Jumat, 31 Juli 2026

MAKALAH FISIKA TENTANG SUHU DAN KALOR

 

 

 

 

MAKALAH FISIKA

SUHU DAN KALOR

SMA / SMK / MA KELAS X

 

 

 


 

Disusun oleh:

Nama : ........................................................

NIS/NIM : ......................................................

Kelas : ........................................................

 

 

 

Program Keahlian/Program Studi : ..............................

Nama Sekolah/Madrasah : ......................................

Guru Mata Pelajaran: .........................................

 

 

 

 

 

 

 

2026


 

KATA PENGANTAR

Puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan karunia-Nya sehingga makalah Fisika berjudul “Suhu dan Kalor” untuk SMA/SMK/MA Kelas X ini dapat diselesaikan. Makalah ini disusun sebagai bahan pembelajaran untuk membantu peserta didik memahami konsep suhu dan kalor secara sistematis, baik secara konseptual maupun melalui perhitungan matematis.

Materi yang dibahas meliputi pengertian suhu, skala Celsius, Fahrenheit, Kelvin, Reamur, konversi skala suhu, kalor, kalor jenis, kapasitas kalor, perubahan wujud, Asas Black, serta perpindahan kalor melalui konduksi, konveksi, dan radiasi. Setiap bagian dilengkapi ilustrasi, rumus, contoh soal, dan penyelesaian langkah demi langkah.

Suhu dan kalor sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Termometer digunakan untuk mengukur suhu, memasak melibatkan perpindahan kalor, termos memanfaatkan pengurangan perpindahan kalor, sedangkan panas Matahari sampai ke Bumi melalui radiasi. Pemahaman konsep tersebut juga menjadi dasar bagi berbagai teknologi di bidang industri, kesehatan, energi, dan lingkungan.

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih dapat disempurnakan. Kritik dan saran yang membangun sangat diharapkan demi perbaikan penyusunan berikutnya. Semoga makalah ini bermanfaat bagi peserta didik, guru, dan pembaca.

Penulis


 

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.. ii

DAFTAR ISI. iii

BAB I. - 1 -

PENDAHULUAN.. - 1 -

A. Latar Belakang. - 1 -

B. Rumusan Masalah. - 2 -

C. Tujuan. - 2 -

BAB II. - 3 -

PEMBAHASAN.. - 3 -

A. Pengertian Suhu. - 3 -

B. Skala Celsius. - 3 -

C. Fahrenheit - 4 -

D. Kelvin. - 4 -

E. Reamur - 5 -

F. Konversi Skala Suhu. - 5 -

G. Kalor - 6 -

H. Kalor Jenis. - 7 -

I. Kapasitas Kalor - 7 -

J. Perubahan Wujud. - 8 -

K. Asas Black. - 9 -

L. Perpindahan Kalor - 9 -

M. Konduksi - 9 -

N. Konveksi - 10 -

O. Radiasi - 11 -

P. Penerapan Suhu dan Kalor dalam Kehidupan. - 12 -

Rangkuman Rumus Penting. - 14 -

Latihan Mandiri - 14 -

BAB III. - 15 -

PENUTUP. - 15 -

A. Kesimpulan. - 15 -

B. Saran. - 15 -

DAFTAR PUSTAKA.. - 16 -

Catatan verifikasi referensi - 16 -

 


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Suhu dan kalor merupakan konsep dasar fisika yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Ketika seseorang menyentuh air panas, memasak makanan, menyimpan minuman di dalam termos, atau mengukur suhu tubuh dengan termometer, konsep suhu dan perpindahan energi dalam bentuk kalor sedang berlangsung. Walaupun istilah suhu dan kalor sering digunakan secara bergantian dalam percakapan sehari-hari, keduanya memiliki makna fisika yang berbeda.

Suhu merupakan besaran yang berkaitan dengan keadaan termal suatu benda dan menentukan arah perpindahan kalor ketika dua benda berada pada suhu berbeda. Kalor adalah energi yang berpindah akibat adanya perbedaan suhu. Pemahaman ini penting karena perubahan suhu suatu benda dapat dipengaruhi oleh massa, kalor jenis, dan jumlah kalor yang diterima atau dilepaskan.

Dalam pembelajaran Fisika Kelas X, konsep suhu dipelajari melalui beberapa skala, yaitu Celsius, Fahrenheit, Kelvin, dan Reamur. Peserta didik juga perlu memahami hubungan antarskala dan mampu melakukan konversi. Selanjutnya, kalor dipelajari melalui kalor jenis, kapasitas kalor, perubahan wujud, Asas Black, serta tiga mekanisme perpindahan kalor: konduksi, konveksi, dan radiasi.

