MAKALAH FISIKA
SUHU DAN KALOR
SMA / SMK / MA KELAS X
Disusun
oleh:
Nama :
........................................................
NIS/NIM
: ......................................................
Kelas :
........................................................
Program
Keahlian/Program Studi : ..............................
Nama
Sekolah/Madrasah : ......................................
Guru
Mata Pelajaran: .........................................
2026
KATA PENGANTAR
Puji syukur ke
hadirat Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan karunia-Nya sehingga makalah Fisika
berjudul “Suhu dan Kalor” untuk SMA/SMK/MA Kelas X ini dapat diselesaikan.
Makalah ini disusun sebagai bahan pembelajaran untuk membantu peserta didik
memahami konsep suhu dan kalor secara sistematis, baik secara konseptual maupun
melalui perhitungan matematis.
Materi yang dibahas
meliputi pengertian suhu, skala Celsius, Fahrenheit, Kelvin, Reamur, konversi
skala suhu, kalor, kalor jenis, kapasitas kalor, perubahan wujud, Asas Black,
serta perpindahan kalor melalui konduksi, konveksi, dan radiasi. Setiap bagian
dilengkapi ilustrasi, rumus, contoh soal, dan penyelesaian langkah demi
langkah.
Suhu dan kalor
sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari. Termometer digunakan untuk mengukur
suhu, memasak melibatkan perpindahan kalor, termos memanfaatkan pengurangan
perpindahan kalor, sedangkan panas Matahari sampai ke Bumi melalui radiasi.
Pemahaman konsep tersebut juga menjadi dasar bagi berbagai teknologi di bidang
industri, kesehatan, energi, dan lingkungan.
Penulis menyadari
bahwa makalah ini masih dapat disempurnakan. Kritik dan saran yang membangun
sangat diharapkan demi perbaikan penyusunan berikutnya. Semoga makalah ini
bermanfaat bagi peserta didik, guru, dan pembaca.
Penulis
DAFTAR ISI
P. Penerapan Suhu dan Kalor dalam Kehidupan
BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar
Belakang
Suhu dan kalor
merupakan konsep dasar fisika yang sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Ketika seseorang menyentuh air panas, memasak makanan, menyimpan minuman di
dalam termos, atau mengukur suhu tubuh dengan termometer, konsep suhu dan
perpindahan energi dalam bentuk kalor sedang berlangsung. Walaupun istilah suhu
dan kalor sering digunakan secara bergantian dalam percakapan sehari-hari,
keduanya memiliki makna fisika yang berbeda.
Suhu merupakan
besaran yang berkaitan dengan keadaan termal suatu benda dan menentukan arah
perpindahan kalor ketika dua benda berada pada suhu berbeda. Kalor adalah
energi yang berpindah akibat adanya perbedaan suhu. Pemahaman ini penting
karena perubahan suhu suatu benda dapat dipengaruhi oleh massa, kalor jenis,
dan jumlah kalor yang diterima atau dilepaskan.
Dalam pembelajaran
Fisika Kelas X, konsep suhu dipelajari melalui beberapa skala, yaitu Celsius,
Fahrenheit, Kelvin, dan Reamur. Peserta didik juga perlu memahami hubungan
antarskala dan mampu melakukan konversi. Selanjutnya, kalor dipelajari melalui
kalor jenis, kapasitas kalor, perubahan wujud, Asas Black, serta tiga mekanisme
perpindahan kalor: konduksi, konveksi, dan radiasi.
Pemahaman suhu dan
kalor tidak hanya penting untuk menyelesaikan persoalan numerik, tetapi juga
untuk menjelaskan berbagai fenomena dan teknologi seperti sistem pendingin,
mesin, termos, pemanas air, pembangkit energi, dan pemanfaatan energi Matahari.
B. Rumusan
Masalah
1. Apa yang dimaksud dengan suhu
dan bagaimana suhu diukur?
2.
Bagaimana
karakteristik skala Celsius, Fahrenheit, Kelvin, dan Reamur?
3.
Bagaimana
melakukan konversi antarskala suhu?
4.
Apa
yang dimaksud dengan kalor, kalor jenis, dan kapasitas kalor?
5.
Bagaimana
kalor menyebabkan perubahan suhu dan perubahan wujud?
6.
Apa
yang dimaksud dengan Asas Black dan bagaimana penerapannya?
7.
Bagaimana
kalor berpindah melalui konduksi, konveksi, dan radiasi?
8.
