakatan.

5.             Prinsip transparansi

Informasi mengenai barang, harga, kualitas, jumlah, dan kondisi harus dijelaskan secara wajar.

6.             Prinsip tidak merugikan

Transaksi tidak boleh digunakan untuk menzalimi atau mengambil keuntungan dengan cara yang batil.

7.             Prinsip bebas riba

Transaksi harus terbebas dari praktik riba.

8.             Prinsip bebas gharar

Transaksi tidak boleh memiliki ketidakjelasan yang berlebihan sehingga menimbulkan perselisihan.

9.             Prinsip objek yang halal

Barang yang diperjualbelikan harus halal dan memiliki manfaat yang dibenarkan syariat.

 

K.           Macam-Macam Jual Beli

Jual beli dapat dibedakan berdasarkan objek, cara pembayaran, dan bentuk akad.

1.             Jual beli tunai

Pembayaran dan penyerahan barang dilakukan secara langsung.

2.             Jual beli kredit

Barang diserahkan terlebih dahulu atau sesuai kesepakatan, sedangkan pembayaran dilakukan secara bertahap.

3.             Jual beli salam

Pembayaran dilakukan di awal, sementara barang diserahkan kemudian sesuai spesifikasi yang telah disepakati.

4.             Jual beli istishna'

Jual beli berdasarkan pesanan pembuatan suatu barang dengan spesifikasi tertentu.

5.             Jual beli murabahah

Jual beli dengan menjelaskan harga perolehan barang dan keuntungan yang disepakati.

6.             Jual beli online

Transaksi dilakukan menggunakan media elektronik atau internet.

Jual beli online dapat dikategorikan sebagai perkembangan muamalah kontemporer. Prinsip dasarnya tetap mengacu pada rukun dan syarat jual beli.[12]

 

L.            Jual Beli yang Diperbolehkan

Jual beli yang diperbolehkan adalah transaksi yang memenuhi ketentuan syariat.

Contohnya:

1.             Menjual makanan halal dengan harga yang disepakati.

2.             Menjual pakaian dengan kondisi barang yang jelas.

3.             Menjual buku yang menjadi milik penjual.

4.             Menjual barang secara online dengan deskripsi yang benar.

5.             Menjual barang secara kredit dengan harga dan jangka waktu yang jelas.

6.             Jual beli pesanan dengan spesifikasi yang jelas.

Pada dasarnya, selama rukun dan syarat terpenuhi dan tidak terdapat unsur terlarang, jual beli dapat dilakukan.

 

M.          Jual Beli yang Dilarang dalam Islam

Islam melarang transaksi yang mengandung unsur kezaliman, penipuan, gharar, riba, atau bentuk pengambilan harta orang lain secara batil.

Beberapa bentuk jual beli yang dilarang antara lain:

1.             Jual beli barang haram

Barang yang secara syariat diharamkan tidak boleh menjadi objek transaksi.

2.             Jual beli gharar

Gharar adalah transaksi yang mengandung ketidakjelasan atau risiko yang berlebihan terhadap objek atau hasil transaksi.

3.             Jual beli dengan penipuan

Penjual menyembunyikan cacat barang atau memberikan informasi palsu kepada pembeli.

4.             Jual beli najasy

Najasy adalah tindakan menaikkan harga secara palsu untuk memengaruhi pembeli agar membeli dengan harga lebih tinggi.

Kajian Muhammad Zaki menjelaskan bahwa najasy dapat berbentuk menaikkan harga tanpa niat membeli, memberikan pujian palsu terhadap barang, atau menciptakan permintaan palsu.[13]

5.             Jual beli ghubn

Ghubn merupakan bentuk kecurangan atau penipuan yang menyebabkan salah satu pihak memperoleh harga yang sangat tidak wajar dibandingkan kondisi normal.[14]

6.             Jual beli yang mengandung riba

Riba merupakan tambahan yang dilarang dalam transaksi tertentu dan menjadi salah satu unsur yang harus dihindari dalam kegiatan ekonomi Islam.

7.             Jual beli dengan menyembunyikan cacat

Penjual mengetahui bahwa barang memiliki kerusakan, tetapi sengaja tidak memberitahukannya kepada pembeli.

 

N.           Gharar dalam Jual Beli

Gharar merupakan salah satu unsur yang harus dihindari dalam transaksi. Dalam konteks jual beli, gharar berkaitan dengan ketidakjelasan yang dapat menyebabkan salah satu pihak menghadapi risiko yang tidak diketahui secara wajar.

