Selasa, 28 Juli 2026

 

MAKALAH ULUMUL QUR’AN

 

PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP AL-QUR’AN

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Ulumul Qur’an

 

DOSEN PENGAMPU :


 



 

 

DISUSUN OLEH :

HANDI PRANATA

Program Studi : Ekonomi Syariah

 

INSTITUT AGAMA ISLAM NUSANTARA

ASH-SHIDDIQIYAH

TAHUN AKADEMIK 2026

Jl. Lintas Timur Desa Lubuk Seberuk Kecamatan Lempuing Jaya

Kabupaten Ogan Komering Ilir

Sumatera Selatan

30657


 

KATA PENGANTAR

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْمِ

Puji syukur ke hadirat Allah Swt. atas rahmat, taufik, dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Sejarah Turunnya Al-Qur’an”. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi Muhammad saw., keluarga, para sahabat, dan seluruh umatnya yang istiqamah mengikuti petunjuk beliau.

Makalah ini membahas sejarah turunnya Al-Qur’an, khususnya hubungan turunnya Al-Qur’an dengan bulan Ramadan, malam Lailatul Qadar, serta proses turunnya Al-Qur’an secara bertahap kepada Nabi Muhammad saw. Kajian ini penting dalam Ulumul Qur’an karena sejarah turunnya Al-Qur’an membantu memahami kedudukan wahyu, konteks pewahyuan, dan hikmah diturunkannya Al-Qur’an secara berangsur-angsur.

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih memiliki kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan demi penyempurnaan karya ini. Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi pembaca dan menambah wawasan dalam memahami sejarah turunnya Al-Qur’an.

Penulis


 

DAFTAR ISI

BAB I. 4

A. Latar Belakang. 4

B. Rumusan Masalah. 4

C. Tujuan. 5

BAB II. 6

A. Al-Qur’an Diturunkan pada Bulan Ramadan. 6

B. Lailatul Qadar 6

C. Al-Qur’an Diturunkan Secara Bertahap. 7

D. Hikmah Turunnya Al-Qur’an Secara Bertahap. 8

E. Awal Turunnya Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad saw. 9

BAB III. 10

A. Kesimpulan. 10

B. Saran. 10

 


 

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Al-Qur’an merupakan kitab suci umat Islam dan sumber utama ajaran Islam. Al-Qur’an diyakini sebagai kalam Allah Swt. yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. melalui perantaraan Malaikat Jibril sebagai petunjuk bagi manusia. Karena itu, sejarah turunnya Al-Qur’an menjadi salah satu pembahasan penting dalam Ulumul Qur’an.

Pembahasan mengenai sejarah turunnya Al-Qur’an tidak hanya berkaitan dengan kapan dan di mana Al-Qur’an diturunkan, tetapi juga menyangkut hubungan antara Al-Qur’an dengan bulan Ramadan, malam Lailatul Qadar, serta proses pewahyuan yang berlangsung secara bertahap. Al-Qur’an menyebutkan bahwa ia diturunkan pada bulan Ramadan dan pada malam yang penuh kemuliaan. Di sisi lain, Al-Qur’an juga menjelaskan bahwa proses penyampaiannya kepada Nabi Muhammad saw. berlangsung secara berangsur-angsur.

Pemahaman terhadap sejarah turunnya Al-Qur’an sangat penting karena membantu umat Islam memahami bahwa pewahyuan Al-Qur’an berlangsung dalam konteks kehidupan manusia. Ayat-ayat Al-Qur’an turun sesuai dengan kehendak Allah Swt., kebutuhan dakwah, dan berbagai peristiwa yang dihadapi oleh Nabi Muhammad saw. Turunnya Al-Qur’an secara bertahap juga memiliki hikmah pendidikan, spiritual, dan sosial.

Oleh sebab itu, kajian mengenai sejarah turunnya Al-Qur’an perlu dilakukan secara sistematis dengan merujuk kepada Al-Qur’an, hadis, kitab-kitab Ulumul Qur’an, dan kajian akademik. Dengan demikian, pembahasan ini diharapkan dapat memberikan gambaran yang utuh mengenai sejarah turunnya Al-Qur’an.

