Rabu, 29 Juli 2026

MAKALAH ULUMUL QUR’AN “Makkiyah dan Madaniyah serta Asbabun Nuzul”

MAKALAH ULUMUL QUR’AN

“Makkiyah dan Madaniyah serta Asbabun Nuzul”

 

Disusun untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah Ulumul Qur’an

 

DOSEN PENGAMPU :


 



 

DISUSUN OLEH :

HANDI PRANATA

Program Studi : Ekonomi Syariah

 

INSTITUT AGAMA ISLAM NUSANTARA

ASH-SHIDDIQIYAH

TAHUN AKADEMIK 2026

Jl. Lintas Timur Desa Lubuk Seberuk Kecamatan Lempuing Jaya

Kabupaten Ogan Komering Ilir

Sumatera Selatan

30657


 

KATA PENGANTAR

بسم الله الرحمن الرحيم.

Puji syukur ke hadirat Allah Swt. atas rahmat dan karunia-Nya sehingga makalah yang berjudul “Makkiyah dan Madaniyah serta Asbabun Nuzul” ini dapat disusun dengan baik. Kajian ini merupakan bagian penting dalam Ulumul Qur’an karena membantu pembaca memahami konteks historis turunnya wahyu, karakteristik ayat dan surah, serta hubungan antara pesan Al-Qur’an dengan perkembangan dakwah Rasulullah saw. dan masyarakat Muslim pada periode Makkah dan Madinah.

Makalah ini disusun dengan berusaha memadukan penjelasan konseptual, karakteristik, metode identifikasi, hikmah, dan relevansi praktis pembahasan Makkiyah-Madaniyah dengan kajian Asbabun Nuzul. Penulis menyadari bahwa pemahaman terhadap Al-Qur’an tidak cukup hanya dengan membaca teks secara literal, tetapi juga memerlukan penguasaan terhadap ilmu-ilmu pendukung yang telah dikembangkan oleh para ulama sejak masa awal Islam.

Penulis menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah memberikan dukungan dalam penyusunan makalah ini. Kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan demi penyempurnaan karya ini. Semoga makalah ini dapat memberikan manfaat bagi mahasiswa dan pembaca yang ingin memahami dasar-dasar Ulumul Qur’an secara lebih sistematis.

Lubuk Seberuk,  Juli 2026

Penulis

 


 

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.. 3

DAFTAR ISI. 4

BAB I. 6

PENDAHULUAN.. 6

A. Latar Belakang. 6

B. Rumusan Masalah. 7

C. Tujuan. 7

BAB II. 8

PEMBAHASAN.. 8

A. Pengertian Makkiyah dan Madaniyah. 8

B. Karakteristik Ayat dan Surah Makkiyah. 8

C. Karakteristik Ayat dan Surah Madaniyah. 9

D. Perbedaan Makkiyah dan Madaniyah. 9

E. Cara Mengetahui Makkiyah dan Madaniyah. 10

F. Hikmah Mempelajari Makkiyah dan Madaniyah. 10

G. ASBABUN NUZUL.. 11

1. Pengertian Asbabun Nuzul 11

2. Macam-Macam Asbabun Nuzul 11

3. Manfaat Asbabun Nuzul 12

4. Kaidah Penting dalam Memahami Asbabun Nuzul 12

5. Relevansi Makkiyah, Madaniyah, dan Asbabun Nuzul 13

BAB III. 13

PENUTUP. 13

A. Kesimpulan. 13

B. Saran. 14

DAFTAR PUSTAKA.. 15

A. Latar Belakang

Al-Qur’an merupakan sumber utama ajaran Islam yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. secara berangsur-angsur dalam rentang waktu kurang lebih dua puluh tiga tahun. Proses pewahyuan tersebut berlangsung dalam konteks sejarah yang berbeda, yaitu periode sebelum hijrah yang dikenal sebagai periode Makkah dan periode setelah hijrah yang dikenal sebagai periode Madinah. Perbedaan konteks tersebut melahirkan karakteristik tertentu dalam tema, gaya bahasa, dan orientasi ayat-ayat Al-Qur’an.[1]