Contohnya:

·                Barang tidak jelas bentuknya.

·                Jumlah barang tidak diketahui.

·                Harga tidak jelas.

·                Waktu penyerahan tidak jelas.

·                Barang tidak dapat dipastikan keberadaannya.

·                Kualitas barang tidak diketahui.

Gharar dapat menyebabkan perselisihan antara penjual dan pembeli. Oleh sebab itu, Islam menekankan transparansi dan kejelasan dalam transaksi.

 

O.           Riba dalam Jual Beli

Riba merupakan salah satu praktik ekonomi yang secara tegas dilarang dalam Islam. QS. Al-Baqarah ayat 275 secara eksplisit menyatakan bahwa Allah menghalalkan jual beli dan mengharamkan riba.

Perbedaan antara jual beli dan riba harus dipahami dengan baik. Jual beli merupakan pertukaran barang atau manfaat dengan kompensasi berdasarkan akad yang dibenarkan, sedangkan riba berkaitan dengan tambahan yang dilarang syariat dalam transaksi tertentu.

Oleh karena itu, seorang muslim harus memahami struktur akad yang digunakan agar tidak menganggap setiap keuntungan sebagai riba, tetapi juga tidak menjadikan istilah jual beli sebagai cara untuk menyamarkan praktik riba.

 

P.            Tadlis dan Penipuan dalam Jual Beli

Tadlis berkaitan dengan tindakan menyembunyikan informasi penting mengenai objek transaksi sehingga pembeli tidak mengetahui kondisi sebenarnya.

Contohnya:

·                Menyembunyikan cacat barang.

·                Menampilkan foto yang tidak sesuai dengan barang sebenarnya.

·                Menyatakan barang baru padahal barang bekas.

·                Mengurangi ukuran atau timbangan.

·                Menggunakan keterangan palsu.

·                Mengklaim kualitas yang tidak sesuai kenyataan.

Praktik semacam itu bertentangan dengan prinsip kejujuran dalam Islam.

Penelitian mengenai kecurangan timbangan menunjukkan bahwa manipulasi ukuran atau timbangan merupakan praktik yang dilarang karena bertentangan dengan prinsip keadilan dalam transaksi.[15]

 

Q.           Khiyar dalam Jual Beli

1.             Pengertian khiyar

Khiyar adalah hak untuk memilih antara meneruskan atau membatalkan akad berdasarkan alasan yang dibenarkan syariat atau berdasarkan kesepakatan ketika akad berlangsung.

Khiyar memiliki fungsi perlindungan bagi penjual maupun pembeli.

2.             Khiyar majlis

Khiyar majlis merupakan hak memilih selama penjual dan pembeli masih berada dalam majelis akad, berdasarkan pendapat ulama yang mengakui bentuk khiyar tersebut.

3.             Khiyar syarat

Khiyar syarat adalah hak memilih yang disepakati dalam akad selama jangka waktu tertentu.

Contohnya, penjual dan pembeli sepakat bahwa pembeli memiliki waktu dua hari untuk memutuskan apakah transaksi dilanjutkan atau dibatalkan.

4.             Khiyar aib

Khiyar aib merupakan hak pembeli untuk membatalkan atau melanjutkan transaksi apabila setelah akad diketahui adanya cacat pada barang yang sebelumnya tidak diketahui.

Penelitian mengenai praktik khiyar aib pada transaksi pakaian grosir menunjukkan bahwa dalam praktik masyarakat terdapat berbagai bentuk penyelesaian, seperti penggantian barang, potongan harga, atau pembatalan transaksi.[16]

6.             Khiyar ru'yah

Khiyar ru'yah berkaitan dengan hak memilih setelah seseorang melihat barang yang sebelumnya belum dilihat secara langsung.

Khiyar menunjukkan bahwa Islam memberikan perlindungan kepada para pihak agar transaksi tidak menimbulkan kerugian yang tidak wajar.


 

R.           Etika Jual Beli dalam Islam

Jual beli bukan hanya persoalan sah atau tidak sah, tetapi juga persoalan akhlak.

Pedagang muslim hendaknya menerapkan etika berikut:

1.             Jujur

Pedagang harus memberikan informasi yang benar.

2.             Amanah

Barang yang dijual harus sesuai dengan kesepakatan.

3.             Tidak mengurangi timbangan

Ukuran dan jumlah barang harus sesuai.

4.             Tidak menipu

Penjual tidak boleh memberikan informasi palsu.

