MAKALAH ULUMUL QUR’AN
PENGERTIAN DAN RUANG LINGKUP AL-QUR’AN
Disusun untuk
Memenuhi Tugas Mata Kuliah Ulumul Qur’an
DOSEN
PENGAMPU :
DISUSUN
OLEH :
HANDI PRANATA
Program
Studi : Ekonomi Syariah
INSTITUT AGAMA ISLAM
NUSANTARA
ASH-SHIDDIQIYAH
TAHUN AKADEMIK 2026
Jl. Lintas Timur Desa Lubuk Seberuk
Kecamatan Lempuing Jaya
Kabupaten Ogan Komering Ilir
Sumatera Selatan
30657
KATA PENGANTAR
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ
الرَّحِيْمِ
Puji syukur ke hadirat Allah Swt. atas rahmat, taufik, dan hidayah-Nya
sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah yang berjudul “Sejarah Turunnya
Al-Qur’an”. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Nabi
Muhammad saw., keluarga, para sahabat, dan seluruh umatnya yang istiqamah
mengikuti petunjuk beliau.
Makalah ini membahas sejarah turunnya Al-Qur’an, khususnya
hubungan turunnya Al-Qur’an dengan bulan Ramadan, malam Lailatul Qadar, serta
proses turunnya Al-Qur’an secara bertahap kepada Nabi Muhammad saw. Kajian ini
penting dalam Ulumul Qur’an karena sejarah turunnya Al-Qur’an membantu memahami
kedudukan wahyu, konteks pewahyuan, dan hikmah diturunkannya Al-Qur’an secara
berangsur-angsur.
Penulis menyadari bahwa makalah ini masih memiliki
kekurangan. Oleh karena itu, kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan
demi penyempurnaan karya ini. Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi
pembaca dan menambah wawasan dalam memahami sejarah turunnya Al-Qur’an.
Penulis
DAFTAR ISI
A. Al-Qur’an Diturunkan pada Bulan Ramadan
C. Al-Qur’an Diturunkan Secara Bertahap
D. Hikmah Turunnya Al-Qur’an Secara Bertahap
E. Awal Turunnya Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad saw.
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Al-Qur’an merupakan kitab suci umat Islam dan sumber utama
ajaran Islam. Al-Qur’an diyakini sebagai kalam Allah Swt. yang diturunkan
kepada Nabi Muhammad saw. melalui perantaraan Malaikat Jibril sebagai petunjuk
bagi manusia. Karena itu, sejarah turunnya Al-Qur’an menjadi salah satu
pembahasan penting dalam Ulumul Qur’an.
Pembahasan mengenai sejarah turunnya Al-Qur’an tidak hanya
berkaitan dengan kapan dan di mana Al-Qur’an diturunkan, tetapi juga menyangkut
hubungan antara Al-Qur’an dengan bulan Ramadan, malam Lailatul Qadar, serta
proses pewahyuan yang berlangsung secara bertahap. Al-Qur’an menyebutkan bahwa
ia diturunkan pada bulan Ramadan dan pada malam yang penuh kemuliaan. Di sisi
lain, Al-Qur’an juga menjelaskan bahwa proses penyampaiannya kepada Nabi
Muhammad saw. berlangsung secara berangsur-angsur.
Pemahaman terhadap sejarah turunnya Al-Qur’an sangat penting
karena membantu umat Islam memahami bahwa pewahyuan Al-Qur’an berlangsung dalam
konteks kehidupan manusia. Ayat-ayat Al-Qur’an turun sesuai dengan kehendak
Allah Swt., kebutuhan dakwah, dan berbagai peristiwa yang dihadapi oleh Nabi
Muhammad saw. Turunnya Al-Qur’an secara bertahap juga memiliki hikmah
pendidikan, spiritual, dan sosial.