Kajian Makkiyah dan Madaniyah menjadi salah satu cabang penting dalam Ulumul Qur’an karena klasifikasi tersebut membantu memahami tahapan dakwah Islam dan perkembangan pembentukan masyarakat Muslim. Ayat-ayat Makkiyah secara umum banyak menekankan tauhid, keimanan kepada hari akhir, kisah para nabi, dan pembinaan akhlak, sedangkan ayat-ayat Madaniyah lebih banyak berkaitan dengan pembentukan masyarakat, hukum, hubungan sosial, dan tata kehidupan umat.[2]

Selain Makkiyah dan Madaniyah, Asbabun Nuzul juga memiliki kedudukan penting dalam memahami Al-Qur’an. Asbabun Nuzul memberikan informasi tentang peristiwa atau pertanyaan yang berkaitan dengan turunnya ayat tertentu. Dengan memahami sebab turunnya ayat, seorang pembaca dapat memperoleh konteks yang membantu menjelaskan makna, tujuan, dan hikmah suatu ayat secara lebih tepat.[3]

Oleh karena itu, pembahasan Makkiyah, Madaniyah, dan Asbabun Nuzul perlu dipelajari secara terpadu. Ketiganya membantu mahasiswa memahami bahwa Al-Qur’an diturunkan dalam proses yang memiliki konteks sejarah, sosial, dan dakwah, namun pesan dan petunjuknya tetap memiliki relevansi universal bagi kehidupan manusia.[4]

B. Rumusan Masalah

1.      Apa pengertian dan dasar pembagian Makkiyah dan Madaniyah?

2.      Apa karakteristik serta perbedaan ayat dan surah Makkiyah dan Madaniyah?

3.      Apa pengertian, macam-macam, dan manfaat Asbabun Nuzul?

4.      Bagaimana relevansi kajian Makkiyah-Madaniyah dan Asbabun Nuzul dalam memahami Al-Qur’an?

C. Tujuan

1.      Menjelaskan pengertian dan dasar pembagian Makkiyah dan Madaniyah.

2.      Mengidentifikasi karakteristik dan perbedaan ayat serta surah Makkiyah dan Madaniyah.

3.      Menjelaskan pengertian, macam-macam, dan manfaat Asbabun Nuzul.

4.      Menjelaskan pentingnya kajian Makkiyah-Madaniyah dan Asbabun Nuzul dalam memahami kandungan Al-Qur’an.


 

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Makkiyah dan Madaniyah

Secara umum, ulama Ulumul Qur’an menggunakan tiga pendekatan dalam mendefinisikan Makkiyah dan Madaniyah, yaitu berdasarkan waktu turunnya, tempat turunnya, dan sasaran atau objek pembicaraan. Definisi yang paling kuat dan banyak digunakan adalah berdasarkan waktu: Makkiyah ialah ayat atau surah yang turun sebelum hijrah Nabi Muhammad saw. ke Madinah, sedangkan Madaniyah ialah ayat atau surah yang turun setelah hijrah, meskipun tempat turunnya bukan di Madinah.[5]

Definisi berdasarkan waktu dipandang lebih komprehensif karena mencakup seluruh wahyu yang turun sebelum dan sesudah hijrah. Dengan demikian, ayat yang turun di Makkah setelah hijrah tetap dikategorikan sebagai Madaniyah, sedangkan ayat yang turun sebelum hijrah tetap dikategorikan sebagai Makkiyah meskipun tempat turunnya berada di luar Makkah.[6]

B. Karakteristik Ayat dan Surah Makkiyah

Ayat Makkiyah pada umumnya menekankan prinsip-prinsip dasar akidah, terutama tauhid, keimanan kepada Allah, kenabian, hari kebangkitan, dan pertanggungjawaban manusia. Penekanan tersebut sesuai dengan kondisi masyarakat Makkah yang pada saat itu menghadapi persoalan kemusyrikan dan penolakan terhadap risalah Nabi.[7]