5.             Tidak bersumpah secara berlebihan

Pedagang tidak seharusnya menggunakan sumpah sebagai alat untuk memengaruhi pembeli secara tidak benar.

6.             Tidak menyembunyikan cacat

Kondisi barang harus dijelaskan dengan transparan.

7.             Tidak melakukan monopoli yang merugikan

Keuntungan tidak boleh diperoleh dengan cara merusak mekanisme pasar dan merugikan masyarakat.

8.             Memberikan hak khiyar

Apabila terdapat alasan yang dibenarkan, hak pembeli atau penjual untuk memilih harus dihormati.


 

S.             Jual Beli Online dalam Perspektif Fiqih Muamalah

Perkembangan internet telah mengubah cara masyarakat melakukan transaksi. Pembeli tidak lagi harus datang langsung ke toko. Produk dapat dilihat melalui gambar atau video, pesanan dilakukan melalui aplikasi, pembayaran dilakukan secara elektronik, kemudian barang dikirim melalui jasa pengiriman.

Jual beli online termasuk persoalan muamalah kontemporer. Chotimah menjelaskan bahwa transaksi online menggunakan sarana elektronik/internet dan dalam praktiknya berkaitan dengan ketentuan rukun dan syarat jual beli.[17]

Khatimah, Nuradi, dan Alim juga menyimpulkan bahwa konsep jual beli dalam Islam dapat diterapkan pada marketplace selama prinsip fiqih muamalah tetap dipenuhi.[18]

Jual beli online dapat dianggap sah apabila:

1.             Penjual dan pembeli jelas.

2.             Barang yang dijual halal.

3.             Spesifikasi barang jelas.

4.             Harga jelas.

5.             Cara pembayaran jelas.

6.             Cara pengiriman jelas.

7.             Waktu penyerahan dapat diketahui.

8.             Tidak terdapat penipuan.

9.             Tidak terdapat riba.

10.         Tidak terdapat gharar yang merusak akad.

11.         Tidak terdapat manipulasi informasi.

Contoh transaksi online yang sesuai prinsip syariah:

Seorang penjual menawarkan sebuah buku melalui marketplace dengan harga Rp75.000. Penjual menampilkan foto buku, menjelaskan judul, penerbit, tahun terbit, kondisi, jumlah halaman, serta ongkos pengiriman. Pembeli membaca informasi tersebut, menyetujui harga, melakukan pembayaran, kemudian penjual mengirimkan buku sesuai pesanan.

Transaksi seperti itu pada dasarnya dapat diperbolehkan karena objek, harga, dan mekanisme transaksi dapat diketahui.

Sebaliknya, apabila penjual sengaja menggunakan foto palsu, menyembunyikan cacat, memberikan ukuran palsu, atau menaikkan harga dengan permintaan palsu, maka transaksi tersebut bermasalah dari sudut pandang prinsip syariah.

 

T.            Contoh Penerapan Jual Beli yang Sesuai Syariah

Contoh 1: Jual beli makanan

Seorang pedagang menjual nasi dengan harga yang telah ditentukan. Makanan tersebut halal, jumlahnya jelas, pembeli mengetahui harga, dan penjual tidak mengurangi ukuran.

Hukum: diperbolehkan.

 

Contoh 2: Jual beli pakaian

Penjual menjelaskan bahwa pakaian memiliki sedikit cacat pada bagian tertentu dan memberikan potongan harga.

Hukum: diperbolehkan selama pembeli mengetahui dan menyetujuinya.

 

Contoh 3: Jual beli online

Penjual menawarkan telepon genggam dengan informasi kondisi barang, kapasitas, kelengkapan, harga, dan garansi secara jelas.

Hukum: dapat diperbolehkan selama tidak ada unsur yang dilarang.

 

Contoh 4: Menyembunyikan cacat

Penjual mengetahui bahwa mesin barang rusak tetapi tidak memberitahukan kepada pembeli.

Hukum: termasuk praktik yang bertentangan dengan etika dan prinsip kejujuran jual beli.

 

Contoh 5: Harga palsu

Penjual meminta seseorang berpura-pura menawar dengan harga tinggi agar calon pembeli mengira harga barang memang tinggi.

Hukum: termasuk bentuk najasy yang dilarang.

 

U.           Hikmah dan Tujuan Disyariatkannya Jual Beli

Jual beli memiliki berbagai hikmah, antara lain:

1.             Memenuhi kebutuhan manusia

Tidak semua orang menghasilkan barang yang sama. Melalui jual beli, kebutuhan dapat dipenuhi.