Oleh sebab itu, kajian mengenai sejarah turunnya Al-Qur’an
perlu dilakukan secara sistematis dengan merujuk kepada Al-Qur’an, hadis,
kitab-kitab Ulumul Qur’an, dan kajian akademik. Dengan demikian, pembahasan ini
diharapkan dapat memberikan gambaran yang utuh mengenai sejarah turunnya
Al-Qur’an.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana Al-Qur’an
diturunkan pada bulan Ramadan?
2. Apa yang dimaksud dengan
Lailatul Qadar dan bagaimana kaitannya dengan turunnya Al-Qur’an?
3. Bagaimana proses turunnya
Al-Qur’an secara bertahap?
4. Apa hikmah dari proses
turunnya Al-Qur’an secara bertahap?
C. Tujuan
1. Menjelaskan hubungan turunnya
Al-Qur’an dengan bulan Ramadan.
2. Menjelaskan pengertian dan
kedudukan Lailatul Qadar dalam sejarah turunnya Al-Qur’an.
3. Menguraikan proses turunnya
Al-Qur’an secara bertahap.
4. Menjelaskan hikmah
diturunkannya Al-Qur’an secara berangsur-angsur.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Al-Qur’an Diturunkan pada Bulan Ramadan
Al-Qur’an memiliki hubungan yang sangat erat dengan bulan
Ramadan. Allah Swt. berfirman dalam QS. al-Baqarah [2]: 185: “Bulan Ramadan
adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi
manusia, penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang
benar dan yang batil.” Ayat ini menunjukkan kemuliaan bulan Ramadan sebagai
bulan turunnya Al-Qur’an.
Pernyataan bahwa Al-Qur’an diturunkan pada bulan Ramadan
juga berkaitan dengan QS. al-Dukhān [44]: 3 yang menyebutkan turunnya Al-Qur’an
pada suatu malam yang diberkahi dan QS. al-Qadr [97]: 1 yang menyatakan bahwa
Al-Qur’an diturunkan pada malam Lailatul Qadar. Berdasarkan ayat-ayat tersebut,
para ulama membahas hubungan antara bulan Ramadan, Lailatul Qadar, dan proses
turunnya Al-Qur’an.
Dalam kajian Ulumul Qur’an, sebagian besar ulama menjelaskan
bahwa turunnya Al-Qur’an memiliki beberapa tahapan. Salah satu pendapat yang
masyhur menyatakan bahwa Al-Qur’an diturunkan secara keseluruhan ke Bait
al-‘Izzah di langit dunia pada malam Lailatul Qadar, kemudian diturunkan kepada
Nabi Muhammad saw. secara berangsur-angsur melalui Malaikat Jibril.
Namun, terdapat pula perbedaan pendapat di kalangan ulama
mengenai rincian proses turunnya Al-Qur’an. Sebagian ulama menekankan bahwa
ayat-ayat tentang Ramadan dan Lailatul Qadar menunjukkan permulaan turunnya
Al-Qur’an, kemudian wahyu disampaikan secara bertahap kepada Nabi Muhammad saw.
Perbedaan ini merupakan bagian dari diskusi ilmiah dalam Ulumul Qur’an,
sedangkan kesepakatan umumnya adalah bahwa Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi
Muhammad saw. secara berangsur-angsur selama masa kerasulan.
B. Lailatul Qadar
Lailatul Qadar merupakan malam yang memiliki kedudukan
sangat mulia dalam Islam. Allah Swt. berfirman: “Sesungguhnya Kami telah
menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan.” (QS. al-Qadr [97]: 1). Surah
al-Qadr kemudian menjelaskan bahwa malam tersebut lebih baik daripada seribu
bulan dan pada malam itu para malaikat serta Ruh turun dengan izin Allah Swt.