Gaya bahasa ayat Makkiyah sering kali singkat, kuat, dan menyentuh hati. Ayat-ayat tersebut banyak menggunakan peringatan, ancaman, kabar gembira, sumpah, serta penggambaran tentang alam dan hari kiamat untuk menggugah kesadaran manusia.[8]

Ayat Makkiyah juga banyak memuat kisah para nabi dan umat terdahulu. Kisah tersebut berfungsi sebagai penguat hati Rasulullah saw. dan kaum Muslimin serta sebagai pelajaran bagi orang-orang yang menolak kebenaran.[9]

C. Karakteristik Ayat dan Surah Madaniyah

Ayat Madaniyah pada umumnya turun ketika umat Islam telah membentuk komunitas dan masyarakat yang lebih terorganisasi. Oleh karena itu, tema ayat Madaniyah banyak berkaitan dengan hukum ibadah, muamalah, keluarga, pidana, hubungan sosial, perang, perdamaian, dan tata kehidupan masyarakat.[10]

Ayat Madaniyah juga banyak membahas hubungan umat Islam dengan Ahli Kitab dan kaum munafik. Hal ini berkaitan dengan perkembangan masyarakat Madinah yang memiliki struktur sosial dan keagamaan yang lebih kompleks dibandingkan kondisi umat Islam di Makkah.[11]

Dalam ayat Madaniyah, pembentukan hukum dilakukan secara bertahap dan mempertimbangkan realitas masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa wahyu membimbing umat secara gradual menuju terbentuknya kehidupan yang berlandaskan keimanan, keadilan, dan tanggung jawab sosial.[12]

D. Perbedaan Makkiyah dan Madaniyah

Aspek

Makkiyah

Madaniyah

Waktu

Sebelum hijrah

Sesudah hijrah

Tema utama

Tauhid, akidah, hari akhir, kisah nabi

Hukum, masyarakat, muamalah, tata kehidupan

Gaya bahasa

Cenderung singkat, kuat, menggugah

Cenderung lebih panjang dan rinci

Sasaran umum

Kaum musyrik dan pembinaan keimanan

Orang beriman, munafik, dan Ahli Kitab

Perbedaan tersebut merupakan kecenderungan umum, bukan aturan mutlak tanpa pengecualian. Karena itu, penentuan Makkiyah dan Madaniyah tetap memerlukan riwayat dan kajian ulama, bukan hanya penilaian berdasarkan tema atau gaya bahasa semata.[13]

E. Cara Mengetahui Makkiyah dan Madaniyah

Para ulama menjelaskan bahwa pengetahuan tentang Makkiyah dan Madaniyah terutama diperoleh melalui riwayat yang bersumber dari para sahabat dan tabi'in yang mengetahui proses turunnya wahyu. Selain riwayat, karakteristik tema dan gaya bahasa dapat digunakan sebagai indikator pendukung, tetapi tidak menggantikan sumber riwayat yang kuat.[14]

Salah satu contoh data klasifikasi yang dapat dilihat dalam mushaf digital resmi adalah penandaan surah sebagai Makkiyah atau Madaniyah. Misalnya, Al-Fatihah ditandai sebagai Makkiyah, sedangkan Al-Baqarah ditandai sebagai Madaniyah. Klasifikasi semacam ini membantu pembaca memperoleh gambaran umum tentang periode pewahyuan surah.[15]

F. Hikmah Mempelajari Makkiyah dan Madaniyah

1.      Memahami tahapan dakwah Nabi Muhammad saw. dan perkembangan masyarakat Muslim.[16]

2.      Mengetahui konteks historis turunnya ayat sehingga pemahaman terhadap pesan Al-Qur’an menjadi lebih tepat.[17]

3.      Membantu memahami perkembangan pensyariatan hukum secara bertahap.[18]

4.      Membantu membedakan ayat yang turun pada fase pembinaan akidah dan ayat yang turun pada fase pembentukan masyarakat.[19]