Pemahaman suhu dan kalor tidak hanya penting untuk menyelesaikan persoalan numerik, tetapi juga untuk menjelaskan berbagai fenomena dan teknologi seperti sistem pendingin, mesin, termos, pemanas air, pembangkit energi, dan pemanfaatan energi Matahari.


 

B. Rumusan Masalah

1.      Apa yang dimaksud dengan suhu dan bagaimana suhu diukur?

2.      Bagaimana karakteristik skala Celsius, Fahrenheit, Kelvin, dan Reamur?

3.      Bagaimana melakukan konversi antarskala suhu?

4.      Apa yang dimaksud dengan kalor, kalor jenis, dan kapasitas kalor?

5.      Bagaimana kalor menyebabkan perubahan suhu dan perubahan wujud?

6.      Apa yang dimaksud dengan Asas Black dan bagaimana penerapannya?

7.      Bagaimana kalor berpindah melalui konduksi, konveksi, dan radiasi?

8.      Bagaimana penerapan konsep suhu dan kalor dalam kehidupan sehari-hari?

C. Tujuan

1.      Menjelaskan pengertian suhu dan perbedaannya dengan kalor.

2.      Menjelaskan skala Celsius, Fahrenheit, Kelvin, dan Reamur.

3.      Menguasai rumus dan cara melakukan konversi skala suhu.

4.      Menjelaskan konsep kalor, kalor jenis, dan kapasitas kalor.

5.      Menjelaskan perubahan wujud dan menghitung kalor yang diperlukan.

6.      Menerapkan Asas Black pada persoalan pencampuran dua benda.

7.      Menjelaskan mekanisme konduksi, konveksi, dan radiasi beserta persamaannya.

8.      Mengidentifikasi penerapan suhu dan kalor dalam kehidupan sehari-hari.


9.       

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Suhu

Suhu adalah besaran fisika yang menyatakan keadaan termal suatu benda. Secara mikroskopis, suhu berhubungan dengan energi kinetik rata-rata partikel penyusun benda. Suhu bukanlah jumlah energi yang dimiliki benda, melainkan ukuran keadaan termalnya. Dua benda yang bersentuhan akan cenderung mencapai keseimbangan termal apabila tidak ada pengaruh lain.

Gambar 1. Ilustrasi termometer dan skala suhu.

Alat untuk mengukur suhu disebut termometer. Termometer memanfaatkan sifat fisik tertentu yang berubah secara teratur terhadap suhu, misalnya pemuaian zat cair, perubahan hambatan listrik, atau radiasi termal.

 

B. Skala Celsius

Skala Celsius (°C) menggunakan dua titik acuan penting pada tekanan standar: titik beku air sekitar 0 °C dan titik didih air sekitar 100 °C. Jarak antara kedua titik tersebut dibagi menjadi 100 bagian yang sama.

Gambar 2. Perbandingan titik acuan beberapa skala suhu.

C. Fahrenheit

Skala Fahrenheit (°F) merupakan skala suhu yang banyak digunakan dalam beberapa negara. Dalam hubungan dengan skala Celsius, titik beku air adalah 32 °F dan titik didih air adalah 212 °F pada tekanan standar. Selisih kedua titik tersebut adalah 180 derajat Fahrenheit.

F = (9/5)C + 32

C = (5/9)(F − 32)

D. Kelvin

Kelvin (K) adalah satuan suhu termodinamika dalam Sistem Internasional. Skala Kelvin tidak menggunakan simbol derajat (°). Nol Kelvin merupakan titik nol absolut. Hubungan praktis antara Kelvin dan Celsius adalah:

T(K) = T(°C) + 273,15

T(°C) = T(K) − 273,15

Untuk perhitungan sekolah, 273 atau 273,15 sering digunakan sesuai tingkat ketelitian yang dibutuhkan. Dalam perubahan suhu, besar selisih 1 K sama dengan besar selisih 1 °C.