Lailatul Qadar juga disebut sebagai malam yang diberkahi
dalam QS. al-Dukhān [44]: 3. Hubungan antara Lailatul Qadar dan turunnya
Al-Qur’an menunjukkan bahwa wahyu Al-Qur’an memiliki kedudukan yang sangat
agung. Kemuliaan malam tersebut tidak dapat dipisahkan dari kemuliaan Al-Qur’an
sebagai kalam Allah Swt. dan petunjuk bagi seluruh manusia.
Para ulama berbeda pendapat mengenai rincian proses turunnya
Al-Qur’an pada Lailatul Qadar. Pendapat yang paling masyhur menjelaskan bahwa
Al-Qur’an diturunkan secara keseluruhan ke langit dunia, kemudian diturunkan
secara bertahap kepada Nabi Muhammad saw. selama masa kerasulan. Pendapat lain
memahami bahwa Lailatul Qadar merupakan malam dimulainya proses turunnya
Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad saw., lalu wahyu berlanjut secara bertahap.
Terlepas dari perbedaan penjelasan mengenai detail proses
tersebut, Lailatul Qadar tetap memiliki posisi penting dalam sejarah turunnya
Al-Qur’an. Malam ini menjadi simbol kemuliaan wahyu, keberkahan Ramadan, dan
pentingnya hubungan manusia dengan Al-Qur’an.
C. Al-Qur’an Diturunkan Secara Bertahap
Al-Qur’an tidak diturunkan kepada Nabi Muhammad saw.
sekaligus dalam bentuk lengkap seperti mushaf yang dikenal umat Islam saat ini.
Al-Qur’an diturunkan secara bertahap selama kurang lebih dua puluh tiga tahun,
yaitu sejak awal kenabian hingga menjelang wafatnya Rasulullah saw. Masa
tersebut mencakup periode Makkah sekitar tiga belas tahun dan periode Madinah
sekitar sepuluh tahun.
Allah Swt. berfirman dalam QS. al-Isrā’ [17]: 106: “Dan
Al-Qur’an itu telah Kami turunkan secara berangsur-angsur agar engkau
membacakannya perlahan-lahan kepada manusia dan Kami menurunkannya secara
bertahap.” Ayat ini menunjukkan bahwa proses pewahyuan berlangsung secara
bertahap dan memiliki tujuan tertentu.
Turunnya Al-Qur’an secara bertahap menunjukkan bahwa
Al-Qur’an memiliki hubungan langsung dengan kehidupan manusia dan perkembangan
masyarakat. Ayat-ayat turun dalam berbagai situasi, baik untuk memberikan
petunjuk, menjawab pertanyaan, menanggapi peristiwa, memberikan peringatan,
maupun membimbing umat dalam menghadapi persoalan kehidupan.
Pada periode Makkah, ayat-ayat Al-Qur’an banyak menekankan
aspek tauhid, keimanan, hari akhir, kenabian, kisah umat terdahulu, dan
pembentukan akhlak. Pada periode Madinah, pembahasan Al-Qur’an semakin luas
dengan mencakup hukum, ibadah, muamalah, keluarga, kehidupan sosial, hubungan
antarumat, dan pembentukan masyarakat Islam.
Dengan demikian, sejarah turunnya Al-Qur’an secara bertahap
memperlihatkan proses pendidikan umat yang berlangsung secara sistematis.
Keimanan dibangun, akhlak dibentuk, dan aturan kehidupan ditetapkan secara
bertahap sesuai dengan kesiapan umat.
D. Hikmah Turunnya Al-Qur’an Secara Bertahap
1. Meneguhkan hati
Nabi Muhammad saw.. Turunnya
wahyu secara berkesinambungan memberikan penguatan kepada Rasulullah saw. dalam
menghadapi tantangan dakwah dan penolakan kaum musyrik.
2. Memudahkan
hafalan dan pemahaman.. Turunnya
ayat secara bertahap memudahkan Nabi Muhammad saw. dan para sahabat untuk
menghafal, memahami, dan mengamalkan kandungan Al-Qur’an.