Bagaimana
penerapan konsep suhu dan kalor dalam kehidupan sehari-hari?
C. Tujuan
1. Menjelaskan pengertian suhu dan
perbedaannya dengan kalor.
2. Menjelaskan skala Celsius,
Fahrenheit, Kelvin, dan Reamur.
3. Menguasai rumus dan cara
melakukan konversi skala suhu.
4. Menjelaskan konsep kalor, kalor
jenis, dan kapasitas kalor.
5. Menjelaskan perubahan wujud dan
menghitung kalor yang diperlukan.
6. Menerapkan Asas Black pada
persoalan pencampuran dua benda.
7. Menjelaskan mekanisme konduksi,
konveksi, dan radiasi beserta persamaannya.
8. Mengidentifikasi penerapan suhu
dan kalor dalam kehidupan sehari-hari.
9.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Suhu
Suhu adalah besaran
fisika yang menyatakan keadaan termal suatu benda. Secara mikroskopis, suhu
berhubungan dengan energi kinetik rata-rata partikel penyusun benda. Suhu
bukanlah jumlah energi yang dimiliki benda, melainkan ukuran keadaan termalnya.
Dua benda yang bersentuhan akan cenderung mencapai keseimbangan termal apabila
tidak ada pengaruh lain.

Gambar 1. Ilustrasi termometer dan skala suhu.
Alat untuk mengukur
suhu disebut termometer. Termometer memanfaatkan sifat fisik tertentu yang
berubah secara teratur terhadap suhu, misalnya pemuaian zat cair, perubahan
hambatan listrik, atau radiasi termal.
B. Skala Celsius
Skala Celsius (°C)
menggunakan dua titik acuan penting pada tekanan standar: titik beku air
sekitar 0 °C dan titik didih air sekitar 100 °C. Jarak antara kedua titik
tersebut dibagi menjadi 100 bagian yang sama.

Gambar 2. Perbandingan titik acuan beberapa skala suhu.
C. Fahrenheit
Skala Fahrenheit
(°F) merupakan skala suhu yang banyak digunakan dalam beberapa negara. Dalam
hubungan dengan skala Celsius, titik beku air adalah 32 °F dan titik didih air
adalah 212 °F pada tekanan standar. Selisih kedua titik tersebut adalah 180
derajat Fahrenheit.
F = (9/5)C + 32
C = (5/9)(F − 32)
D. Kelvin
Kelvin (K) adalah
satuan suhu termodinamika dalam Sistem Internasional. Skala Kelvin tidak
menggunakan simbol derajat (°). Nol Kelvin merupakan titik nol absolut.
Hubungan praktis antara Kelvin dan Celsius adalah:
T(K) = T(°C) + 273,15
T(°C) = T(K) − 273,15
Untuk perhitungan sekolah, 273
atau 273,15 sering digunakan sesuai tingkat ketelitian yang dibutuhkan. Dalam
perubahan suhu, besar selisih 1 K sama dengan besar selisih 1 °C.
E. Reamur
Skala Reamur (°R)
menggunakan titik beku air 0 °R dan titik didih air 80 °R pada tekanan standar.
Karena rentang tersebut dibagi menjadi 80 bagian, hubungan Reamur dengan
Celsius adalah:
R = (4/5)C
C = (5/4)R
F. Konversi Skala
Suhu
Karena keempat
skala mempunyai pembagian dan titik acuan berbeda, nilai suhu dapat
dikonversikan menggunakan hubungan perbandingan. Untuk Celsius, Fahrenheit,
Reamur, dan Kelvin:
C/5 = (F − 32)/9 = R/4 = (K −
273,15)/5
Rumus tersebut
dapat digunakan dengan hati-hati sesuai skala yang diketahui. Untuk skala
Kelvin, angka 273,15 adalah pergeseran titik nol relatif terhadap Celsius.
Contoh Soal 1 – Konversi Celsius ke Fahrenheit
Suhu suatu benda adalah 40 °C.
Berapakah suhunya dalam Fahrenheit?
Penyelesaian:
F = (9/5)C + 32
F = (9/5)(40) + 32 = 72 + 32 =
104 °F
Jadi, 40 °C sama dengan 104 °F.
Contoh Soal 2 – Konversi Celsius ke Kelvin dan Reamur
Suhu air adalah 25 °C. Tentukan
suhunya dalam Kelvin dan Reamur.
Penyelesaian:
K = 25 + 273,15 = 298,15 K
R = (4/5)(25) = 20 °R
Jadi, 25 °C sama dengan 298,15 K
dan 20 °R.