B. Rumusan Masalah

1. Bagaimana Al-Qur’an diturunkan pada bulan Ramadan?

2. Apa yang dimaksud dengan Lailatul Qadar dan bagaimana kaitannya dengan turunnya Al-Qur’an?

3. Bagaimana proses turunnya Al-Qur’an secara bertahap?

4. Apa hikmah dari proses turunnya Al-Qur’an secara bertahap?

C. Tujuan

1. Menjelaskan hubungan turunnya Al-Qur’an dengan bulan Ramadan.

2. Menjelaskan pengertian dan kedudukan Lailatul Qadar dalam sejarah turunnya Al-Qur’an.

3. Menguraikan proses turunnya Al-Qur’an secara bertahap.

4. Menjelaskan hikmah diturunkannya Al-Qur’an secara berangsur-angsur.


 

BAB II

PEMBAHASAN

A. Al-Qur’an Diturunkan pada Bulan Ramadan

Al-Qur’an memiliki hubungan yang sangat erat dengan bulan Ramadan. Allah Swt. berfirman dalam QS. al-Baqarah [2]: 185: “Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia, penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang benar dan yang batil.” Ayat ini menunjukkan kemuliaan bulan Ramadan sebagai bulan turunnya Al-Qur’an.

Pernyataan bahwa Al-Qur’an diturunkan pada bulan Ramadan juga berkaitan dengan QS. al-Dukhān [44]: 3 yang menyebutkan turunnya Al-Qur’an pada suatu malam yang diberkahi dan QS. al-Qadr [97]: 1 yang menyatakan bahwa Al-Qur’an diturunkan pada malam Lailatul Qadar. Berdasarkan ayat-ayat tersebut, para ulama membahas hubungan antara bulan Ramadan, Lailatul Qadar, dan proses turunnya Al-Qur’an.

Dalam kajian Ulumul Qur’an, sebagian besar ulama menjelaskan bahwa turunnya Al-Qur’an memiliki beberapa tahapan. Salah satu pendapat yang masyhur menyatakan bahwa Al-Qur’an diturunkan secara keseluruhan ke Bait al-‘Izzah di langit dunia pada malam Lailatul Qadar, kemudian diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. secara berangsur-angsur melalui Malaikat Jibril.

Namun, terdapat pula perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai rincian proses turunnya Al-Qur’an. Sebagian ulama menekankan bahwa ayat-ayat tentang Ramadan dan Lailatul Qadar menunjukkan permulaan turunnya Al-Qur’an, kemudian wahyu disampaikan secara bertahap kepada Nabi Muhammad saw. Perbedaan ini merupakan bagian dari diskusi ilmiah dalam Ulumul Qur’an, sedangkan kesepakatan umumnya adalah bahwa Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. secara berangsur-angsur selama masa kerasulan.

B. Lailatul Qadar

Lailatul Qadar merupakan malam yang memiliki kedudukan sangat mulia dalam Islam. Allah Swt. berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan.” (QS. al-Qadr [97]: 1). Surah al-Qadr kemudian menjelaskan bahwa malam tersebut lebih baik daripada seribu bulan dan pada malam itu para malaikat serta Ruh turun dengan izin Allah Swt.

Lailatul Qadar juga disebut sebagai malam yang diberkahi dalam QS. al-Dukhān [44]: 3. Hubungan antara Lailatul Qadar dan turunnya Al-Qur’an menunjukkan bahwa wahyu Al-Qur’an memiliki kedudukan yang sangat agung. Kemuliaan malam tersebut tidak dapat dipisahkan dari kemuliaan Al-Qur’an sebagai kalam Allah Swt. dan petunjuk bagi seluruh manusia.

Para ulama berbeda pendapat mengenai rincian proses turunnya Al-Qur’an pada Lailatul Qadar. Pendapat yang paling masyhur menjelaskan bahwa Al-Qur’an diturunkan secara keseluruhan ke langit dunia, kemudian diturunkan secara bertahap kepada Nabi Muhammad saw. selama masa kerasulan. Pendapat lain memahami bahwa Lailatul Qadar merupakan malam dimulainya proses turunnya Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad saw., lalu wahyu berlanjut secara bertahap.

Terlepas dari perbedaan penjelasan mengenai detail proses tersebut, Lailatul Qadar tetap memiliki posisi penting dalam sejarah turunnya Al-Qur’an. Malam ini menjadi simbol kemuliaan wahyu, keberkahan Ramadan, dan pentingnya hubungan manusia dengan Al-Qur’an.

C. Al-Qur’an Diturunkan Secara Bertahap

Al-Qur’an tidak diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. sekaligus dalam bentuk lengkap seperti mushaf yang dikenal umat Islam saat ini. Al-Qur’an diturunkan secara bertahap selama kurang lebih dua puluh tiga tahun, yaitu sejak awal kenabian hingga menjelang wafatnya Rasulullah saw. Masa tersebut mencakup periode Makkah sekitar tiga belas tahun dan periode Madinah sekitar sepuluh tahun.

Allah Swt. berfirman dalam QS. al-Isrā’ [17]: 106: “Dan Al-Qur’an itu telah Kami turunkan secara berangsur-angsur agar engkau membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya secara bertahap.” Ayat ini menunjukkan bahwa proses pewahyuan berlangsung secara bertahap dan memiliki tujuan tertentu.