3. Menjawab
persoalan yang muncul.. Sebagian
ayat turun berkaitan dengan peristiwa dan persoalan yang dihadapi masyarakat
sehingga petunjuk Al-Qur’an hadir sesuai dengan kebutuhan umat.
4. Membentuk
masyarakat secara bertahap.. Perubahan
masyarakat dilakukan melalui proses pendidikan dan pembinaan yang
berkelanjutan, bukan melalui perubahan yang mendadak.
5. Memberikan
kesempatan untuk mengamalkan wahyu.. Para sahabat dapat mempelajari dan mengamalkan ayat yang
turun sebelum menerima perintah atau petunjuk berikutnya.
6. Menunjukkan
kemukjizatan Al-Qur’an.. Walaupun
diturunkan dalam rentang waktu yang panjang dan dalam berbagai keadaan,
Al-Qur’an tetap memiliki kesatuan pesan dan konsistensi ajaran.
E. Awal Turunnya Al-Qur’an kepada Nabi Muhammad saw.
Menurut pendapat yang paling masyhur berdasarkan hadis
riwayat al-Bukhari dan Muslim dari ‘Aisyah r.a., wahyu pertama yang diterima
Nabi Muhammad saw. adalah lima ayat pertama dari QS. al-‘Alaq. Wahyu tersebut
diterima ketika Rasulullah saw. berada di Gua Hira. Peristiwa ini menandai
dimulainya kerasulan Nabi Muhammad saw. dan sejarah turunnya Al-Qur’an kepada
umat manusia.
Setelah wahyu pertama, proses pewahyuan berlanjut secara
bertahap. Nabi Muhammad saw. menerima wahyu melalui Malaikat Jibril dan
menyampaikannya kepada para sahabat. Para sahabat menghafal ayat-ayat tersebut
dan sebagian menuliskannya pada berbagai media yang tersedia. Dengan demikian,
sejarah turunnya Al-Qur’an juga berkaitan erat dengan sejarah pemeliharaan dan
penyampaian Al-Qur’an kepada generasi berikutnya.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Sejarah turunnya Al-Qur’an merupakan salah satu kajian
penting dalam Ulumul Qur’an. Al-Qur’an dikaitkan dengan bulan Ramadan
sebagaimana dijelaskan dalam QS. al-Baqarah [2]: 185. Al-Qur’an juga dikaitkan
dengan Lailatul Qadar, yaitu malam yang penuh kemuliaan dan keberkahan
sebagaimana dijelaskan dalam QS. al-Qadr [97]: 1 dan QS. al-Dukhān [44]: 3.
Al-Qur’an kemudian diturunkan kepada Nabi Muhammad saw.
secara bertahap selama kurang lebih dua puluh tiga tahun. Proses ini
menunjukkan hubungan erat antara wahyu dan kehidupan manusia. Turunnya
Al-Qur’an secara bertahap memiliki berbagai hikmah, seperti meneguhkan hati
Nabi Muhammad saw., memudahkan hafalan dan pemahaman, menjawab persoalan yang muncul,
serta membentuk masyarakat secara bertahap.
Dengan memahami sejarah turunnya Al-Qur’an, umat Islam dapat
memahami bahwa Al-Qur’an bukan hanya kitab suci yang dibaca, tetapi juga
petunjuk yang diturunkan dalam proses pembinaan manusia dan masyarakat. Oleh
karena itu, pemahaman sejarah pewahyuan menjadi dasar penting untuk memahami
Al-Qur’an secara lebih mendalam.
B. Saran
Mahasiswa dan pembaca hendaknya mempelajari sejarah turunnya
Al-Qur’an dengan merujuk kepada sumber-sumber primer dan karya-karya Ulumul
Qur’an yang terpercaya. Kajian terhadap Al-Qur’an hendaknya dilakukan secara
ilmiah, dengan memperhatikan ayat, hadis, penjelasan ulama, serta hasil
penelitian akademik.