 

E. Reamur

Skala Reamur (°R) menggunakan titik beku air 0 °R dan titik didih air 80 °R pada tekanan standar. Karena rentang tersebut dibagi menjadi 80 bagian, hubungan Reamur dengan Celsius adalah:

R = (4/5)C

C = (5/4)R

F. Konversi Skala Suhu

Karena keempat skala mempunyai pembagian dan titik acuan berbeda, nilai suhu dapat dikonversikan menggunakan hubungan perbandingan. Untuk Celsius, Fahrenheit, Reamur, dan Kelvin:

C/5 = (F − 32)/9 = R/4 = (K − 273,15)/5

Rumus tersebut dapat digunakan dengan hati-hati sesuai skala yang diketahui. Untuk skala Kelvin, angka 273,15 adalah pergeseran titik nol relatif terhadap Celsius.

Contoh Soal 1 – Konversi Celsius ke Fahrenheit

Suhu suatu benda adalah 40 °C. Berapakah suhunya dalam Fahrenheit?

Penyelesaian:

F = (9/5)C + 32

F = (9/5)(40) + 32 = 72 + 32 = 104 °F

Jadi, 40 °C sama dengan 104 °F.

Contoh Soal 2 – Konversi Celsius ke Kelvin dan Reamur

Suhu air adalah 25 °C. Tentukan suhunya dalam Kelvin dan Reamur.

Penyelesaian:

K = 25 + 273,15 = 298,15 K

R = (4/5)(25) = 20 °R

Jadi, 25 °C sama dengan 298,15 K dan 20 °R.

Contoh Soal 3 – Konversi Fahrenheit ke Celsius

Suhu sebuah ruangan adalah 86 °F. Tentukan suhu tersebut dalam Celsius.

Penyelesaian:

C = (5/9)(F − 32)

C = (5/9)(86 − 32) = (5/9)(54) = 30 °C

Jadi, 86 °F sama dengan 30 °C.

G. Kalor

Kalor adalah energi yang berpindah dari benda bersuhu lebih tinggi ke benda bersuhu lebih rendah akibat perbedaan suhu. Kalor bukan zat yang mengalir, melainkan perpindahan energi. Satuan SI kalor adalah joule (J). Satuan kalori juga dapat digunakan; secara pendekatan 1 kalori ≈ 4,184 J.

Gambar 3. Kalor berpindah dari benda bersuhu lebih tinggi ke benda bersuhu lebih rendah.

Jika benda menerima atau melepaskan kalor tanpa mengalami perubahan wujud, kalor dapat menyebabkan perubahan suhu. Untuk bahan dengan kalor jenis tetap, hubungan tersebut dinyatakan:

Q = mcΔT

Keterangan: Q = kalor (J), m = massa (kg), c = kalor jenis (J/kg·°C atau J/kg·K), dan ΔT = perubahan suhu.

Contoh Soal 4 – Menghitung kalor

Sebanyak 2 kg air dipanaskan dari 25 °C menjadi 75 °C. Jika kalor jenis air 4.200 J/kg·°C, berapa kalor yang diperlukan?

Penyelesaian:

ΔT = 75 − 25 = 50 °C

Q = mcΔT = (2)(4.200)(50) = 420.000 J

Jadi, kalor yang diperlukan adalah 420.000 J atau 420 kJ.

H. Kalor Jenis

Kalor jenis adalah jumlah kalor yang diperlukan untuk menaikkan suhu satu kilogram suatu zat sebesar satu derajat Celsius atau satu kelvin. Besar kalor jenis merupakan karakteristik bahan pada kondisi tertentu.

c = Q/(mΔT)

Bahan dengan kalor jenis besar memerlukan lebih banyak energi untuk menghasilkan kenaikan suhu yang sama dibandingkan bahan dengan kalor jenis kecil. Air mempunyai kalor jenis yang relatif besar sehingga banyak digunakan sebagai media penyimpan atau pemindah panas.

Contoh Soal 5 – Menentukan kalor jenis

Sebuah logam bermassa 0,5 kg menerima kalor 4.500 J dan suhunya naik 30 °C. Tentukan kalor jenis logam tersebut.

Penyelesaian:

c = Q/(mΔT) = 4.500/(0,5 × 30) = 300 J/kg·°C

Jadi, kalor jenis logam tersebut adalah 300 J/kg·°C.

 

I. Kapasitas Kalor

Kapasitas kalor adalah jumlah kalor yang diperlukan untuk menaikkan suhu suatu benda sebesar satu derajat Celsius atau satu kelvin. Kapasitas kalor bergantung pada massa benda dan kalor jenis bahan.

C = Q/ΔT

C = mc

Satuan kapasitas kalor dalam SI adalah J/K atau J/°C.

Contoh Soal 6 – Kapasitas kalor

Sebuah benda bermassa 3 kg mempunyai kalor jenis 400 J/kg·°C. Tentukan kapasitas kalornya.