2.             Membangun hubungan sosial

Jual beli menciptakan hubungan antara penjual dan pembeli.

3.             Mendorong aktivitas ekonomi

Perdagangan membantu perputaran barang dan harta dalam masyarakat.

4.             Mendorong kejujuran

Islam mengajarkan bahwa perdagangan harus dilakukan dengan amanah.

5.             Mencegah kezaliman

Aturan jual beli dibuat agar tidak ada pihak yang dirugikan secara batil.

6.             Menumbuhkan sikap tanggung jawab

Penjual bertanggung jawab atas barang yang ditawarkan.

7.             Mewujudkan kemaslahatan

Transaksi yang baik memberikan manfaat bagi kedua belah pihak.

 

V.           Relevansi Pembelajaran Jual Beli bagi Pendidikan MI

Sebagai mahasiswa PGMI, pembelajaran fiqih muamalah tidak berhenti pada pemahaman teori. Pengetahuan tersebut dapat diterapkan dalam pendidikan karakter peserta didik di Madrasah Ibtidaiyah.

Guru dapat mengajarkan nilai-nilai jual beli melalui kegiatan sederhana.

Misalnya:

1.             Mengajarkan kejujuran saat berdagang.

2.             Mengajarkan tidak mengurangi timbangan.

3.             Mengajarkan meminta izin sebelum mengambil barang.

4.             Mengajarkan mengembalikan barang yang bukan miliknya.

5.             Mengajarkan tidak berbohong tentang harga.

6.             Mengajarkan sikap amanah.

7.             Mengajarkan tanggung jawab.

8.             Mengajarkan menghormati hak orang lain.

Pembelajaran jual beli dapat dikaitkan dengan pendidikan karakter. Peserta didik tidak hanya mengetahui hukum jual beli, tetapi juga memahami bahwa aktivitas ekonomi harus dilakukan dengan akhlak yang baik.

Guru dapat memberikan simulasi pasar sederhana di kelas. Sebagian peserta didik berperan sebagai penjual, sebagian lainnya menjadi pembeli. Dalam simulasi tersebut guru dapat memberikan contoh transaksi yang jujur dan transaksi yang mengandung penipuan, kemudian meminta siswa membandingkan keduanya.


 

BAB III

PENUTUP

A.           Kesimpulan

Jual beli merupakan salah satu bentuk muamalah yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Islam pada dasarnya menghalalkan jual beli selama transaksi tersebut dilakukan sesuai dengan ketentuan syariat. Dasar kebolehan jual beli terdapat dalam Al-Qur'an, hadis, dan kesepakatan ulama.

Jual beli harus memenuhi rukun dan syarat, antara lain adanya penjual dan pembeli, objek transaksi, serta ijab dan qabul. Objek yang diperjualbelikan harus halal, memiliki manfaat, jelas, dapat diserahterimakan, dan berada dalam kepemilikan atau kewenangan pihak yang menjual.

Dalam pelaksanaannya, jual beli harus dilandasi kerelaan, kejujuran, keadilan, amanah, transparansi, dan tanggung jawab. Islam melarang berbagai transaksi yang mengandung unsur riba, gharar, penipuan, tadlis, najasy, ghubn, serta transaksi terhadap objek yang diharamkan.

Islam juga mengenal konsep khiyar sebagai bentuk perlindungan terhadap penjual dan pembeli. Khiyar memberikan kesempatan kepada pihak yang berakad untuk melanjutkan atau membatalkan transaksi dalam keadaan tertentu yang dibenarkan syariat.

Perkembangan teknologi menyebabkan jual beli online menjadi bagian dari kehidupan masyarakat modern. Pada prinsipnya jual beli online dapat diperbolehkan selama rukun dan syaratnya terpenuhi serta tidak mengandung unsur yang dilarang. Dengan demikian, perkembangan teknologi tidak menghilangkan prinsip-prinsip dasar fiqih muamalah.

B.            Saran

Mahasiswa diharapkan tidak hanya memahami teori jual beli, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari. Setiap transaksi sebaiknya dilakukan secara jujur, transparan, dan tidak merugikan pihak lain.

Mahasiswa PGMI sebagai calon pendidik juga diharapkan mampu mengajarkan prinsip-prinsip muamalah kepada peserta didik melalui pembelajaran yang sederhana, konkret, dan sesuai dengan tingkat perkembangan anak.