G. ASBABUN NUZUL

1. Pengertian Asbabun Nuzul

Asbabun Nuzul berarti sebab-sebab turunnya ayat Al-Qur’an. Secara istilah, Asbabun Nuzul adalah peristiwa atau pertanyaan yang menjadi sebab turunnya ayat Al-Qur’an. Istilah ini digunakan untuk menjelaskan hubungan antara suatu kejadian atau pertanyaan dengan turunnya wahyu dalam rangka memberikan petunjuk, jawaban, penjelasan, atau penyelesaian terhadap persoalan tertentu.[20]

Asbabun Nuzul tidak berarti bahwa setiap ayat Al-Qur’an memiliki sebab khusus yang melatarbelakangi turunnya. Sebagian ayat turun tanpa didahului peristiwa atau pertanyaan tertentu, sedangkan sebagian lainnya diketahui memiliki latar belakang khusus berdasarkan riwayat yang sampai kepada para sahabat dan tabi'in.[21]

2. Macam-Macam Asbabun Nuzul

Pertama, ayat turun karena suatu peristiwa. Dalam kategori ini, terjadi suatu peristiwa yang kemudian menjadi latar belakang turunnya ayat sebagai petunjuk atau penjelasan terhadap peristiwa tersebut.[22]

Kedua, ayat turun sebagai jawaban atas pertanyaan. Para sahabat atau masyarakat pada masa Nabi dapat mengajukan pertanyaan mengenai persoalan tertentu, kemudian turun wahyu yang memberikan jawaban atau penjelasan.[23]

Ketiga, ayat turun sebagai penjelasan terhadap persoalan tertentu. Wahyu dapat turun untuk memberikan penjelasan mengenai suatu keadaan, meluruskan kesalahpahaman, atau memberikan bimbingan terhadap persoalan yang dihadapi umat.[24]

3. Manfaat Asbabun Nuzul

Mempelajari Asbabun Nuzul bermanfaat untuk memahami makna ayat. Pengetahuan tentang latar belakang turunnya ayat dapat membantu menjelaskan maksud suatu ungkapan dan menghubungkannya dengan persoalan yang sedang dibicarakan.[25]

Asbabun Nuzul membantu mengetahui konteks turunnya ayat. Konteks sejarah, sosial, dan peristiwa tertentu dapat memperjelas mengapa suatu ayat turun dan bagaimana ayat tersebut pertama kali dipahami oleh generasi awal Islam.[26]

Asbabun Nuzul membantu menghindari kesalahan pemahaman. Pembaca yang mengabaikan konteks dapat menarik kesimpulan yang terlalu umum atau bahkan bertentangan dengan maksud ayat.[27]

Asbabun Nuzul membantu mengetahui hikmah suatu hukum. Dengan memahami peristiwa yang melatarbelakangi turunnya ayat, pembaca dapat melihat tujuan, kemaslahatan, dan kebijaksanaan yang terkandung dalam suatu ketentuan Al-Qur’an.[28]

4. Kaidah Penting dalam Memahami Asbabun Nuzul

Dalam memahami Asbabun Nuzul, riwayat harus diperiksa secara hati-hati. Tidak semua cerita yang dinisbatkan sebagai sebab turunnya ayat memiliki tingkat kekuatan yang sama. Karena itu, ulama memperhatikan sanad, kualitas perawi, redaksi riwayat, serta kesesuaian antara riwayat dan ayat yang dijelaskan.[29]

Kaidah yang sering dibahas dalam hubungan antara sebab dan keumuman lafaz adalah bahwa yang menjadi pertimbangan utama adalah keumuman lafaz, bukan semata-mata kekhususan sebab. Kaidah ini membantu menjelaskan bahwa suatu ayat dapat memiliki pesan yang lebih luas daripada peristiwa khusus yang menjadi latar belakang turunnya.[30]

5. Relevansi Makkiyah, Madaniyah, dan Asbabun Nuzul

Kajian Makkiyah-Madaniyah dan Asbabun Nuzul memiliki hubungan yang erat dalam memahami sejarah pewahyuan Al-Qur’an. Makkiyah dan Madaniyah memberikan kerangka periodisasi, sedangkan Asbabun Nuzul memberikan informasi lebih khusus tentang peristiwa atau pertanyaan yang berkaitan dengan turunnya ayat tertentu.[31]