Penyelesaian:

C = mc = (3)(400) = 1.200 J/°C

Jadi, kapasitas kalor benda adalah 1.200 J/°C.


 

J. Perubahan Wujud

Ketika zat menerima atau melepaskan kalor, zat dapat mengalami perubahan suhu atau perubahan wujud. Perubahan wujud meliputi mencair, membeku, menguap, mengembun, menyublim, dan mengkristal/deposisi. Saat perubahan wujud berlangsung pada kondisi ideal, kalor dapat digunakan untuk mengubah susunan atau ikatan antarpartikel tanpa menaikkan suhu zat.

Gambar 4. Ilustrasi kurva pemanasan dan tahap perubahan wujud.

Untuk perubahan wujud, kalor laten dapat dihitung dengan:

Q = mL

L adalah kalor laten jenis (J/kg). Jenis kalor laten antara lain kalor laten lebur dan kalor laten uap.

Jika proses melibatkan beberapa tahap, misalnya es dipanaskan hingga menjadi air panas, perhitungan dilakukan dengan menjumlahkan kalor pada setiap tahap: pemanasan es, peleburan, pemanasan air, dan seterusnya.

Contoh Soal 7 – Kalor untuk mencairkan es

Sebanyak 0,5 kg es pada titik leburnya dicairkan seluruhnya. Jika kalor laten lebur es 334.000 J/kg, berapa kalor yang diperlukan?

Penyelesaian:

Q = mL = (0,5)(334.000) = 167.000 J

Jadi, kalor yang diperlukan adalah 167.000 J atau 167 kJ.

K. Asas Black

Asas Black menyatakan bahwa dalam sistem terisolasi, jumlah kalor yang dilepaskan benda bersuhu lebih tinggi sama dengan jumlah kalor yang diterima benda bersuhu lebih rendah hingga tercapai keseimbangan termal.

Q_lepas = Q_terima

Untuk pencampuran dua zat tanpa perubahan wujud dan dengan mengabaikan kalor yang diserap wadah, persamaannya dapat ditulis:

mc(T − T_akhir) = mc(T_akhir − T)

Persamaan ini mengasumsikan T lebih tinggi daripada T. Jika kondisi berbeda, gunakan tanda dan selisih suhu secara konsisten.

Contoh Soal 8 – Asas Black

Air panas 0,2 kg bersuhu 80 °C dicampur dengan air 0,3 kg bersuhu 20 °C dalam wadah terisolasi. Abaikan kalor yang diserap wadah. Tentukan suhu akhir campuran.

Penyelesaian:

mc(T − T_f) = mc(T_f − T)

0,2(80 − T_f) = 0,3(T_f − 20)

16 − 0,2T_f = 0,3T_f − 6

22 = 0,5T_f → T_f = 44 °C

Jadi, suhu akhir campuran adalah 44 °C.

 

L. Perpindahan Kalor

Perpindahan kalor terjadi karena adanya perbedaan suhu. Secara umum terdapat tiga mekanisme perpindahan kalor, yaitu konduksi, konveksi, dan radiasi. Ketiganya dapat terjadi secara bersamaan pada suatu sistem.

 

M. Konduksi

Konduksi adalah perpindahan energi panas melalui suatu bahan akibat interaksi partikel tanpa perpindahan massa bahan secara keseluruhan. Konduksi sangat menonjol pada zat padat, terutama logam.

Gambar 5. Ilustrasi perpindahan kalor secara konduksi.

P = Q/t = kAΔT/L

Keterangan: P = laju perpindahan kalor (W), k = konduktivitas termal bahan (W/m·K), A = luas penampang (m²), ΔT = beda suhu (K), dan L = panjang/ketebalan bahan (m).

Contoh Soal 9 – Konduksi

Sebuah batang mempunyai konduktivitas termal 0,5 W/m·K, luas penampang 0,02 m², panjang 0,1 m, dan beda suhu 20 K. Tentukan laju perpindahan kalornya.

Penyelesaian:

P = kAΔT/L

P = (0,5)(0,02)(20)/0,1 = 2 W

Jadi, laju perpindahan kalor melalui batang adalah 2 W.

 

N. Konveksi

Konveksi adalah perpindahan kalor yang disertai perpindahan massa fluida. Konveksi terjadi pada zat cair dan gas. Konveksi alami dapat terjadi karena perbedaan massa jenis akibat perbedaan suhu, sedangkan konveksi paksa dibantu kipas, pompa, atau alat mekanis lain.