Contoh Soal 3 – Konversi Fahrenheit ke Celsius
Suhu sebuah ruangan adalah 86
°F. Tentukan suhu tersebut dalam Celsius.
Penyelesaian:
C = (5/9)(F − 32)
C = (5/9)(86 − 32) = (5/9)(54) =
30 °C
Jadi, 86 °F sama dengan 30 °C.
G. Kalor
Kalor adalah energi
yang berpindah dari benda bersuhu lebih tinggi ke benda bersuhu lebih rendah
akibat perbedaan suhu. Kalor bukan zat yang mengalir, melainkan perpindahan
energi. Satuan SI kalor adalah joule (J). Satuan kalori juga dapat digunakan;
secara pendekatan 1 kalori ≈ 4,184 J.

Gambar 3. Kalor berpindah dari benda bersuhu lebih tinggi ke
benda bersuhu lebih rendah.
Jika benda menerima atau
melepaskan kalor tanpa mengalami perubahan wujud, kalor dapat menyebabkan
perubahan suhu. Untuk bahan dengan kalor jenis tetap, hubungan tersebut
dinyatakan:
Q = mcΔT
Keterangan: Q = kalor (J), m =
massa (kg), c = kalor jenis (J/kg·°C atau J/kg·K), dan ΔT = perubahan suhu.
Contoh Soal 4 – Menghitung kalor
Sebanyak 2 kg air dipanaskan
dari 25 °C menjadi 75 °C. Jika kalor jenis air 4.200 J/kg·°C, berapa kalor yang
diperlukan?
Penyelesaian:
ΔT = 75 − 25 = 50 °C
Q = mcΔT = (2)(4.200)(50) =
420.000 J
Jadi, kalor yang diperlukan
adalah 420.000 J atau 420 kJ.
H. Kalor Jenis
Kalor jenis adalah
jumlah kalor yang diperlukan untuk menaikkan suhu satu kilogram suatu zat
sebesar satu derajat Celsius atau satu kelvin. Besar kalor jenis merupakan
karakteristik bahan pada kondisi tertentu.
c = Q/(mΔT)
Bahan dengan kalor
jenis besar memerlukan lebih banyak energi untuk menghasilkan kenaikan suhu
yang sama dibandingkan bahan dengan kalor jenis kecil. Air mempunyai kalor
jenis yang relatif besar sehingga banyak digunakan sebagai media penyimpan atau
pemindah panas.
Contoh Soal 5 – Menentukan kalor jenis
Sebuah logam bermassa 0,5 kg
menerima kalor 4.500 J dan suhunya naik 30 °C. Tentukan kalor jenis logam
tersebut.
Penyelesaian:
c = Q/(mΔT) = 4.500/(0,5 × 30) =
300 J/kg·°C
Jadi, kalor jenis logam tersebut
adalah 300 J/kg·°C.
I. Kapasitas
Kalor
Kapasitas kalor adalah jumlah
kalor yang diperlukan untuk menaikkan suhu suatu benda sebesar satu derajat
Celsius atau satu kelvin. Kapasitas kalor bergantung pada massa benda dan kalor
jenis bahan.
C = Q/ΔT
C = mc
Satuan kapasitas kalor dalam SI
adalah J/K atau J/°C.
Contoh Soal 6 – Kapasitas kalor
Sebuah benda bermassa 3 kg
mempunyai kalor jenis 400 J/kg·°C. Tentukan kapasitas kalornya.
Penyelesaian:
C = mc = (3)(400) = 1.200 J/°C
Jadi, kapasitas kalor benda
adalah 1.200 J/°C.
J. Perubahan
Wujud
Ketika zat menerima
atau melepaskan kalor, zat dapat mengalami perubahan suhu atau perubahan wujud.
Perubahan wujud meliputi mencair, membeku, menguap, mengembun, menyublim, dan
mengkristal/deposisi. Saat perubahan wujud berlangsung pada kondisi ideal,
kalor dapat digunakan untuk mengubah susunan atau ikatan antarpartikel tanpa
menaikkan suhu zat.

Gambar 4. Ilustrasi kurva pemanasan dan tahap perubahan
wujud.
Untuk perubahan wujud, kalor
laten dapat dihitung dengan:
Q = mL
L adalah kalor laten jenis
(J/kg). Jenis kalor laten antara lain kalor laten lebur dan kalor laten uap.