Turunnya Al-Qur’an secara bertahap menunjukkan bahwa Al-Qur’an memiliki hubungan langsung dengan kehidupan manusia dan perkembangan masyarakat. Ayat-ayat turun dalam berbagai situasi, baik untuk memberikan petunjuk, menjawab pertanyaan, menanggapi peristiwa, memberikan peringatan, maupun membimbing umat dalam menghadapi persoalan kehidupan.

Pada periode Makkah, ayat-ayat Al-Qur’an banyak menekankan aspek tauhid, keimanan, hari akhir, kenabian, kisah umat terdahulu, dan pembentukan akhlak. Pada periode Madinah, pembahasan Al-Qur’an semakin luas dengan mencakup hukum, ibadah, muamalah, keluarga, kehidupan sosial, hubungan antarumat, dan pembentukan masyarakat Islam.

Dengan demikian, sejarah turunnya Al-Qur’an secara bertahap memperlihatkan proses pendidikan umat yang berlangsung secara sistematis. Keimanan dibangun, akhlak dibentuk, dan aturan kehidupan ditetapkan secara bertahap sesuai dengan kesiapan umat.

D. Hikmah Turunnya Al-Qur’an Secara Bertahap

1. Meneguhkan hati Nabi Muhammad saw.. Turunnya wahyu secara berkesinambungan memberikan penguatan kepada Rasulullah saw. dalam menghadapi tantangan dakwah dan penolakan kaum musyrik.

2. Memudahkan hafalan dan pemahaman.. Turunnya ayat secara bertahap memudahkan Nabi Muhammad saw. dan para sahabat untuk menghafal, memahami, dan mengamalkan kandungan Al-Qur’an.

3. Menjawab persoalan yang muncul.. Sebagian ayat turun berkaitan dengan peristiwa dan persoalan yang dihadapi masyarakat sehingga petunjuk Al-Qur’an hadir sesuai dengan kebutuhan umat.

4. Membentuk masyarakat secara bertahap.. Perubahan masyarakat dilakukan melalui proses pendidikan dan pembinaan yang berkelanjutan, bukan melalui perubahan yang mendadak.

5. Memberikan kesempatan untuk mengamalkan wahyu.. Para sahabat dapat mempelajari dan mengamalkan ayat yang turun sebelum menerima perintah atau petunjuk berikutnya.

6. Menunjukkan kemukjizatan Al-Qur’an.. Walaupun diturunkan dalam rentang waktu yang panjang dan dalam berbagai keadaan, Al-Qur’an tetap memiliki kesatuan pesan dan konsistensi ajaran.

E. Awal Turunnya Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad saw.

Menurut pendapat yang paling masyhur berdasarkan hadis riwayat al-Bukhari dan Muslim dari ‘Aisyah r.a., wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad saw. adalah lima ayat pertama dari QS. al-‘Alaq. Wahyu tersebut diterima ketika Rasulullah saw. berada di Gua Hira. Peristiwa ini menandai dimulainya kerasulan Nabi Muhammad saw. dan sejarah turunnya Al-Qur’an kepada umat manusia.

Setelah wahyu pertama, proses pewahyuan berlanjut secara bertahap. Nabi Muhammad saw. menerima wahyu melalui Malaikat Jibril dan menyampaikannya kepada para sahabat. Para sahabat menghafal ayat-ayat tersebut dan sebagian menuliskannya pada berbagai media yang tersedia. Dengan demikian, sejarah turunnya Al-Qur’an juga berkaitan erat dengan sejarah pemeliharaan dan penyampaian Al-Qur’an kepada generasi berikutnya.


 

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Sejarah turunnya Al-Qur’an merupakan salah satu kajian penting dalam Ulumul Qur’an. Al-Qur’an dikaitkan dengan bulan Ramadan sebagaimana dijelaskan dalam QS. al-Baqarah [2]: 185. Al-Qur’an juga dikaitkan dengan Lailatul Qadar, yaitu malam yang penuh kemuliaan dan keberkahan sebagaimana dijelaskan dalam QS. al-Qadr [97]: 1 dan QS. al-Dukhān [44]: 3.

Al-Qur’an kemudian diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. secara bertahap selama kurang lebih dua puluh tiga tahun. Proses ini menunjukkan hubungan erat antara wahyu dan kehidupan manusia. Turunnya Al-Qur’an secara bertahap memiliki berbagai hikmah, seperti meneguhkan hati Nabi Muhammad saw., memudahkan hafalan dan pemahaman, menjawab persoalan yang muncul, serta membentuk masyarakat secara bertahap.