Selain itu, masyarakat perlu meningkatkan pemahaman mengenai fiqih muamalah, terutama dalam menghadapi perkembangan transaksi digital. Kehati-hatian diperlukan agar kemudahan teknologi tidak menyebabkan seseorang terjerumus pada penipuan, gharar, riba, manipulasi harga, atau bentuk transaksi yang dilarang syariat.

DAFTAR PUSTAKA

 

Al-Qur’an al-Karim.

Chotimah, Chusnul. “Jual Beli Online Bentuk Muamalah di Masa Modern.” LABATILA: Jurnal Ilmu Ekonomi Islam 2, no. 2 (2018): 135–144.

Khatimah, Husnul, Nuradi Nuradi, dan Akhmad Alim. “Konsep Jual Beli dalam Islam dan Implementasinya pada Marketplace.” Jurnal Ilmiah Ekonomi Islam 10, no. 1 (2024): 43–57.

Mardani. Fiqh Ekonomi Syariah: Fiqh Muamalah. Jakarta: Kencana, 2013.

Mustofa, Imam. Fiqh Muamalah Kontemporer. Jakarta: Rajawali Pers, 2016.

Nurfaizah, Indah, dan Delta Okta Piana Sari. “Hukum Kecurangan Timbangan Bagi Pedagang Terhadap Konsep Jual Beli Dalam Islam.” Hutanasyah: Jurnal Hukum Tata Negara 2, no. 2 (2024): 131–142.

Putri, Widya Amanda, Hervina, dan Sulthon Fathoni. “Tinjauan Fikih Muamalah tentang Khiyar Aib dalam Transaksi Jual Beli Pakaian Grosir di Pasar Pagi Kota Samarinda.” QONUN: Jurnal Hukum Islam dan Perundang-undangan 5, no. 2 (2021): 172–195.

Salwa, Nikmatus, dan Ahmad Luthfi. “Jual Beli Dalam Perspektif Islam.” Al-Mizan: Jurnal Ekonomi Syariah 8, no. 1 (2025): 41–48.

Siswadi, dan Wilda Ainun Najihah. “Jual Beli yang Dilarang (Fasid/Bathil) dalam Pandangan Hukum Islam.” Opportunity: Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat 1, no. 2 (2023): 85–94.

Suhendi, Hendi. Fiqh Muamalah. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2008.

Zainuddin. “Tafsir Al-Qur’an tentang Jual Beli.” Jurnal Ilmiah Al-Mu'ashirah: Media Kajian Al-Qur'an dan Al-Hadits Multi Perspektif 17, no. 2 (2020).

Zaki, Muhammad. “Jual Beli Terlarang Dalam Perspektif Fikih Mu’amalah (Ba’i an-Najsy dan Ba’i al-Ghubn).” ISTIKHLAF: Jurnal Ekonomi, Perbankan dan Manajemen Syariah 3, no. 1 (2021): 20–25.


 

SUMBER JURNAL ONLINE YANG DAPAT DICEK

1.             Khatimah, Nuradi, dan Alim, “Konsep Jual Beli dalam Islam dan Implementasinya pada Marketplace”, Jurnal Ilmiah Ekonomi Islam, 10 (1), 43–57 (2024).

2.             Chotimah, “Jual Beli Online Bentuk Muamalah di Masa Modern”, LABATILA, 2 (2), 135–144 (2018).

3.             Zaki, “Jual Beli Terlarang Dalam Perspektif Fikih Mu’amalah (Ba’i an-Najsy dan Ba’i al-Ghubn)”, ISTIKHLAF, 3(1), 20–25 (2021).

4.             Putri, Hervina, dan Fathoni, “Tinjauan Fikih Muamalah tentang Khiyar Aib...”, QONUN, 5(2), 172–195 (2021).

5.             Nurfaizah dan Sari, “Hukum Kecurangan Timbangan Bagi Pedagang Terhadap Konsep Jual Beli Dalam Islam”, Hutanasyah, 2(2), 131–142 (2024).

6.             Salwa dan Luthfi, “Jual Beli Dalam Perspektif Islam”, Al-Mizan: Jurnal Ekonomi Syariah, 8(1), 41–48 (2025).

 



[1] Zainuddin, “Tafsir Al-Qur’an tentang Jual Beli,” Jurnal Ilmiah Al-Mu'ashirah: Media Kajian Al-Qur'an dan Al-Hadits Multi Perspektif, Vol. 17, No. 2 (2020).