Jika proses melibatkan beberapa
tahap, misalnya es dipanaskan hingga menjadi air panas, perhitungan dilakukan
dengan menjumlahkan kalor pada setiap tahap: pemanasan es, peleburan, pemanasan
air, dan seterusnya.
Contoh Soal 7 – Kalor untuk mencairkan es
Sebanyak 0,5 kg es pada titik
leburnya dicairkan seluruhnya. Jika kalor laten lebur es 334.000 J/kg, berapa
kalor yang diperlukan?
Penyelesaian:
Q = mL = (0,5)(334.000) = 167.000
J
Jadi, kalor yang diperlukan
adalah 167.000 J atau 167 kJ.
K. Asas Black
Asas Black
menyatakan bahwa dalam sistem terisolasi, jumlah kalor yang dilepaskan benda
bersuhu lebih tinggi sama dengan jumlah kalor yang diterima benda bersuhu lebih
rendah hingga tercapai keseimbangan termal.
Q_lepas = Q_terima
Untuk pencampuran dua zat tanpa
perubahan wujud dan dengan mengabaikan kalor yang diserap wadah, persamaannya
dapat ditulis:
m₁c₁(T₁ − T_akhir) = m₂c₂(T_akhir − T₂)
Persamaan ini mengasumsikan T₁ lebih tinggi daripada T₂. Jika kondisi berbeda, gunakan
tanda dan selisih suhu secara konsisten.
Contoh Soal 8 – Asas Black
Air panas 0,2 kg bersuhu 80 °C
dicampur dengan air 0,3 kg bersuhu 20 °C dalam wadah terisolasi. Abaikan kalor
yang diserap wadah. Tentukan suhu akhir campuran.
Penyelesaian:
m₁c(T₁ − T_f) = m₂c(T_f − T₂)
0,2(80 − T_f) = 0,3(T_f − 20)
16 − 0,2T_f = 0,3T_f − 6
22 = 0,5T_f → T_f = 44 °C
Jadi, suhu akhir campuran adalah
44 °C.
L. Perpindahan
Kalor
Perpindahan kalor
terjadi karena adanya perbedaan suhu. Secara umum terdapat tiga mekanisme
perpindahan kalor, yaitu konduksi, konveksi, dan radiasi. Ketiganya dapat
terjadi secara bersamaan pada suatu sistem.
M. Konduksi
Konduksi adalah
perpindahan energi panas melalui suatu bahan akibat interaksi partikel tanpa
perpindahan massa bahan secara keseluruhan. Konduksi sangat menonjol pada zat
padat, terutama logam.

Gambar 5. Ilustrasi perpindahan kalor secara konduksi.
P = Q/t = kAΔT/L
Keterangan: P = laju perpindahan
kalor (W), k = konduktivitas termal bahan (W/m·K), A = luas penampang (m²), ΔT
= beda suhu (K), dan L = panjang/ketebalan bahan (m).
Contoh Soal 9 – Konduksi
Sebuah batang mempunyai
konduktivitas termal 0,5 W/m·K, luas penampang 0,02 m², panjang 0,1 m, dan beda
suhu 20 K. Tentukan laju perpindahan kalornya.
Penyelesaian:
P = kAΔT/L
P = (0,5)(0,02)(20)/0,1 = 2 W
Jadi, laju perpindahan kalor
melalui batang adalah 2 W.
N. Konveksi
Konveksi adalah
perpindahan kalor yang disertai perpindahan massa fluida. Konveksi terjadi pada
zat cair dan gas. Konveksi alami dapat terjadi karena perbedaan massa jenis
akibat perbedaan suhu, sedangkan konveksi paksa dibantu kipas, pompa, atau alat
mekanis lain.

Gambar 6. Ilustrasi arus konveksi pada fluida.
P = hA(T_s − T_f)
h adalah koefisien perpindahan
kalor konveksi (W/m²·K), A adalah luas permukaan, T_s suhu permukaan, dan T_f
suhu fluida. Persamaan ini merupakan model sederhana untuk perpindahan kalor
konveksi.
Contoh Soal 10 – Konveksi
Permukaan benda seluas 0,5 m²
memiliki suhu 80 °C dan berada dalam udara bersuhu 30 °C. Jika koefisien
konveksi 10 W/m²·K, tentukan laju perpindahan kalornya.
Penyelesaian:
P = hAΔT = (10)(0,5)(80 − 30) =
250 W
Jadi, laju perpindahan kalor
melalui konveksi adalah 250 W.