Dengan memahami sejarah turunnya Al-Qur’an, umat Islam dapat memahami bahwa Al-Qur’an bukan hanya kitab suci yang dibaca, tetapi juga petunjuk yang diturunkan dalam proses pembinaan manusia dan masyarakat. Oleh karena itu, pemahaman sejarah pewahyuan menjadi dasar penting untuk memahami Al-Qur’an secara lebih mendalam.

B. Saran

Mahasiswa dan pembaca hendaknya mempelajari sejarah turunnya Al-Qur’an dengan merujuk kepada sumber-sumber primer dan karya-karya Ulumul Qur’an yang terpercaya. Kajian terhadap Al-Qur’an hendaknya dilakukan secara ilmiah, dengan memperhatikan ayat, hadis, penjelasan ulama, serta hasil penelitian akademik.

Selain itu, pemahaman terhadap sejarah turunnya Al-Qur’an hendaknya mendorong umat Islam untuk meningkatkan interaksi dengan Al-Qur’an melalui membaca, memahami, menghayati, dan mengamalkan petunjuknya dalam kehidupan sehari-hari.

CATATAN KAKI / FOOTNOTE

1. Al-Qur’an, QS. al-Baqarah [2]: 185.

2. Al-Qur’an, QS. al-Qadr [97]: 1–5.

3. Al-Qur’an, QS. al-Dukhān [44]: 3.

4. Manna‘ Khalīl al-Qaṭṭān, Mabāḥith fī ‘Ulūm al-Qur’ān (Riyadh: Maktabah al-Ma‘ārif, 2000), hlm. 100–105.

5. Muḥammad ‘Abd al-‘Aẓīm al-Zurqānī, Manāhil al-‘Irfān fī ‘Ulūm al-Qur’ān, jilid I (Kairo: Dār al-Ḥadīth, 2001), hlm. 41–45.

6. Jalāl al-Dīn al-Suyūṭī, al-Itqān fī ‘Ulūm al-Qur’ān, jilid I (Beirut: Dār Ibn Kathīr, 1996), hlm. 44–50.

7. Al-Qur’an, QS. al-Isrā’ [17]: 106.

8. Septi Aji Fitra Jaya, “Al-Qur’an dan Hadis sebagai Sumber Hukum Islam,” Indo-Islamika, Vol. 9, No. 2 (2019), hlm. 206.

9. Amroeni Drajat, Ulumul Qur’an: Pengantar Ilmu-Ilmu Al-Qur’an (Depok: Kencana, 2017), hlm. 35.

10. Ahmad von Denffer, Ilmu Al-Qur’an: Pengenalan Dasar, terj. Ahmad Nasir Budiman (Jakarta: Rajawali Pers, 1988), hlm. 23.

11. Al-Qur’an, QS. al-Furqān [25]: 32.

12. Al-Qur’an, QS. al-‘Alaq [96]: 1–5.


 

DAFTAR PUSTAKA

Al-Qur’an al-Karim.

Al-Qur’an dan Terjemahannya. Jakarta: Kementerian Agama Republik Indonesia, 2019.

Al-Qaṭṭān, Manna‘ Khalīl. Mabāḥith fī ‘Ulūm al-Qur’ān. Riyadh: Maktabah al-Ma‘ārif, 2000.

Al-Suyūṭī, Jalāl al-Dīn. Al-Itqān fī ‘Ulūm al-Qur’ān. Jilid I. Beirut: Dār Ibn Kathīr, 1996.

Al-Zurqānī, Muḥammad ‘Abd al-‘Aẓīm. Manāhil al-‘Irfān fī ‘Ulūm al-Qur’ān. Jilid I. Kairo: Dār al-Ḥadīth, 2001.

Drajat, Amroeni. Ulumul Qur’an: Pengantar Ilmu-Ilmu Al-Qur’an. Depok: Kencana, 2017.

Denffer, Ahmad von. Ilmu Al-Qur’an: Pengenalan Dasar. Diterjemahkan oleh Ahmad Nasir Budiman. Jakarta: Rajawali Pers, 1988.

Jaya, Septi Aji Fitra. “Al-Qur’an dan Hadis sebagai Sumber Hukum Islam.” Indo-Islamika, Vol. 9, No. 2, 2019, hlm. 206–217.

“Hikmah Penurunan Al-Qur’an Secara Berangsur.” Mimbar Agama Budaya, Vol. 38, No. 1, 2021, hlm. 74–89.

Jamarudin, Ade, dkk. Wawasan Ilmu Al-Qur’an Praktis. Pekanbaru: UIN Sultan Syarif Kasim Riau, 2021.

0 komentar:

Posting Komentar