Dalam studi kontemporer, kedua ilmu tersebut tetap relevan untuk membantu pembaca membedakan antara pesan dasar yang bersifat universal dan penerapan yang berkaitan dengan konteks tertentu. Namun, penggunaannya harus dilakukan secara ilmiah dengan memperhatikan riwayat, metodologi tafsir, bahasa Arab, dan prinsip-prinsip penafsiran Al-Qur’an.[32]


 

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Makkiyah dan Madaniyah merupakan pembagian ayat atau surah Al-Qur’an berdasarkan periode turunnya wahyu. Makkiyah adalah wahyu yang turun sebelum hijrah, sedangkan Madaniyah adalah wahyu yang turun setelah hijrah. Masing-masing memiliki karakteristik yang berkaitan dengan kondisi dakwah dan perkembangan masyarakat Muslim.

Asbabun Nuzul adalah ilmu yang membahas peristiwa atau pertanyaan yang berkaitan dengan turunnya ayat Al-Qur’an. Asbabun Nuzul dapat berupa ayat yang turun karena suatu peristiwa, jawaban atas pertanyaan, atau penjelasan terhadap persoalan tertentu. Ilmu ini bermanfaat untuk memahami makna, konteks, dan hikmah ayat serta menghindari kesalahan penafsiran.

Dengan demikian, pemahaman terhadap Makkiyah, Madaniyah, dan Asbabun Nuzul merupakan bagian penting dalam studi Ulumul Qur’an. Ketiga kajian tersebut membantu pembaca memahami Al-Qur’an secara lebih komprehensif, historis, kontekstual, dan metodologis.

B. Saran

Mahasiswa dan pembaca yang mempelajari Ulumul Qur’an disarankan untuk tidak berhenti pada pemahaman definisi, tetapi juga membaca karya-karya ulama klasik dan penelitian akademik kontemporer. Kajian terhadap Makkiyah, Madaniyah, dan Asbabun Nuzul hendaknya dilakukan dengan memperhatikan validitas sumber, konteks sejarah, bahasa, dan metode tafsir agar menghasilkan pemahaman yang bertanggung jawab.


 

DAFTAR PUSTAKA

Al-Qattan, Manna‘ Khalil. 2000. Mabahith fi ‘Ulum al-Qur’an. Kairo: Maktabah Wahbah.

Al-Salih, Subhi. 2000. Mabahith fi ‘Ulum al-Qur’an. Beirut: Dar al-‘Ilm li al-Malayin.

Al-Suyuti, Jalal al-Din. 1974. Al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an. Tahqiq Muhammad Abu al-Fadl Ibrahim. Kairo: al-Hay’ah al-Misriyyah al-‘Ammah li al-Kitab.

Al-Suyuti, Jalal al-Din. 2002. Lubab al-Nuqul fi Asbab al-Nuzul. Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah.

Al-Zurqani, Muhammad ‘Abd al-‘Azim. 1995. Manahil al-‘Irfan fi ‘Ulum al-Qur’an. Beirut: Dar al-Kitab al-‘Arabi.

Umar, Nasaruddin. 2008. Ulumul Qur’an: Mengungkap Makna-Makna Tersembunyi Al-Qur’an. Jakarta: Al-Ghazali Center.

Kementerian Agama Republik Indonesia. 2026. Qur’an Kemenag: Portal Al-Qur’an Digital dan Informasi Klasifikasi Surah. Diakses 27 Juli 2026.



[1]Manna‘ Khalil al-Qattan, Mabahith fi ‘Ulum al-Qur’an (Kairo: Maktabah Wahbah, 2000), hlm. 59–61.

[2]Subhi al-Salih, Mabahith fi ‘Ulum al-Qur’an (Beirut: Dar al-‘Ilm li al-Malayin, 2000), hlm. 179–183.

[3]Jalal al-Din al-Suyuti, Lubab al-Nuqul fi Asbab al-Nuzul (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2002), hlm. 7–9.