Selain itu, pemahaman terhadap sejarah turunnya Al-Qur’an
hendaknya mendorong umat Islam untuk meningkatkan interaksi dengan Al-Qur’an
melalui membaca, memahami, menghayati, dan mengamalkan petunjuknya dalam
kehidupan sehari-hari.
CATATAN KAKI / FOOTNOTE
1. Al-Qur’an, QS. al-Baqarah
[2]: 185.
2. Al-Qur’an, QS. al-Qadr [97]:
1–5.
3. Al-Qur’an, QS. al-Dukhān
[44]: 3.
4. Manna‘ Khalīl al-Qaṭṭān, Mabāḥith
fī ‘Ulūm al-Qur’ān (Riyadh: Maktabah al-Ma‘ārif, 2000), hlm. 100–105.
5. Muḥammad ‘Abd al-‘Aẓīm
al-Zurqānī, Manāhil al-‘Irfān fī ‘Ulūm al-Qur’ān, jilid I (Kairo: Dār al-Ḥadīth,
2001), hlm. 41–45.
6. Jalāl al-Dīn al-Suyūṭī,
al-Itqān fī ‘Ulūm al-Qur’ān, jilid I (Beirut: Dār Ibn Kathīr, 1996), hlm.
44–50.
7. Al-Qur’an, QS. al-Isrā’ [17]:
106.
8. Septi Aji Fitra Jaya,
“Al-Qur’an dan Hadis sebagai Sumber Hukum Islam,” Indo-Islamika, Vol. 9, No. 2
(2019), hlm. 206.
9. Amroeni Drajat, Ulumul
Qur’an: Pengantar Ilmu-Ilmu Al-Qur’an (Depok: Kencana, 2017), hlm. 35.
10. Ahmad von Denffer, Ilmu
Al-Qur’an: Pengenalan Dasar, terj. Ahmad Nasir Budiman (Jakarta: Rajawali Pers,
1988), hlm. 23.
11. Al-Qur’an, QS. al-Furqān
[25]: 32.
12. Al-Qur’an, QS. al-‘Alaq
[96]: 1–5.
DAFTAR PUSTAKA
Al-Qur’an al-Karim.
Al-Qur’an dan Terjemahannya.
Jakarta: Kementerian Agama Republik Indonesia, 2019.
Al-Qaṭṭān, Manna‘ Khalīl.
Mabāḥith fī ‘Ulūm al-Qur’ān. Riyadh: Maktabah al-Ma‘ārif, 2000.
Al-Suyūṭī, Jalāl al-Dīn.
Al-Itqān fī ‘Ulūm al-Qur’ān. Jilid I. Beirut: Dār Ibn Kathīr, 1996.
Al-Zurqānī, Muḥammad ‘Abd
al-‘Aẓīm. Manāhil al-‘Irfān fī ‘Ulūm al-Qur’ān. Jilid I. Kairo: Dār al-Ḥadīth,
2001.
Drajat, Amroeni. Ulumul Qur’an:
Pengantar Ilmu-Ilmu Al-Qur’an. Depok: Kencana, 2017.
Denffer, Ahmad von. Ilmu
Al-Qur’an: Pengenalan Dasar. Diterjemahkan oleh Ahmad Nasir Budiman. Jakarta:
Rajawali Pers, 1988.
Jaya, Septi Aji Fitra.
“Al-Qur’an dan Hadis sebagai Sumber Hukum Islam.” Indo-Islamika, Vol. 9, No. 2,
2019, hlm. 206–217.
“Hikmah Penurunan Al-Qur’an
Secara Berangsur.” Mimbar Agama Budaya, Vol. 38, No. 1, 2021, hlm. 74–89.
Jamarudin, Ade, dkk. Wawasan
Ilmu Al-Qur’an Praktis. Pekanbaru: UIN Sultan Syarif Kasim Riau, 2021.