O. Radiasi
Radiasi adalah
perpindahan energi melalui gelombang elektromagnetik sehingga tidak memerlukan
medium material. Energi dari Matahari dapat mencapai Bumi melalui radiasi.
Semua benda pada suhu di atas nol absolut memancarkan radiasi termal.

Gambar 7. Radiasi termal dapat merambat tanpa medium
material.
P = εσA(T⁴ − T_lingkungan⁴)
Persamaan tersebut menggambarkan
laju radiasi bersih dari permukaan. ε adalah emisivitas (0–1), σ = 5,67 × 10⁻⁸ W/m²·K⁴ adalah konstanta
Stefan–Boltzmann, A luas permukaan, dan suhu harus dinyatakan dalam Kelvin.
Contoh Soal 11 – Radiasi
Permukaan benda dianggap hitam
sempurna (ε = 1), luas 0,5 m², dan suhunya 500 K. Jika lingkungan 300 K,
tentukan laju radiasi bersihnya dengan σ = 5,67 × 10⁻⁸ W/m²·K⁴.
Penyelesaian:
P = σA(T⁴ − T_l⁴)
P = (5,67×10⁻⁸)(0,5)(500⁴ − 300⁴)
P ≈ 1.417,5 W
Jadi, laju radiasi bersihnya
sekitar 1,42 kW.
P. Penerapan
Suhu dan Kalor dalam Kehidupan
Konsep suhu dan
kalor digunakan dalam berbagai kegiatan dan teknologi. Prinsip perpindahan
kalor, perubahan suhu, dan perubahan wujud dapat ditemukan mulai dari kegiatan
rumah tangga hingga sistem industri.

Gambar 8. Contoh penerapan suhu dan kalor.
·
Memasak:
kalor dari api atau elemen pemanas berpindah ke panci dan makanan melalui
konduksi, konveksi, dan radiasi.
·
Termos:
dirancang untuk mengurangi perpindahan kalor melalui kombinasi isolasi, ruang
hampa, dan permukaan reflektif.
·
Pendingin
dan AC: memindahkan energi panas dari ruang atau benda menggunakan siklus
termodinamika.
·
Panel
surya termal: memanfaatkan radiasi Matahari untuk memanaskan air atau fluida.
·
Industri:
pengaturan suhu diperlukan dalam peleburan logam, pengeringan, pengolahan
makanan, dan berbagai proses produksi.
·
Kesehatan:
termometer mengukur suhu tubuh, sedangkan prinsip perpindahan panas digunakan
dalam berbagai alat medis.
·
Bangunan:
bahan isolator digunakan untuk mengurangi perpindahan kalor sehingga ruangan
lebih nyaman dan hemat energi.
·
Cuaca
dan lingkungan: perpindahan kalor melalui radiasi, konveksi, dan konduksi
berperan dalam sirkulasi atmosfer dan perubahan suhu permukaan Bumi.
Rangkuman Rumus
Penting
|
Konsep |
Rumus |
Satuan utama |
|
Fahrenheit |
F =
(9/5)C + 32 |
°F |
|
Celsius
dari Fahrenheit |
C =
(5/9)(F − 32) |
°C |
|
Kelvin |
K = C
+ 273,15 |
K |
|
Reamur |
R =
(4/5)C |
°R |
|
Kalor
sensibel |
Q =
mcΔT |
J |
|
Kalor
jenis |
c =
Q/(mΔT) |
J/kg·K |
|
Kapasitas
kalor |
C =
Q/ΔT = mc |
J/K |
|
Kalor
laten |
Q =
mL |
J |
|
Asas
Black |
Qlepas
= Qterima |
J |
|
Konduksi |
P =
kAΔT/L |
W |
|
Konveksi |
P =
hAΔT |
W |
|
Radiasi
bersih |
P =
εσA(T⁴
− Tl⁴) |
W |
Latihan Mandiri
1. Konversikan 50 °C ke Fahrenheit,
Kelvin, dan Reamur.
2. Suhu suatu benda 68 °F. Tentukan
suhu dalam Celsius dan Kelvin.
3. Sebanyak 1,5 kg air dipanaskan
dari 20 °C menjadi 70 °C. Jika c air = 4.200 J/kg·°C, hitung kalor yang
diperlukan.
4. Sebuah benda bermassa 2 kg
menerima kalor 12.000 J dan mengalami kenaikan suhu 20 °C. Tentukan kalor jenisnya.
5. Sebanyak 0,25 kg es pada titik
leburnya dicairkan. Jika L = 334.000 J/kg, tentukan kalor yang diperlukan.