[4]Muhammad ‘Abd al-‘Azim al-Zurqani, Manahil al-‘Irfan fi ‘Ulum al-Qur’an (Beirut: Dar al-Kitab al-‘Arabi, 1995), jil. 1, hlm. 191–193.

[5]Manna‘ Khalil al-Qattan, Mabahith fi ‘Ulum al-Qur’an (Kairo: Maktabah Wahbah, 2000), hlm. 59–60.

[6]Jalal al-Din al-Suyuti, al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an, jil. 1, hlm. 28–30.

[7]Subhi al-Salih, Mabahith fi ‘Ulum al-Qur’an, hlm. 181–184.

[8]Manna‘ Khalil al-Qattan, Mabahith fi ‘Ulum al-Qur’an, hlm. 62–65.

[9]Muhammad ‘Abd al-‘Azim al-Zurqani, Manahil al-‘Irfan fi ‘Ulum al-Qur’an, jil. 1, hlm. 197–201.

[10]Manna‘ Khalil al-Qattan, Mabahith fi ‘Ulum al-Qur’an, hlm. 65–68.

[11]Jalal al-Din al-Suyuti, al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an, jil. 1, hlm. 33–36.

[12]Subhi al-Salih, Mabahith fi ‘Ulum al-Qur’an, hlm. 185–188.

[13]Manna‘ Khalil al-Qattan, Mabahith fi ‘Ulum al-Qur’an, hlm. 69–73.

[14]Jalal al-Din al-Suyuti, al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an, jil. 1, hlm. 29–31.

[15]Kementerian Agama Republik Indonesia, Qur’an Kemenag, portal resmi Al-Qur’an digital, diakses 27 Juli 2026.

[16]Manna‘ Khalil al-Qattan, Mabahith fi ‘Ulum al-Qur’an, hlm. 73–77.

[17]Manna‘ Khalil al-Qattan, Mabahith fi ‘Ulum al-Qur’an, hlm. 73–77.

[18]Manna‘ Khalil al-Qattan, Mabahith fi ‘Ulum al-Qur’an, hlm. 73–77.

[19]Manna‘ Khalil al-Qattan, Mabahith fi ‘Ulum al-Qur’an, hlm. 73–77.

[20]Jalal al-Din al-Suyuti, Lubab al-Nuqul fi Asbab al-Nuzul (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, 2002), hlm. 7–8.

[21]Manna‘ Khalil al-Qattan, Mabahith fi ‘Ulum al-Qur’an, hlm. 78–81.

[22]Jalal al-Din al-Suyuti, Lubab al-Nuqul fi Asbab al-Nuzul, hlm. 9–11.

[23]Manna‘ Khalil al-Qattan, Mabahith fi ‘Ulum al-Qur’an, hlm. 81–83.

[24]Muhammad ‘Abd al-‘Azim al-Zurqani, Manahil al-‘Irfan fi ‘Ulum al-Qur’an, jil. 1, hlm. 106–112.

[25]Jalal al-Din al-Suyuti, Lubab al-Nuqul fi Asbab al-Nuzul, hlm. 12–14.

[26]Manna‘ Khalil al-Qattan, Mabahith fi ‘Ulum al-Qur’an, hlm. 84–86.

[27]Muhammad ‘Abd al-‘Azim al-Zurqani, Manahil al-‘Irfan fi ‘Ulum al-Qur’an, jil. 1, hlm. 113–116.

[28]Jalal al-Din al-Suyuti, al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an, jil. 1, hlm. 89–92.

[29]Manna‘ Khalil al-Qattan, Mabahith fi ‘Ulum al-Qur’an, hlm. 87–90.

[30]Jalal al-Din al-Suyuti, al-Itqan fi ‘Ulum al-Qur’an, jil. 1, hlm. 91–94.

[31]Subhi al-Salih, Mabahith fi ‘Ulum al-Qur’an, hlm. 177–190.

[32]Nasaruddin Umar, Ulumul Qur’an: Mengungkap Makna-Makna Tersembunyi Al-Qur’an (Jakarta: Al-Ghazali Center, 2008), hlm. 95–101.


0 komentar:

Posting Komentar