 

[2] Husnul Khatimah, Nuradi, dan Akhmad Alim, “Konsep Jual Beli dalam Islam dan Implementasinya pada Marketplace,” Jurnal Ilmiah Ekonomi Islam, Vol. 10, No. 1 (2024), hlm. 43–57.

[3] Chusnul Chotimah, “Jual Beli Online Bentuk Muamalah di Masa Modern,” LABATILA: Jurnal Ilmu Ekonomi Islam, Vol. 2, No. 2 (2018), hlm. 135–144.

[4] Husnul Khatimah, Nuradi, dan Akhmad Alim, “Konsep Jual Beli dalam Islam dan Implementasinya pada Marketplace,” Jurnal Ilmiah Ekonomi Islam, Vol. 10, No. 1 (2024), hlm. 43–57.

[5] Muhammad Zaki, “Jual Beli Terlarang Dalam Perspektif Fikih Mu’amalah (Ba’i an-Najsy dan Ba’i al-Ghubn),” ISTIKHLAF: Jurnal Ekonomi, Perbankan dan Manajemen Syariah, Vol. 3, No. 1 (2021), hlm. 20.

[6] Kementerian Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, QS. Al-Baqarah [2]: 275. Rujukan ayat tersebut juga digunakan dalam Muhammad Zaki, “Jual Beli Terlarang dalam Perspektif Fikih Mu’amalah,” hlm. 20–21.

[7] Kementerian Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, QS. An-Nisa’ [4]: 29. Rujukan ayat dan terjemahannya dicantumkan pula dalam Muhammad Zaki, “Jual Beli Terlarang dalam Perspektif Fikih Mu’amalah,” hlm. 21.

[8] Muhammad Zaki, “Jual Beli Terlarang dalam Perspektif Fikih Mu’amalah,” hlm. 21. Artikel tersebut mencantumkan hadis tentang hak khiyar bagi pihak yang melakukan transaksi jual beli.

[9] Muhammad Zaki, “Jual Beli Terlarang dalam Perspektif Fikih Mu’amalah,” hlm. 21.

[10] Siswadi dan Wilda Ainun Najihah, “Jual Beli yang Dilarang (Fasid/Bathil) dalam Pandangan Hukum Islam,” Opportunity: Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, Vol. 1, No. 2 (2023), hlm. 85–94. Artikel tersebut menjelaskan unsur pokok jual beli berupa pihak yang berakad, objek akad, dan shighat.

[11] Chusnul Chotimah, “Jual Beli Online Bentuk Muamalah di Masa Modern,” LABATILA, Vol. 2, No. 2 (2018), hlm. 135–144.

[12] Husnul Khatimah, Nuradi, dan Akhmad Alim, “Konsep Jual Beli dalam Islam dan Implementasinya pada Marketplace,” Jurnal Ilmiah Ekonomi Islam, Vol. 10, No. 1 (2024), hlm. 43–57.

[13] Muhammad Zaki, “Jual Beli Terlarang dalam Perspektif Fikih Mu’amalah (Ba’i an-Najsy dan Ba’i al-Ghubn),” ISTIKHLAF, Vol. 3, No. 1 (2021), hlm. 22–23.

[14] Muhammad Zaki, “Jual Beli Terlarang dalam Perspektif Fikih Mu’amalah,” hlm. 24.

[15] Indah Nurfaizah dan Delta Okta Piana Sari, “Hukum Kecurangan Timbangan Bagi Pedagang Terhadap Konsep Jual Beli Dalam Islam,” Hutanasyah: Jurnal Hukum Tata Negara, Vol. 2, No. 2 (2024), hlm. 131–142.

[16] Widya Amanda Putri, Hervina, dan Sulthon Fathoni, “Tinjauan Fikih Muamalah tentang Khiyar Aib dalam Transaksi Jual Beli Pakaian Grosir di Pasar Pagi Kota Samarinda,” QONUN: Jurnal Hukum Islam dan Perundang-undangan, Vol. 5, No. 2 (2021), hlm. 172–195.

[17] Chusnul Chotimah, “Jual Beli Online Bentuk Muamalah di Masa Modern,” LABATILA: Jurnal Ilmu Ekonomi Islam, Vol. 2, No. 2 (2018), hlm. 135–144.

[18] Husnul Khatimah, Nuradi, dan Akhmad Alim, “Konsep Jual Beli dalam Islam dan Implementasinya pada Marketplace,” Jurnal Ilmiah Ekonomi Islam, Vol. 10, No. 1 (2024), hlm. 43–57.

 

0 komentar:

Posting Komentar