6. Air panas 0,1 kg pada 90 °C
dicampur dengan air 0,2 kg pada 30 °C dalam wadah terisolasi. Tentukan suhu
akhir.
7. Batang dengan k = 0,8 W/m·K, A =
0,01 m², L = 0,2 m, dan beda suhu 40 K. Hitung laju konduksi.
8. Jelaskan perbedaan konduksi,
konveksi, dan radiasi serta berikan masing-masing satu contoh dalam kehidupan.
BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Suhu merupakan
besaran yang menyatakan keadaan termal suatu benda, sedangkan kalor adalah
energi yang berpindah akibat perbedaan suhu. Suhu dapat dinyatakan menggunakan
skala Celsius, Fahrenheit, Kelvin, dan Reamur dengan hubungan konversi
tertentu.
Kalor yang diterima
atau dilepaskan benda dapat menyebabkan perubahan suhu atau perubahan wujud.
Untuk perubahan suhu berlaku Q = mcΔT, sedangkan untuk perubahan wujud berlaku
Q = mL. Kalor jenis menunjukkan karakteristik bahan dalam menyerap kalor,
sementara kapasitas kalor menunjukkan kemampuan suatu benda secara keseluruhan
untuk menyerap kalor.
Asas Black
menyatakan bahwa dalam sistem terisolasi kalor yang dilepaskan benda panas sama
dengan kalor yang diterima benda dingin sampai tercapai keseimbangan termal.
Prinsip tersebut dapat digunakan untuk menganalisis proses pencampuran benda
dengan suhu berbeda.
Kalor dapat
berpindah melalui konduksi, konveksi, dan radiasi. Konduksi terjadi melalui
interaksi partikel tanpa perpindahan massa secara keseluruhan, konveksi
melibatkan perpindahan massa fluida, sedangkan radiasi berlangsung melalui
gelombang elektromagnetik. Ketiga mekanisme tersebut banyak dijumpai dalam
kehidupan sehari-hari dan teknologi.
B. Saran
Peserta didik
disarankan memahami makna fisik setiap besaran sebelum menggunakan rumus.
Latihan sebaiknya dilakukan dengan langkah diketahui, ditanyakan, rumus,
substitusi, dan kesimpulan. Pengamatan sederhana seperti mengukur suhu air,
membandingkan bahan penghantar panas, atau mengamati arus konveksi dapat
membantu menghubungkan konsep dengan kehidupan nyata.
DAFTAR PUSTAKA
Kementerian Pendidikan,
Kebudayaan, Riset, dan Teknologi Republik Indonesia. (2022). Fisika untuk
SMA/MA Kelas X. Jakarta: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan
Teknologi.
Kementerian Pendidikan dan
Kebudayaan Republik Indonesia. (2019). E-Modul Fisika Kelas X. Direktorat
Pembinaan Sekolah Menengah Atas.
Sari, Mika. (2019). E-Modul
Fisika Kelas X: Besaran Fisika dan Pengukurannya. Direktorat Pembinaan Sekolah
Menengah Atas, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.
Novidawati, Wida. (2019).
E-Modul Fisika Kelas X. Direktorat Pembinaan Sekolah Menengah Atas, Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan.
Halliday, David, Robert Resnick,
& Jearl Walker. (2021). Fundamentals of Physics, 12th Edition. Hoboken, NJ:
John Wiley & Sons.
Serway, Raymond A., & John
W. Jewett. (2019). Physics for Scientists and Engineers, 10th Edition. Boston,
MA: Cengage Learning.
Giancoli, Douglas C. (2014).
Physics: Principles with Applications, 7th Edition. Boston, MA: Pearson.
Young, Hugh D., & Roger A.
Freedman. (2020). University Physics with Modern Physics, 15th Edition. Boston,
MA: Pearson.
Catatan
verifikasi referensi
Bibliografi buku internasional
disesuaikan dengan data penerbit: Wiley mencatat Fundamentals of Physics edisi
ke-12 terbit September 2021; Cengage mencatat Physics for Scientists and
Engineers edisi ke-10 dengan copyright 2019; Pearson mencatat University
Physics with Modern Physics edisi ke-15 terbit 2020; dan Pearson mencatat
Physics: Principles with Applications edisi ke-7 sebagai edisi yang terbit pada
2013/2014 untuk edisi cetak awal, dengan pembaruan digital berikutnya.






.jpeg)

0 komentar:
Posting Komentar