Gambar 6. Ilustrasi arus konveksi pada fluida.

P = hA(T_s − T_f)

h adalah koefisien perpindahan kalor konveksi (W/m²·K), A adalah luas permukaan, T_s suhu permukaan, dan T_f suhu fluida. Persamaan ini merupakan model sederhana untuk perpindahan kalor konveksi.

Contoh Soal 10 – Konveksi

Permukaan benda seluas 0,5 m² memiliki suhu 80 °C dan berada dalam udara bersuhu 30 °C. Jika koefisien konveksi 10 W/m²·K, tentukan laju perpindahan kalornya.

Penyelesaian:

P = hAΔT = (10)(0,5)(80 − 30) = 250 W

Jadi, laju perpindahan kalor melalui konveksi adalah 250 W.

 

O. Radiasi

Radiasi adalah perpindahan energi melalui gelombang elektromagnetik sehingga tidak memerlukan medium material. Energi dari Matahari dapat mencapai Bumi melalui radiasi. Semua benda pada suhu di atas nol absolut memancarkan radiasi termal.

Gambar 7. Radiasi termal dapat merambat tanpa medium material.

P = εσA(T − T_lingkungan)

Persamaan tersebut menggambarkan laju radiasi bersih dari permukaan. ε adalah emisivitas (0–1), σ = 5,67 × 10⁻⁸ W/m²·K adalah konstanta Stefan–Boltzmann, A luas permukaan, dan suhu harus dinyatakan dalam Kelvin.

Contoh Soal 11 – Radiasi

Permukaan benda dianggap hitam sempurna (ε = 1), luas 0,5 m², dan suhunya 500 K. Jika lingkungan 300 K, tentukan laju radiasi bersihnya dengan σ = 5,67 × 10⁻⁸ W/m²·K.

Penyelesaian:

P = σA(T − T_l)

P = (5,67×10⁻⁸)(0,5)(500 − 300)

P ≈ 1.417,5 W

Jadi, laju radiasi bersihnya sekitar 1,42 kW.

 

P. Penerapan Suhu dan Kalor dalam Kehidupan

Konsep suhu dan kalor digunakan dalam berbagai kegiatan dan teknologi. Prinsip perpindahan kalor, perubahan suhu, dan perubahan wujud dapat ditemukan mulai dari kegiatan rumah tangga hingga sistem industri.

Gambar 8. Contoh penerapan suhu dan kalor.

·         Memasak: kalor dari api atau elemen pemanas berpindah ke panci dan makanan melalui konduksi, konveksi, dan radiasi.

·         Termos: dirancang untuk mengurangi perpindahan kalor melalui kombinasi isolasi, ruang hampa, dan permukaan reflektif.

·         Pendingin dan AC: memindahkan energi panas dari ruang atau benda menggunakan siklus termodinamika.

·         Panel surya termal: memanfaatkan radiasi Matahari untuk memanaskan air atau fluida.

·         Industri: pengaturan suhu diperlukan dalam peleburan logam, pengeringan, pengolahan makanan, dan berbagai proses produksi.

·         Kesehatan: termometer mengukur suhu tubuh, sedangkan prinsip perpindahan panas digunakan dalam berbagai alat medis.

·         Bangunan: bahan isolator digunakan untuk mengurangi perpindahan kalor sehingga ruangan lebih nyaman dan hemat energi.

·         Cuaca dan lingkungan: perpindahan kalor melalui radiasi, konveksi, dan konduksi berperan dalam sirkulasi atmosfer dan perubahan suhu permukaan Bumi.


 

Rangkuman Rumus Penting

Konsep

Rumus

Satuan utama

Fahrenheit

F = (9/5)C + 32

°F

Celsius dari Fahrenheit

C = (5/9)(F − 32)

°C

Kelvin

K = C + 273,15

K

Reamur

R = (4/5)C

°R

Kalor sensibel

Q = mcΔT

J

Kalor jenis

c = Q/(mΔT)

J/kg·K

Kapasitas kalor

C = Q/ΔT = mc

J/K

Kalor laten

Q = mL

J

Asas Black

Qlepas = Qterima

J

Konduksi

P = kAΔT/L

W

Konveksi

P = hAΔT

W

Radiasi bersih

P = εσA(T − Tl)

W

Latihan Mandiri

1.      Konversikan 50 °C ke Fahrenheit, Kelvin, dan Reamur.

2.      Suhu suatu benda 68 °F. Tentukan suhu dalam Celsius dan Kelvin.

3.      Sebanyak 1,5 kg air dipanaskan dari 20 °C menjadi 70 °C. Jika c air = 4.200 J/kg·°C, hitung kalor yang diperlukan.

4.      Sebuah benda bermassa 2 kg menerima kalor 12.000 J dan mengalami kenaikan suhu 20 °C. Tentukan kalor jenisnya.

5.      Sebanyak 0,25 kg es pada titik leburnya dicairkan. Jika L = 334.000 J/kg, tentukan kalor yang diperlukan.

6.      Air panas 0,1 kg pada 90 °C dicampur dengan air 0,2 kg pada 30 °C dalam wadah terisolasi. Tentukan suhu akhir.

7.      Batang dengan k = 0,8 W/m·K, A = 0,01 m², L = 0,2 m, dan beda suhu 40 K. Hitung laju konduksi.

8.      Jelaskan perbedaan konduksi, konveksi, dan radiasi serta berikan masing-masing satu contoh dalam kehidupan.


 

BAB III

PENUTUP

A. Kesimpulan

Suhu merupakan besaran yang menyatakan keadaan termal suatu benda, sedangkan kalor adalah energi yang berpindah akibat perbedaan suhu. Suhu dapat dinyatakan menggunakan skala Celsius, Fahrenheit, Kelvin, dan Reamur dengan hubungan konversi tertentu.

Kalor yang diterima atau dilepaskan benda dapat menyebabkan perubahan suhu atau perubahan wujud. Untuk perubahan suhu berlaku Q = mcΔT, sedangkan untuk perubahan wujud berlaku Q = mL. Kalor jenis menunjukkan karakteristik bahan dalam menyerap kalor, sementara kapasitas kalor menunjukkan kemampuan suatu benda secara keseluruhan untuk menyerap kalor.

Asas Black menyatakan bahwa dalam sistem terisolasi kalor yang dilepaskan benda panas sama dengan kalor yang diterima benda dingin sampai tercapai keseimbangan termal. Prinsip tersebut dapat digunakan untuk menganalisis proses pencampuran benda dengan suhu berbeda.

Kalor dapat berpindah melalui konduksi, konveksi, dan radiasi. Konduksi terjadi melalui interaksi partikel tanpa perpindahan massa secara keseluruhan, konveksi melibatkan perpindahan massa fluida, sedangkan radiasi berlangsung melalui gelombang elektromagnetik. Ketiga mekanisme tersebut banyak dijumpai dalam kehidupan sehari-hari dan teknologi.

 

B. Saran

Peserta didik disarankan memahami makna fisik setiap besaran sebelum menggunakan rumus. Latihan sebaiknya dilakukan dengan langkah diketahui, ditanyakan, rumus, substitusi, dan kesimpulan. Pengamatan sederhana seperti mengukur suhu air, membandingkan bahan penghantar panas, atau mengamati arus konveksi dapat membantu menghubungkan konsep dengan kehidupan nyata.


 

DAFTAR PUSTAKA

Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. (2022). Fisika untuk SMA/MA Kelas X. Jakarta: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia. (2019). E-Modul Fisika Kelas X. Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas.

Sari, Mika. (2019). E-Modul Fisika Kelas X: Besaran Fisika dan Pengukurannya. Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Novidawati, Wida. (2019). E-Modul Fisika Kelas X. Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Halliday, David, Robert Resnick, & Jearl Walker. (2021). Fundamentals of Physics, 12th Edition. Hoboken, NJ: John Wiley & Sons.

Serway, Raymond A., & John W. Jewett. (2019). Physics for Scientists and Engineers, 10th Edition. Boston, MA: Cengage Learning.

Giancoli, Douglas C. (2014). Physics: Principles with Applications, 7th Edition. Boston, MA: Pearson.

Young, Hugh D., & Roger A. Freedman. (2020). University Physics with Modern Physics, 15th Edition. Boston, MA: Pearson.

Catatan verifikasi referensi

Bibliografi buku internasional disesuaikan dengan data penerbit: Wiley mencatat Fundamentals of Physics edisi ke-12 terbit September 2021; Cengage mencatat Physics for Scientists and Engineers edisi ke-10 dengan copyright 2019; Pearson mencatat University Physics with Modern Physics edisi ke-15 terbit 2020; dan Pearson mencatat Physics: Principles with Applications edisi ke-7 sebagai edisi yang terbit pada 2013/2014 untuk edisi cetak awal, dengan pembaruan digital berikutnya.

0 komentar:

Posting Komentar